Dalam studi ini, peneliti menganalisis data dari semua wilayah di seluruh dunia yang memiliki terumbu karang, antara lain Republik Dominika, Panama, Jamaika, Kenya, Mauritania, Oman, Madagaskar, Filipina, dan Indonesia.
Peneliti menggunakan model statistik untuk memperkirakan jumlah ikan saat ini dan potensi hasil dari pemulihan stok ikan di terumbu karang, yang diklasifikasikan sebagai wilayah dengan penangkapan ikan berlebih.
Artinya, peneliti menghitung berapa banyak stok ikan yang perlu tumbuh untuk mencapai "hasil berkelanjutan maksimum" dan "hasil yang cukup baik", serta berapa lama pemulihan tersebut akan berlangsung di bawah berbagai skenario pengelolaan.
Waktu pemulihan ikan akan bergantung pada seberapa parah kondisi stok ikan saat ini. Jika sebuah wilayah sudah sangat kosong akibat overfishing, waktu yang dibutuhkan untuk pulih akan jauh lebih lama.
Baca juga:
Kendati demikian, peneliti menunjukkan rentang waktu pemulihan.
Beberapa spesies ikan kecil yang cepat berkembang biak mungkin butuh waktu enam tahun, sedangkan ekosistem yang sudah hancur parah atau spesies yang tumbuh lambat bisa memakan waktu hingga setengah abad untuk kembali normal.
Lebih lanjut, studi ini memperlihatkan membangun kembali ekosistem terumbu karang bukan hanya tujuan ekologi, melainkan juga menjadi jalan untuk memerangi kelaparan dan meningkatkan gizi.
"Temuan kami juga memperkuat bahwa pemantauan dan pengelolaan perikanan terumbu karang yang efektif memiliki manfaat yang substansial dan terukur di luar konservasi lingkungan, hal itu memiliki implikasi terhadap ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat," jelas Zamborain-Mason.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya