Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dorong Keselamatan Kerja, Intiwi Pamerkan Teknologi Las Berbasis VR Manufacturing Indonesia 2025

Kompas.com, 16 Desember 2025, 16:32 WIB
Y A Sasongko,
Sri Noviyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com — Di tengah dorongan menuju industri manufaktur yang lebih berkelanjutan, teknologi pengelasan tidak lagi hanya dinilai dari kekuatan hasil sambungan logam.

Aspek keselamatan kerja, efisiensi proses produksi, serta peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) kini menjadi bagian penting dari praktik industri yang bertanggung jawab.

Hal itu mengemuka dalam ajang Manufacturing Indonesia 2025 yang digelar di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, Jakarta, pada Rabu (3/12/2025) hingga Sabtu (6/12/2025).

Dalam ajang tersebut, sejumlah pelaku industri menghadirkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada produk, tetapi juga pada proses kerja yang aman, presisi, dan minim risiko.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan teknologi simulasi pengelasan berbasis virtual reality (VR) sebagai sarana edukasi. Melalui simulasi ini, proses pembelajaran pengelasan dapat dilakukan tanpa risiko percikan api maupun paparan panas ekstrem.

Baca juga: Studi EY: Mayoritas Perusahaan akan Tingkatkan Anggaran Keselamatan Kerja

Adapun simulasi tersebut dihadirkan PT Intan Sukses Globalindo (ISG) yang dapat dicoba siapa saja, mulai dari mahasiswa teknik, pemula yang baru belajar, hingga welder profesional.

Manager Marketing PT Intan Pertiwi Industri Justin Djaja mengatakan, melalui teknologi tersebut, pengunjung dapat merasakan sensasi mengelas secara aman dan presisi, tanpa risiko percikan api maupun cacat las.

Selain itu, demo kawat las langsung di area booth juga selalu dipadati pengunjung karena memberikan gambaran nyata tentang stabilitas arc, kualitas bead, serta keunggulan elektroda KOBELCO saat digunakan dalam aplikasi pengelasan di industri

Tak tanggung-tanggung, pihaknya pun menghadirkan produk las berkualitas itu yang didatangkan langsung dari Negeri Sakura.

“Ada banyak tipe penetrant Taseto Color Check. Biasanya setelah pengelasan, dengan produk ini bisa terlihat jika ada percikan, cacat, atau indikasi retak yang tidak kasat mata,” ujar Justin dalam rilis pers yang diterima Kompas.com, Selasa (16/12/2025).

Baca juga: Konsisten Gelar Pelatihan K3, PetroChina Fokus pada Keselamatan Kerja

Selain penetrant test, lanjut Justin, ISG juga menghadirkan MIG-56 Solid Wire, produk kawat las MIG yang dirancang untuk aplikasi pengelasan di sektor manufaktur, otomotif, alat berat, hingga fabrikasi umum.

Produk tersebut melengkapi portofolio solusi pengelasan bagi pelanggan yang membutuhkan hasil pengelasan produktif dengan kualitas bead yang konsisten.

Justin menjelaskan bahwa fokus utama pemasaran perusahaan saat ini adalah memenuhi kebutuhan pasar domestik.

“Pemasaran kami spesifik lebih ke domestik, kami tidak melakukan penjualan ke luar negeri. Dari PT Intan Pertiwi Industri (Intiwi) kami menghadirkan produk kawat las SMAW atau elektroda tongkat untuk berbagai aplikasi pengelasan,” imbuh Justin.

Ragam sektor industri

Produk kawat las tersebut digunakan di berbagai sektor industri, mulai dari manufaktur hingga industri berat.

Baca juga: Dirjen Minerba: Kompetisi MERC Jadi Momentum Tingkatkan Keselamatan Kerja

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Hari Ini Ada Hari Lahan Basah Sedunia, PBB Ajak Masyarakat Bergerak
Hari Ini Ada Hari Lahan Basah Sedunia, PBB Ajak Masyarakat Bergerak
Pemerintah
Yayasan Karya Dua Anyam dan BNI Dorong Kemandirian Ekonomi Perempuan Penganyam di NTT
Yayasan Karya Dua Anyam dan BNI Dorong Kemandirian Ekonomi Perempuan Penganyam di NTT
Advertorial
Besok, Bunga Bangkai Raksasa Langka Diprediksi Mekar di Kebun Raya Bogor
Besok, Bunga Bangkai Raksasa Langka Diprediksi Mekar di Kebun Raya Bogor
Pemerintah
Blue Carbon Indonesia: Solusi Iklim atau Ilusi Pasar Hijau?
Blue Carbon Indonesia: Solusi Iklim atau Ilusi Pasar Hijau?
Pemerintah
Beruang Kutub di Norwegia Tetap Gemuk di Tengah Krisis Iklim, Kok Bisa?
Beruang Kutub di Norwegia Tetap Gemuk di Tengah Krisis Iklim, Kok Bisa?
LSM/Figur
Limbah Biofuel Nyamplung Bisa Jadi Pakan Ternak, Turunkan Emisi Metana
Limbah Biofuel Nyamplung Bisa Jadi Pakan Ternak, Turunkan Emisi Metana
LSM/Figur
NASA Geser Jadwal Misi Bulan Artemis 2 akibat Suhu Dingin
NASA Geser Jadwal Misi Bulan Artemis 2 akibat Suhu Dingin
Pemerintah
Lahan Gambut Asia Tenggara Jadi Sumber Emisi Gas Rumah Kaca Signifikan
Lahan Gambut Asia Tenggara Jadi Sumber Emisi Gas Rumah Kaca Signifikan
LSM/Figur
Kapasitas PLTG Dunia Diproyeksikan Melonjak
Kapasitas PLTG Dunia Diproyeksikan Melonjak
LSM/Figur
Indonesia dan AS Sepakati Pengalihan Utang untuk Lindungi Terumbu Karang
Indonesia dan AS Sepakati Pengalihan Utang untuk Lindungi Terumbu Karang
Pemerintah
Avtur Berkelanjutan Diprediksi Melonjak, Pertumbuhan SAF Global Capai 64 Persen per Tahun
Avtur Berkelanjutan Diprediksi Melonjak, Pertumbuhan SAF Global Capai 64 Persen per Tahun
LSM/Figur
Bahan Kimia Abadi PFOA Bisa Sebabkan Gangguan Kehamilan
Bahan Kimia Abadi PFOA Bisa Sebabkan Gangguan Kehamilan
LSM/Figur
Bahaya Nanoplastik di Air, Bakteri Makin Kuat dan Kebal Disinfektan
Bahaya Nanoplastik di Air, Bakteri Makin Kuat dan Kebal Disinfektan
LSM/Figur
Bunga Raksasa Rafflesia Arnoldii Mekar di Bengkulu, Jadi Daya Tarik Wisata
Bunga Raksasa Rafflesia Arnoldii Mekar di Bengkulu, Jadi Daya Tarik Wisata
LSM/Figur
KLH Awasi Aktivitas Kapal Pesiar di Indonesia demi Terumbu Karang
KLH Awasi Aktivitas Kapal Pesiar di Indonesia demi Terumbu Karang
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau