Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

BEI Sebut Investasi Berbasis ESG Naik 194 Kali Lipat dalam 1 Dekade Terakhir

Kompas.com, 11 Desember 2025, 16:35 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat produk investasi berbasis Environmental Social Governance (ESG) melonjak dalam satu dekade terakhir.

Kepala Divisi Peraturan dan Layanan Perusahaan Tercatat BEI, Teuku Fahmi Ariandar mengatakan, asset under management (AUM) produk investasi yang semula Rp 36 miliar pada 2015 menjadi Rp 7 triliun per September 2025, atau naik hingga 194 kali lipat. 

Baca juga: 

"Peningkatan ini memperlihatkan respons positif dari pelaku pasar dan menunjukkan meningkatnya referensi dari investor terhadap instrumen investasi yang mempertimbangkan aspek keberlanjutan," kata Teuku dalam Green Economic Outlook 2026 di Jakarta Selatan, Kamis (11/12/2025).

Produk investasi berbasis ESG meningkat

Selain nilai investasi, jumlah produk investasi berbasis ESG seperti Exchange Traded Fund dan Reksa Dana meningkat pesat, dari semula hanya satu produk menjadi 26 produk.

Manajer investasi yang menerbitkan produk keberlanjutan turut naik dari satu menjadi 15 entitas.

Menurut Teuku, peningkatan itu menandakan permintaan yang makin besar terhadap instrumen keuangan tematik, termasuk indeks berbasis keberlanjutan. Emiten yang tergabung dalam indeks ESG pun menunjukkan perbaikan kualitas.

Sementara itu, hampir 90 persen perusahaan, khususnya di sektor teknologi, telah menyampaikan laporan keberlanjutan per Juni 2025.

"Tentu kami juga terus melakukan pengembangan dalam form laporan tersebut agar bisa menjadi lebih transparan dan bisa diperbandingkan dengan laporan keberlanjutan dari kapital market yang lain," tutur Teuku.

"IDX (BEI) terus berusaha untuk memperkuat perannya dalam mendorong investasi keberlanjutan melalui berbagai inisiatif secara terstruktur dan berkesinambungan sebagai upaya untuk menarik lebih banyak lagi kapital inflow ke pasar modal Indonesia," tambah dia.

Baca juga:

Mengembangkan indeks ESG global dan domestik

Menurut BEI, nilai produk investasi yang berbasis ESG naik dari Rp 36 miliar pada 2015 menjadi Rp 7 triliun per September 2025.KOMPAS/RADITYA HELABUMI Menurut BEI, nilai produk investasi yang berbasis ESG naik dari Rp 36 miliar pada 2015 menjadi Rp 7 triliun per September 2025.

Di samping itu, BEI mengembangkan indeks ESG global dan domestik, edukasi terkait aspek keberlanjutan, serta bekerja sama dengan perusahaan lain dalam menyusun rekomendasi standar, seperti Task Force on Climate-Related Financial Disclosures (TCFD).

"Selain itu juga dalam waktu dekat kita nanti akan melihat ada diluncurkannya Green Equity Designation hingga pengembangan platform baru yang berkait dengan keberlanjutan dan mekanisme perdagangan karbon," jelas Teuku.

Saat ini, perusahaan ataupun emiten dapat mengkur, mengamati, serta melaporkan indikator keberlanjutan melalui ESG Matrix Reporting. Platform ini akan menjadi fokus utama investor global.

Teuku memastikan ESG Matrix Reporting disusun dengan mengadopsi regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan diselaraskan dengan standar ASEAN Exchanges.

"Kini perusahaan tercatat dan emiten dituntut untuk melaporkan tujuh matriks lingkungan, 12 matriks sosial, dan sembilan matriks tata kelola. Pengungkapan ini mencakup pelaporan emisi gas rumah kaca hingga berbagai indikator operasional mencerminkan tanggung jawab sosial dan tata kelola," papar dia.

Terakhir, BEI turut menyediakan ESG Disclosure Guidance untuk membantu perusahaan memahami dan melaporkan indikator ESG secara akurat.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Emisi Karbon dari Lempeng Teknonik Picu Perubahan Iklim pada Zaman Purba
Emisi Karbon dari Lempeng Teknonik Picu Perubahan Iklim pada Zaman Purba
LSM/Figur
Laos Larang Warga Bakar Lahan untuk Pertanian, Kualitas Udara Memburuk
Laos Larang Warga Bakar Lahan untuk Pertanian, Kualitas Udara Memburuk
Pemerintah
United Tractors Serahkan Ekskavator untuk Pelatihan Vokasi di Maluku Utara
United Tractors Serahkan Ekskavator untuk Pelatihan Vokasi di Maluku Utara
Swasta
Prabowo Cabut 28 Izin Perusahaan Imbas Banjir Sumatera, Ini Daftarnya
Prabowo Cabut 28 Izin Perusahaan Imbas Banjir Sumatera, Ini Daftarnya
Pemerintah
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
LSM/Figur
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Pemerintah
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Pemerintah
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
BUMN
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Pemerintah
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
LSM/Figur
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Swasta
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
LSM/Figur
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
Pemerintah
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau