Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Industri Manufaktur Sumbang 17 Persen PDB, Kemenperin Kembangkan Industri Hijau

Kompas.com, 2 Desember 2025, 14:35 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan, industri manufaktur menyumbang 17,39 persen produk domestik bruto atau PDB dalam negeri.

Menurut Sekretaris SKJI Kemenperin, Muhammad Taufiq, kontribusi ekspor sektor industri mencapai 167 miliar dollar Amerika Serikat (AS) dari total 209 miliar dollar. Selain itu, menyerap 2 juta atau 13,86 persen tenaga kerja di Indonesia.

Baca juga: 

"Tetapi dengan kontribusi ini juga memberikan kontribusi terhadap emisi gas rumah kaca dan berbagai jenis polutan lainnya. Karena itu, dekarbonisasi industri bukan lagi sebagai pilihan melainkan suatu keharusan untuk bisa memastikan masa depan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif," ujar Taufiq dalam ESG Symposium 2025 yang digelar SCG di Jakarta Selatan, Selasa (2/12/2025).

Kembangkan peta jalan pembangunan industri hijau

Fokus utama supaya industri bisa pangkas emisi

BSKJI Kementerian Perindustrian menyampaikan, industri manufaktur menyumbang 17,39 persen PDB Indonesia. Roadmap industri hijau pun dikembangkan.Shutterstock BSKJI Kementerian Perindustrian menyampaikan, industri manufaktur menyumbang 17,39 persen PDB Indonesia. Roadmap industri hijau pun dikembangkan.

Saat ini, Kemenperin tengah mengembangkan roadmap (peta jalan) pembangunan industri hijau. Taufiq menuturkan, fokus utamanya agar industri dapat memangkas emisi, ataupun limbahnya.

Untuk pilar pertama, Kemenperin menyiapkan kebijakan dan regulasi terkait standarisasi industri hijau.

"Kami juga melakukan penguatan instrumen seperti standar industri hijau, sertifikasi dan pemberian insentif bagi perusahaan yang melakukan efisiensi energi, pemerhatian sumber energi terbarukan dan pengurangan emisi," jelas Taufiq.

Kedua, mendorong penerapan ekonomi sirkular di sektor industri dari mulai desain produk, pemilihan bahan baku, proses produksi, sampai pengelolaan limbah.

Kemenperin turut mengembangkan limbah hasil industri, yang dapat digunakan sebagai bahan baki industri lainnya, serta mendukung proyek dari sampah menjadi listrik (Waste to Energy).

"Kami juga terus menekankan pentingnya dekarbonisasi melalui inovasi teknologi dan efisiensi. Diharapkan dengan adanya efisiensi energi dan pengembangan proses produksi yang rendah karbon, serta pemanfaat teknologi bersih, termasuk energi terbarukan, elektrifikasi proses, dan teknologi digital untuk optimalisasi penggunaan energi dan bahan baku," papar Taufiq.

Baca juga:

BSKJI Kementerian Perindustrian menyampaikan, industri manufaktur menyumbang 17,39 persen PDB Indonesia. Roadmap industri hijau pun dikembangkan.Shutterstock BSKJI Kementerian Perindustrian menyampaikan, industri manufaktur menyumbang 17,39 persen PDB Indonesia. Roadmap industri hijau pun dikembangkan.

Pilar lainnya adalah standarisasi dan infrastruktur mutu untuk mendukung produk dan proses yang lebih hijau.

Hal ini termasuk standar efisiensi energi, keberlanjutan bahan baku, serta pengurangan kandungan bahan berbahaya. Dengan begitu, klaim berkelanjutan dari industri dapat diakui dan membuka pasar global.

"Pilar yang kelima, kami terus membuka atau membangun akses membiayai hijau dan skema insentif. Transformasi industri hijau memperlukan investasi yang tidak sedikit, karena itu kami berupaya memperkuat kerja sama dengan berbagai lembaga keuangan nasional maupun internasional," ucap Taufiq.

Dalam kesempatan itu, Taufiq juga menyoroti pentingnya integrasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) guna memperkuat tata kelola industri nasional.

"Saat ini yang sudah bisa mengikuti roadmap yang pemerintah sudah siapkan antara 30-40 persen (perusahaan). Kami berharap sampai 2050 seluruh industri bisa mengikuti arah kebijakan yang ditetapkan pemerintah," tambah dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke TEI 2026, Catat Transaksi Ekspor Rp 400 Miliar
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau