Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
SOROT KONSERVASI

Dari Konservasi hingga Ekonomi Sirkular, Begini Transformasi Taman Safari Cisarua Jelang Hari Keanekaragaman Hayati

Kompas.com, 1 Desember 2025, 19:09 WIB
Aningtias Jatmika,
Agung Dwi E

Tim Redaksi

Pariwisata merupakan salah satu sektor dengan potensi limbah tinggi. Tanpa sistem yang baik, limbah ini bisa merusak ekosistem sekitar.

Baca juga: Taman Safari Indonesia Hadiahkan Wuling Air EV Lite untuk Pemenang IAPVC 2025

TSI Cisarua menyadari hal ini lebih awal dan membangun fasilitas integrated waste management (IWM) yang dikelola Greenprosa untuk memastikan limbah dikelola sejak dari hulu hingga hilir.

Direktur Utama Greenprosa Arky Gilang Wahab menjelaskan bahwa volume sampah bisa mencapai puluhan ton pada akhir pekan dan libur panjang.

Hampir tiga perempatnya berupa sampah organik, terutama sisa makanan dari restoran dan hotel. Namun, karena suhu kawasan Puncak relatif rendah, proses composting konvensional tidak bisa berjalan optimal.

Untuk mengatasinya, TSI mengembangkan teknologi berbasis maggot black soldier fly (BSF). Dalam proses ini, sampah organik menjadi pakan bagi maggot yang kemudian dipanen menjadi minyak dan tepung bernilai ekonomi tinggi.

“Kami ingin pendekatannya tidak sekadar mengolah sampah, tetapi menciptakan ekonomi sirkular,” kata Arky.

Pendekatan tersebut terbukti efektif. IWM kini tidak hanya menyelesaikan persoalan sampah internal, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat sekitar, mulai dari peternak ikan yang memanfaatkan tepung maggot hingga petani hortikultura yang memakai pupuk organik hasil kompos.

Selain sampah organik, IWM juga mengolah limbah anorganik dan residu. Sampah plastik dipilah untuk didaur ulang, kertas dikumpulkan untuk industri pengolahan ulang, sedangkan limbah residu diproses agar tidak mencemari tanah dan air.

Baca juga: Menteri LH Apresiasi Taman Safari Indonesia: Konservasi Alam Bukan Sekadar Komitmen, tetapi Tindakan

Seluruh sistem dirancang tertutup demi memastikan tidak ada sampah yang bocor ke lingkungan alam sekitar.

Upaya pengelolaan sampah itu kemudian dipadukan dengan visi jangka panjang TSI. Selama satu dekade ke depan, TSI Cisarua menargetkan diri menjadi pusat konservasi terintegrasi terbesar dan paling berpengaruh di Asia.

Visi itu menyatukan lima komponen besar, yakni kesejahteraan satwa kelas dunia, fasilitas pendidikan konservasi modern, riset dan kolaborasi global, ekspansi model konservasi, serta ekosistem wisata edukatif berbasis keberlanjutan.

Beberapa langkah konkret ke arah itu sudah terlihat. TSI berencana memperluas area hijau yang terhubung langsung dengan hutan TNGGP, mengembangkan pusat penelitian biodiversitas, serta menggunakan kendaraan listrik untuk mobilitas pengunjung.

TSI juga berencana mengembangkan aplikasi digital untuk edukasi dan navigasi wisata. Layanan ini memungkinkan pengunjung memahami ekosistem dan jejak lingkungan kunjungan mereka secara langsung.

Baca juga: Harapan Baru Konservasi: Trio Anak Harimau Sumatera Terpotret di Way Kambas

Momen Hari Keanekaragaman Hayati menjadi penanda penting bagi perjalanan tersebut. Setiap tahun, TSI Cisarua menggelar berbagai aktivitas edukasi, mulai dari pameran satwa langka, tur interpretatif, hingga lokakarya konservasi untuk pelajar.

Semua itu dirancang agar masyarakat memahami bahwa menjaga keberagaman hayati bukan hanya tugas lembaga besar, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama.

Aswin menegaskan bahwa keberhasilan konservasi bergantung pada kolaborasi antara pengelola, masyarakat, dan pengunjung.

“Kita semua punya peran. Konservasi (bisa) bekerja jika publik ikut peduli,” tegasnya.

Dengan pendekatan konservasi berbasis sains, sistem pengelolaan sampah terpadu, dan pariwisata yang berdampak nyata, TSI Cisarua menunjukkan bahwa wisata dapat menjadi bagian dari solusi.

Pada momen Hari Keanekaragaman Hayati, pesan “melindungi alam berarti menjaga masa depan kita bersama” pun semakin kuat. 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
Demi Kepastian Investasi, ClientEarth dan CPI Dorong Reformasi Regulasi Energi Terbarukan
LSM/Figur
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Bezos & DiCaprio Kucurkan Rp3,58 Triliun Selamatkan 100 Spesies Langka
Pemerintah
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
Pertama di Dunia, Terminal LPG Tanjung Sekong Pertamina Kantongi Sertifikasi Green Terminal
BUMN
BMKG Optimalkan Pengisian Waduk Hadapi El Niño Kuat, Antisipasi Krisis Air hingga Karhutla
BMKG Optimalkan Pengisian Waduk Hadapi El Niño Kuat, Antisipasi Krisis Air hingga Karhutla
Pemerintah
Mahasiswa KKNT IPB Bantu Perkuat Pengelolaan Perhutanan Sosial di Garut Jawa Barat
Mahasiswa KKNT IPB Bantu Perkuat Pengelolaan Perhutanan Sosial di Garut Jawa Barat
Pemerintah
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
Pelanggan Home Charging PLN Tembus 92.000, Isi Daya EV di Rumah Kian Diminati
BUMN
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Peneliti Usulkan Cara Baru Hitung Emisi Gas Rumah Kaca AI, Seperti Apa?
Pemerintah
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Bappenas Dorong Inovasi Pendanaan untuk Mitigasi El Niño di Tengah Keterbatasan Fiskal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau