KOMPAS.com - Total emisi gas rumah kaca dan partikel udara yang disebabkan oleh kebakaran hutan hampir 70 persen lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya. Data Global Fire Emissions Database (GFED) ini dipublikasikan di Scientific Data.
Penghitungan terbaru ini didapat setelah peneliti memetakan lokasi kebakaran hutan dan jumlah emisinya. Selain kebakaran hutan, kebakaran di padang rumput dan di lahan pertanian juga diperhitungkan.
Baca juga:
"Perkiraan emisi kami belum pernah berubah sedramatis ini sebelumnya. Meskipun data kami telah diperbarui sepanjang tahun, perkiraan emisi tahunan kami selalu sekitar 2,0 gigaton karbon, atau sekitar 20 persen dari emisi bahan bakar fosil," kata peneliti utama dari Wagenigen University & Research, Guido van der Werf, dilansir dari Psych, Rabu (3/12/2025).
"Kini angka tersebut hampir 70 persen lebih tinggi, sekitar 3,4 gigaton," tambah dia.
Adapun para peneliti di Wageningen University & Research menemukan hal ini dalam sebuah studi jangka panjang, bekerja sama dengan NASA, BeZero Carbon, dan universitas-universitas Amerika di Maryland dan Irvine, California.
Baca juga:
Total emisi gas rumah kaca dan partikel udara yang disebabkan oleh kebakaran hutan hampir 70 persen lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.Menurut studi tersebut, kasus kebakaran kecil terjadi jauh lebih banyak di seluruh dunia daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Akan tetapi, jumlah kasus kebakaran tak terdeteksi akibat keterbatasan satelit dalam merekam secara memadai sehingga banyak yang tak tercakup dalam data.
Padahal, data satelit sangat penting untuk menentukan ukuran kebakaran dan juga jumlah vegetasi yang hilang.
Sebelumnya, data satelit membagi dunia menjadi blok-blok berukuran 500x500 meter, sedangkan saat ini sebagian berukuran 20x20 meter.
Peneliti pun kemudian menyimpulkan, kebakaran hutan memiliki dampak 70 persen yang lebih tinggi terhadap kualitas udara daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Lebih lanjut, emisi dari kebakaran hutan mewakili porsi relatif kecil dari total kebakaran lanskap, tapi merupakan kategori yang menyebabkan kerusakan terbesar.
Rata-rata, emisi dari kebakaran hutan dalam basis data baru ini tidak jauh lebih tinggi daripada versi sebelumnya. Sebab, kebakaran ini sudah terekam dengan baik oleh data satelit lama.
Namun, para peneliti mengamati bahwa kebakaran hutan menjadi lebih sering dan lebih intens dari waktu ke waktu, sebagian karena perubahan iklim.
Emisi yang lebih tinggi berdampak negatif terhadap kualitas udara. Sederhananya, lebih banyak partikel halus dan jelaga memasuki atmosfer, terutama di daerah yang banyak penduduknya.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya