Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Kebakaran Hutan Global Jauh Lebih Tinggi dari Prediksi

Kompas.com, 3 Desember 2025, 17:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Total emisi gas rumah kaca dan partikel udara yang disebabkan oleh kebakaran hutan hampir 70 persen lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya. Data Global Fire Emissions Database (GFED) ini dipublikasikan di Scientific Data.

Penghitungan terbaru ini didapat setelah peneliti memetakan lokasi kebakaran hutan dan jumlah emisinya. Selain kebakaran hutan, kebakaran di padang rumput dan di lahan pertanian juga diperhitungkan. 

Baca juga: 

"Perkiraan emisi kami belum pernah berubah sedramatis ini sebelumnya. Meskipun data kami telah diperbarui sepanjang tahun, perkiraan emisi tahunan kami selalu sekitar 2,0 gigaton karbon, atau sekitar 20 persen dari emisi bahan bakar fosil," kata peneliti utama dari Wagenigen University & Research, Guido van der Werf, dilansir dari Psych, Rabu (3/12/2025).

"Kini angka tersebut hampir 70 persen lebih tinggi, sekitar 3,4 gigaton," tambah dia. 

Adapun para peneliti di Wageningen University & Research menemukan hal ini dalam sebuah studi jangka panjang, bekerja sama dengan NASA, BeZero Carbon, dan universitas-universitas Amerika di Maryland dan Irvine, California.

Baca juga:

Emisi kebakaran hutan lebih besar dari perkiraan

Kebakaran kecil terjadi lebih banyak dari perkiraan

Total emisi gas rumah kaca dan partikel udara yang disebabkan oleh kebakaran hutan hampir 70 persen lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.pixabay Total emisi gas rumah kaca dan partikel udara yang disebabkan oleh kebakaran hutan hampir 70 persen lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.

Menurut studi tersebut, kasus kebakaran kecil terjadi jauh lebih banyak di seluruh dunia daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Akan tetapi, jumlah kasus kebakaran tak terdeteksi akibat keterbatasan satelit dalam merekam secara memadai sehingga banyak yang tak tercakup dalam data.

Padahal, data satelit sangat penting untuk menentukan ukuran kebakaran dan juga jumlah vegetasi yang hilang.

Sebelumnya, data satelit membagi dunia menjadi blok-blok berukuran 500x500 meter, sedangkan saat ini sebagian berukuran 20x20 meter.

Peneliti pun kemudian menyimpulkan, kebakaran hutan memiliki dampak 70 persen yang lebih tinggi terhadap kualitas udara daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Lebih lanjut, emisi dari kebakaran hutan mewakili porsi relatif kecil dari total kebakaran lanskap, tapi merupakan kategori yang menyebabkan kerusakan terbesar.

Rata-rata, emisi dari kebakaran hutan dalam basis data baru ini tidak jauh lebih tinggi daripada versi sebelumnya. Sebab, kebakaran ini sudah terekam dengan baik oleh data satelit lama.

Namun, para peneliti mengamati bahwa kebakaran hutan menjadi lebih sering dan lebih intens dari waktu ke waktu, sebagian karena perubahan iklim.

Emisi yang lebih tinggi berdampak negatif terhadap kualitas udara. Sederhananya, lebih banyak partikel halus dan jelaga memasuki atmosfer, terutama di daerah yang banyak penduduknya.

Baca juga: 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau