Gelombang panas adalah peristiwa paling mematikan tahun itu. Meskipun sebagian besar kematian akibat panas tidak dilaporkan, sebuah studi memperkirakan bahwa satu gelombang panas musim panas telah menewaskan 24.400 orang di Eropa.
Studi atribusi yang diterbitkan pada tahun 2025 juga menunjukkan bahwa perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia telah mengintensifkan gelombang panas di Sudan Selatan, Burkina Faso, Norwegia, Swedia, Meksiko, Argentina, dan Inggris.
Badai dan siklon tropis menyebabkan kerusakan yang meluas, termasuk beberapa badai di Asia dan Asia Tenggara.
Sementara itu, beberapa wilayah termasuk Afrika tengah, Australia barat, Brasil tengah, Kanada, dan sebagian besar Timur Tengah, mengalami beberapa tahun terkering dalam sejarah, yang memicu kekurangan air, gagal panen, dan peningkatan risiko kebakaran hutan.
Lebih lanjut, cuaca ekstrem secara konsisten berdampak pada komunitas miskin dan terpinggirkan.
"Tahun 2025 menunjukkan kita berada di era baru dengan cuaca ekstrem yang berbahaya. Bukti dampak nyata dan parah dari perubahan iklim lebih jelas dari sebelumnya, dan sangat penting untuk mengambil tindakan untuk menghentikan emisi bahan bakar fosil, dan untuk membantu kelompok yang paling rentan di dunia mempersiapkan diri menghadapi dampak buruk dari cuaca ekstrem yang semakin meningkat," ungkap Theodore Keeping, peneliti di Imperial College London.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya