Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hujan Lebat Desember–Januari, PVMBG Ingatkan Siaga Longsor dan Banjir Saat Nataru

Kompas.com, 16 Desember 2025, 14:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kenaikan curah hujan diprediksi terjadi di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara periode Desember 2025 sampai Januari 2026, menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Wilayah yang terdampak khususnya Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Nusa Tenggara Barat (NTB).

Terkait hal itu, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hadi Wijaya mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi puncak musim hujan selama Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Baca juga:

PVMBG telah merekomendasikan tiga langkah dalam kesiapsiagaan menjelang Nataru tersebut. Apa saja?

3 Langkah siap siaga hadapi curah hujan jelang Nataru

1. Penguatan tanah dan pembangunan tembok penahan

Pertama adalah langkah struktural melalui penguatan tanah, serta pembangunan tembok penahan dan drainase lereng.

Meski sangat efektif, langkah tersebut biayanya mahal dan penerapan teknisnya kompleks.

2. Kebijakan dan edukasi

Langkah kedua adalah non-struktural melalui kebijakan dan edukasi. Misalnya, menyusun regulasi tata guna lahan untuk melarang pembangunan di area rawan longsor.

Tidak hanya itu, bisa pula mengedukasi masyarakat dalam menghadapi bencana.

3. Kombinasi tiga pendekatan mitigasi

BMKG prediksi kenaikan curah hujan di Jawa hingga NTT pada Desember 2025–Januari 2026. PVMBG mengingatkan risiko longsor dan banjir saat libur Nataru.Shutterstock/autsawin uttisin BMKG prediksi kenaikan curah hujan di Jawa hingga NTT pada Desember 2025–Januari 2026. PVMBG mengingatkan risiko longsor dan banjir saat libur Nataru.

Langkah selanjutnya adalah kombinasi yang menggabungkan tiga pendekatan mitigasi. 

Pendekatan pertama adalah penghindaran risiko melalui kontrol ketat lahan dengan biaya infrastruktur rendah yang berdampak sosial-ekonomi tinggi, seperti relokasi warga. 

Selanjutnya, pendekatan pengurangan risiko demi keamanan evakuasi melalui kontrol lahan dengan biaya infrastruktur dalam kategori sedang yang menjadi pilihan realistis untuk wilayah padat penduduk.

Terakhir, pendekatan pencegahan risiko melalui kontrol lahan longgar dan mengeluarkan biaya infrastruktur besar agar tetap aman sehingga kurang berdampak secara sosial.

"Tidak ada pendekatan tunggal yang paling tepat, kombinasi strategi disesuaikan kondisi lokal adlaah kunci mitigasi," ujar Hadi dalam webinar, Jumat (12/12/2025).

Baca juga:

Status siaga Jawa Timur

BMKG prediksi kenaikan curah hujan di Jawa hingga NTT pada Desember 2025–Januari 2026. PVMBG mengingatkan risiko longsor dan banjir saat libur Nataru.Dok. ANTARA/Vinny Shoffa Salma BMKG prediksi kenaikan curah hujan di Jawa hingga NTT pada Desember 2025–Januari 2026. PVMBG mengingatkan risiko longsor dan banjir saat libur Nataru.

Tren curah hujan tinggi dapat memicu gerakan tanah. Anomali cuaca dan laut dengan intensitas hujan yang naik telah membuat Jawa Timur berada dalam status siaga tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.

Perubahan suhu muka air laut di perairan Indonesia dan Pasifik mendorong kelembapan atmoster semakin tinggi. Akibatnya, awan hujan terbentuk lebih cepat dan bertambah intens.

Selain itu, peluang hujan ekstrem lokal meningkat dan durasinya akan lebih panjang, yang sering kali menjadi pemicu banjir bandang dan longsor secara tiba-tiba.

Secara klimatologi, Jawa Timur mempunyai dua sisi kerentanan yaitu wilayah pesisir selatan yang terpengaruh siklon tropis dan wilayah di pegunungan tengah-timur yang sangat responsif terhadap hujan. 

Dengan demikian, peta perkiraan gerakan tanah menjadi sangat relevan untuk memperkuat mitigasi berbasis geologi dan tata ruang.

Baca juga: Cuaca Ekstrem di Sumatera Dipicu Anomali Siklon Tropis, Ini Penjelasan Pakar

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Dampak Lingkungan AI Kian Besar, Haruskah Berhenti Menggunakannya?
Pemerintah
Fenomena 'Sticky Floor', Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Fenomena "Sticky Floor", Ketika Perempuan Sulit Naik Jabatan di Dunia Kerja
Swasta
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Bersiap untuk Kelangkaan Air, Korsel Kembangkan Industri Desalinasi
Pemerintah
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pendapatan Nelayan Pantura Menurun, Tekanan Lingkungan dan Biaya Melaut Meningkat
Pemerintah
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Australia Lebih Banyak Danai Kerusakan Alam Daripada untuk Konservasi
Pemerintah
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Konflik AS-Israel Vs Iran Bukti Dunia Rentan Ketergantungan Energi Fosil
Pemerintah
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
Populasi Salmon Chum di Jepang Menurun, Ada Apa?
LSM/Figur
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
4,9 Juta Anak di Dunia Tewas akibat Mal Nutrisi hingga Penyakit Menular
Pemerintah
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
Apa Saja Faktor Pemicu Perubahan Iklim di Asia? Ilmuwan Beri Penjelasan
LSM/Figur
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Emisi Turun Tipis, Jerman Dinilai Kehilangan Momentum Capai Target Iklim
Pemerintah
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Bersiap Hadapi Dampak Konflik Timur Tengah, Korsel Pastikan Stabilnya Pasokan Energi Alternatif
Pemerintah
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak
LSM/Figur
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Jepang Mulai Cari Energi Alternatif akibat Krisis Selat Hormuz
Pemerintah
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
Misteri Ratusan Kura-kura Mati Massal di Kanada, akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah Jajaki Pendanaan dari Perdagangan Karbon untuk Biayai Taman Nasional
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau