Penulis
KOMPAS.com - Bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat, yang ditandai dengan banjir bandang, jembatan putus, kayu gelondongan yang hanyut, dan perubahan aliran sungai, kerap dianggap murni akibat iklim.
Namun, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas (Unand), Prof. Marzuki menyampaikan, peristiwa tersebut tidak murni faktor iklim. Ada faktor lain yang membuat dampaknya jauh lebih parah.
Baca juga:
"Curah hujan tinggi memicu banjir, tetapi kerusakan besar yang terlihat di sungai, jembatan putus, kayu gelondongan hanyut dan perubahan aliran sungai, itu tidak murni faktor iklim. Ada faktor lingkungan yang sudah terganggu," ujar Prof. Marzuki, dilansir dari Antara, Senin (1/12/2025).
Prof. Marzuki menambahkan, sungai punya jalur alami dan arah alirannya sendiri. Ketika jalur itu diganggu aktivitas manusia, bencana akan membesar.
Bencana yang terjadi saat ini termasuk dalam kategori bencana hidrometeorologi, yang mana artinya bencana yang dipicu langsung oleh dinamika atmosfer atau cuaca.
Selain faktor cuaca, kerusakan lingkungan turut memperparah kondisi atau dampak dari bencana hidrometeorologi tersebut.
"Alam itu selalu mencari jalannya. Apa pun yang kita lakukan terhadap alam akan mempengaruhi bagaimana ia mengalir," kata Prof. Marzuki.
Ia mengimbau pemerintah dan pemangku kepentingan harus menata kembali cara mengelola lingkungan.
"Hujan mungkin tidak bisa dikendalikan, tetapi dampaknya bisa dikurangi. Kuncinya ada pada pengelolaan lingkungan," kata dia.
Baca juga:
Sejumlah warga berjalan di antara potongan kayu gelondongan yang bertumpuk di pantai Air Tawar, Padang, Sumatera Barat, Jumat (28/11/2025). Sampah kayu gelondongan itu menumpuk di sepanjang pantai Padang pasca banjir bandang beberapa hari terakhir. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/YUSekretaris Daerah (Sekda) Kota Padang Panjang di Sumatera Barata, Sonny Budaya Putra menuturkan, banjir bandang kali ini berbeda dengan banjir bandang yang terjadi pada Mei 2024 lalu.
Pemerintah daerah bersama pihak terkait akan menyelidiki penyebabnya. Untuk saat ini, fokus mereka adalah pencarian korban, evakuasi, pemenuhan kebutuhan penyintas, serta perawatan korban selamat.
Sementara itu, menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Barat, banjir bandang di Sumatera Barat melanda 34 titik di 13 kabupaten/kota dari Rabu (26/11/2025) hingga Sabtu (29/11/2025).
Beberapa daerah yang paling terdampak, antara lain Kota Padang, Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, dan Kabupaten Padang Pariaman, dilaporkan Kompas.com, Senin (1/12/2025).
Adapun banjir bandang kerap terjadi di provinsi tersebut, tapi banjir bandang kali ini dinilai paling parah.
Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) per Minggu (30/11/2025) malam mencatat, ada 129 orang meninggal dunia dan 118 lainnya dinyatakan masih hilang di Sumatera Barat.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya