Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Akademisi IPB Sebut Hutan Adat Bisa Tekan Emisi Gas Rumah Kaca dan Krisis Iklim

Kompas.com, 18 Desember 2025, 08:35 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Akademisi IPB University, Soeryo Adiwibowo menilai, hutan adat sangat berperan dalam memitigasi krisis iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca (GRK). Saat ini, pemerintah telah menetapkan 169 hutan adat seluas 366.955 hektar.

"Hutan adat memberi kontribusi pada mitigasi klim dan penurunan emisi gas rumah kaca karena laju degradasi laju kehilangan hutan di hutan adat jauh lebih rendah dibanding, mohon maaf, yang dikelola negara dan konsesi industri," ujar Soeryo dalam Lokakarya Nasional di Jakarta Pusat, Rabu (17/12/2025).

Baca juga: 

Soeryo melanjutkan, hutan adat saat ini dipandang sebagai elemen politik penting dalam upaya penurunan emisi.

Di samping itu, Soeryo menjelaskan, secara global peran masyarakat adat dalam mencegah deforestasi juga telah diakui termasuk melalui mekanisme Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+). 

REDD+ merupakan mekanisme internasional di bawah kerangka kerja PBB yang bertujuan mengurangi emisi GRK dari sektor kehutanan.

"Setelah mendapatkan pengakuan, agenda yang terbesar, agenda yang panjang yang harus diperjuangkan adalah memperkuat komunitas adat sebagai suatu lembaga yang juga memperjuangkan kehidupan sosial ekonomi," tutur Soeryo.

Dalam kesempatan itu dia menyampaikan, masyarakat hukum adat dan hutan adat di Indonesia relatif lebih progresif dibandingkan negara lain.

Di Indonesia, hak, kewenangan, dan pemanfaatan hutan adat diberikan langsung kepada masyarakat adat.

Baca juga: 

Kemenhut akan percepat penetapan 1,4 juta hektar hutan adat

Akademisi IPB University menyebut hutan adat punya laju deforestasi rendah dan berperan besar dalam mitigasi krisis iklim dan emisi GRK.Freepik/wirestock Akademisi IPB University menyebut hutan adat punya laju deforestasi rendah dan berperan besar dalam mitigasi krisis iklim dan emisi GRK.

Terkait penetapan hutan adat, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melibatkan kepala keluarga masyarakat hukum adat.

Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Kemenhut, Catur Endah Prasetiani mencatat wilayah kelola masyarakat hukum adat berada di 43 kabupaten dan di 20 provinsi. 

"Secara keseluruhan ada sekitar 88.461 kepala keluarga masyarakat hukum adat," jelas Catur.

Kemenhut bakal mempercepat penetapan 1,4 juta hektar hutan adat sesuai komitmen ketika menghadiri COP30 di Belem, Brasil, beberapa waktu lalu.

Maka dari itu, Lokakarya turut menghadirkan 250 peserta dari kementerian lembaga, LSM (lembaga swadaya masyarakat), sektor swasta, dan 52 ketua masyarakat hukum adat guna menyusun peta jalan penetapan hutan adat.

Kemenhut juga menyerahkan Surat Keputusan (SK) Penetapan Status Hutan Adat Hiva Aset Uheng Kareho kepada Masyarakat Hukum Adat Dayak Punan Uheng Kereho. Hutan adat tersebut memiliki luas 30.700 hektar di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Selain itu, Kemenhut membentuk Satgas Percepatan Penetapan Hutan Adat Nomor 144 Tahun 2025 yang mengedepankan prinsip inklusi dan kolaborasi lintas sektor.

Satgas menargetkan penetapan hutan adat seluas 1,4 juta hektar selama periode 2025-2029, sejalan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 35/PUU-X/2012.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Bumi Catat Rekor Panas Ekstrem Tahun 2025, PBB Ingatkan Dampaknya
Bumi Catat Rekor Panas Ekstrem Tahun 2025, PBB Ingatkan Dampaknya
Pemerintah
Ada Kapal Pesiar Bertenaga Hidrogen Pertama di Dunia, Seperti Apa?
Ada Kapal Pesiar Bertenaga Hidrogen Pertama di Dunia, Seperti Apa?
LSM/Figur
Perusahaan Fesyen Ini Tetapkan Target Berbasis Sains untuk Kurangi Dampak Lingkungan pada Lahan
Perusahaan Fesyen Ini Tetapkan Target Berbasis Sains untuk Kurangi Dampak Lingkungan pada Lahan
Swasta
Industri Pakaian Disebut Terlalu Lamban Kurangi Emisi Karbon
Industri Pakaian Disebut Terlalu Lamban Kurangi Emisi Karbon
LSM/Figur
Hiu di Bahama Positif Mengandung Kokain dan Kafein, Diduga akibat Ulah Manusia
Hiu di Bahama Positif Mengandung Kokain dan Kafein, Diduga akibat Ulah Manusia
LSM/Figur
Teknologi Lapangan Tenis Ramah Lingkungan, Bisa Jadi Penyerap Karbon
Teknologi Lapangan Tenis Ramah Lingkungan, Bisa Jadi Penyerap Karbon
LSM/Figur
Habiskan Waktu di Alam Bantu Jaga Kesehatan Mental Karyawan
Habiskan Waktu di Alam Bantu Jaga Kesehatan Mental Karyawan
LSM/Figur
Kurang Gerak akibat Panas Ekstrem Picu Lonjakan Kematian Dini
Kurang Gerak akibat Panas Ekstrem Picu Lonjakan Kematian Dini
LSM/Figur
Pemerintah Perlu Perkuat Diplomasi Global untuk Hadapi EUDR
Pemerintah Perlu Perkuat Diplomasi Global untuk Hadapi EUDR
Pemerintah
Bahaya Makanan Ultra-Proses UPF, Bisa Pengaruhi Ukuran Embrio
Bahaya Makanan Ultra-Proses UPF, Bisa Pengaruhi Ukuran Embrio
LSM/Figur
Akademisi IPB: Limbah Sawit Potensial jadi Produk Bernilai Tambah
Akademisi IPB: Limbah Sawit Potensial jadi Produk Bernilai Tambah
Pemerintah
Pertamina Perkenalkan Program Hutan Lestari di Sejumlah Daerah
Pertamina Perkenalkan Program Hutan Lestari di Sejumlah Daerah
BUMN
Merawat Sumber Air Kawasi di Pulau Obi demi Keberlanjutan Generasi Mendatang
Merawat Sumber Air Kawasi di Pulau Obi demi Keberlanjutan Generasi Mendatang
Swasta
Rasa Takut Jadi Pendorong Masyarakat Dukung Kebijakan Iklim
Rasa Takut Jadi Pendorong Masyarakat Dukung Kebijakan Iklim
LSM/Figur
WFH ASN 1 Hari Seminggu untuk Efisiensi BBM, Ahli Sebut Bisa Hambat Pelayanan Publik
WFH ASN 1 Hari Seminggu untuk Efisiensi BBM, Ahli Sebut Bisa Hambat Pelayanan Publik
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau