Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT KONSERVASI

Dari Konservasi hingga Ekonomi Sirkular, Begini Transformasi Taman Safari Cisarua Jelang Hari Keanekaragaman Hayati

Kompas.com, 1 Desember 2025, 19:09 WIB
Aningtias Jatmika,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

CISARUA, KOMPAS.com — Di lereng Gunung Pangrango, udara dingin mengalir lembut di antara pepohonan dan menciptakan suasana hening yang khas kawasan Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Di tengah lanskap inilah, Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua berdiri menjadi ruang pertemuan antara alam, satwa, dan manusia.

Jelang Hari Keanekaragaman Hayati yang diperingati setiap 29 Desember, aktivitas di dalam kawasan pun terasa memiliki makna yang lebih besar.

TSI tidak hanya menjadi tempat rekreasi keluarga, tetapi juga representasi nyata bahwa sektor pariwisata dapat menjadi bagian dari upaya melindungi kehidupan.

Direktur Utama TSI Group Aswin Sumampau menegaskan bahwa momen Hari Keanekaragaman Hayati selalu menjadi pengingat arti penting kerja konservasi yang konsisten. Baginya, konservasi adalah kerja jangka panjang, bukan respons sesaat terhadap isu lingkungan.

“Konservasi itu (seperti lari) maraton. Kita membangun kapasitas, data, dan komitmen yang terus berkelanjutan,” ujarnya saat ditemui Kompas.com, Senin (10/11/2025).

Baca juga: Marine Safari Bali, Gerbang Edukasi dan Konservasi Laut Nusantara

TSI Cisarua menjadi lokasi penting untuk menjalankan visi itu. Memiliki luas 263 hektare (ha) dan berbagai spesies yang hidup berdampingan dengan hutan Gunung Gede Pangrango, konservasi dilakukan lewat pendekatan menyeluruh.

Pengunjung tidak hanya mendapatkan edukasi mengenai satwa, tetapi juga diajak memahami cara konservasi dikerjakan di balik layar, mulai dari perawatan medis, pengayaan perilaku, hingga pembiakan satwa langka.

Setiap pengalaman safari pun diarahkan agar pengunjung memiliki kesadaran bahwa keberadaan satwa-satwa ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga bagian dari ekosistem yang harus dijaga keberlanjutannya.

Aswin menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir, TSI Cisarua memperkuat pendekatan science-based conservation. Data satwa didigitalisasi agar pemantauan kesehatan lebih presisi. Tak ketinggalan, fasilitas medis satwa pun dimodernisasi.

Direktur Utama TSI Group Aswin Sumampau Taman Safari Indonesia Direktur Utama TSI Group Aswin Sumampau

Klinik satwa diperbarui menjadi fasilitas yang lebih modern sehingga mampu mendukung tindakan medis kompleks dan pengawasan populasi satwa jangka panjang.

Baca juga: Taman Safari Indonesia Resmikan Enchanting Valley, Wisata Baru di Puncak

“Kami ingin tata kelola satwa lebih efisien dan berbasis data. Monitoring kesehatan, pola makan, dan perilaku satwa kini bisa dilakukan lebih terukur,” kata Aswin.

Transformasi tersebut, lanjutnya, tidak hanya menegaskan posisi TSI sebagai salah satu lembaga konservasi besar di Asia Tenggara, tetapi juga memperkuat nilai edukatif bagi pengunjung.

Pariwisata berkelanjutan yang terintegrasi

General Manager TSI Cisarua Sere Nababan melihat perubahan perilaku wisatawan sebagai momentum penting dalam penguatan konservasi.

Wisatawan, terutama keluarga muda, semakin peduli dengan cara tempat wisata mengelola lingkungan. Mereka penasaran dengan asal pakan satwa, cara pemantau kesehatan satwa, hingga cara memastikan kesejahteraan satwa (animal welfare).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Prabowo Cabut 28 Izin Perusahaan Imbas Banjir Sumatera, Ini Daftarnya
Prabowo Cabut 28 Izin Perusahaan Imbas Banjir Sumatera, Ini Daftarnya
Pemerintah
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
LSM/Figur
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Pemerintah
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Pemerintah
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
BUMN
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Pemerintah
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
LSM/Figur
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Swasta
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
LSM/Figur
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
Pemerintah
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
LSM/Figur
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
LSM/Figur
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
Great Barrier Reef Australia Makin Parah Saat Laut Tenang, Ini Penjelasannya
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau