Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dorong Kesejahteraan Masyarakat, IPB University Perkuat Sosialisasi CIBEST ke Berbagai Pesantren

Kompas.com, 9 Desember 2025, 08:07 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - IPB University memperkuat upaya sosialisasi model CIBEST, sebuah pendekatan pengukuran kesejahteraan berbasis ekonomi Islam, ke berbagai pesantren di Indonesia melalui program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam).

Langkah ini menandai satu dekade penggunaan model CIBEST dalam dunia perzakatan dan perwakafan nasional untuk peningkatan taraf ekonomi masyarakat.

Model CIBEST yang dikembangkan oleh Irfan Syauqi Beik, yang saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB dan Laily Dwi Arsyianti, dirancang untuk mengukur kesejahteraan secara lebih komprehensif, mencakup dimensi material dan spiritual.

Baca juga: Dekan FEM IPB Beri Masukan untuk Pembangunan Afrika dengan Manfaatkan Kerja Sama Syariah

Pendekatan ini menjadi pembaruan penting setelah sebelumnya evaluasi zakat lebih banyak berfokus pada aspek administratif dan angka penghimpunan.

Irfan menyampaikan bahwa pemanfaatan model CIBEST secara masif dalam satu dekade terakhir menunjukkan kontribusi nyata kampus dalam menghasilkan instrumen yang digunakan masyarakat luas.

“Model CIBEST kini telah digunakan di dunia zakat dan wakaf. Ini menunjukkan fungsi kampus melahirkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat, termasuk pondok pesantren,” ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (8/12/2025).

Laily Dwi Arsyianti menambahkan bahwa model ini menawarkan alternatif yang lebih lengkap dibanding pendekatan konvensional yang hanya fokus pada aspek material.

“Aspek spiritual penting untuk membangun mentalitas, dan mentalitas itu penting untuk pembangunan,” kata Laily.

IPB menilai bahwa penguatan sosialisasi CIBEST ke pesantren membuka peluang lahirnya ekosistem kesejahteraan berbasis syariah yang lebih adil, komprehensif, dan berkelanjutan.

Model CIBEST diperkenalkan ke publik sejak 2014–2016 dan kini menjadi rujukan lembaga zakat nasional maupun daerah.

Hasil berbagai kajian menunjukkan bahwa zakat produktif mampu menurunkan kemiskinan material maupun kemiskinan absolut ketika diukur dengan model ini. CIBEST juga diadopsi dalam penyusunan Indeks Zakat Nasional (IZN) serta Indeks Wakaf Nasional (IWN).

Secara teknis, model CIBEST membagi keluarga ke dalam empat kuadran berdasarkan garis kemiskinan material dan spiritual mulai dari keluarga sejahtera hingga keluarga yang berada dalam kemiskinan absolut.

Pembagian ini membantu lembaga zakat menilai perubahan kondisi mustahik sebelum dan sesudah intervensi program.

Dalam rangka memperluas dampak model CIBEST, IPB University melakukan sosialisasi ke sejumlah pesantren, termasuk Pondok Pesantren Nurul Hakim di Lombok Barat (2024) dan Pondok Pesantren Al-Ghozali di Sleman (2025).

Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Irfan Syauqi Beik, yang kini menjabat Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University.

Baca juga: Cegah Stunting, IPB Beri Penyuluhan ke Masyarakat di Cirebon

Kehadiran tim CIBEST disambut positif oleh  pengelola pesantren. Mereka menilai model ini memberi perspektif baru dalam memahami persoalan kemiskinan umat serta bagaimana pesantren dapat mengambil peran strategis dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Program Dospulkam sangat inovatif dan menjadi bentuk kontribusi nyata perguruan tinggi kepada masyarakat,” ujar Gus Qoyyum, pengelola Pesantren Al-Ghozali.

Program Dospulkam bertujuan mendiseminasikan berbagai inovasi dosen IPB, termasuk pemanfaatan model CIBEST sebagai alat ukur sekaligus metodologi intervensi sosial.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Lemahnya Etika Sosial Proyek Panas Bumi di Indonesia
Lemahnya Etika Sosial Proyek Panas Bumi di Indonesia
Pemerintah
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Konservasi Terumbu Karang Indonesia Diperkuat Lewat Pendanaan TFCCA
Pemerintah
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Emisi Listrik China dan India Turun, Pertama Kalinya dalam 52 Tahun
Pemerintah
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
UHN Dirikan Sustainabilitas Center of Sustainability Studies, Jawab Tantangan Keberlanjutan
Swasta
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
UNDRR: Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyebaran Virus Nipah di Asia
LSM/Figur
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
Pakar ITB Sebut Longsor Cisarua Dipicu Hujan Ekstrem, Bagaimana dengan Alih Fungsi Lahan?
LSM/Figur
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
AS Resmi Menarik Diri dari Perjanjian iklim Paris
Pemerintah
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
Laut Arktik Makin Berisik Akibat Perubahan Iklim, Satwa Bisa Terganggu
LSM/Figur
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
Populasi Lansia Bisa Pangkas Pengambilan Air Global hingga 31 Persen
LSM/Figur
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
Menteri LH Kaitkan Longsor Cisarua dengan Pola Makan, Pakar ITB Sebut Terlalu Jauh
LSM/Figur
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Sebelum Terbakar Revolusi Biodiesel
Pemerintah
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
Panas Ekstrem Berlipat Ganda pada 2050, Indonesia Bisa Terdampak
LSM/Figur
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemkot Yogya Kumpulkan 27,5 Ton Sampah Organik per Hari lewat Emberisasi
Pemerintah
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Fokus Dana Desa 2026 untuk Atasi Kemiskinan hingga Pembentukan Desa Tangguh Iklim
Pemerintah
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
Perubahan Iklim Picu Penyebaran Amoeba Berbahaya di Air Hangat
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau