KOMPAS.com - Pemulihan ekosistem terumbu karang, khususnya ikan karang, bisa membantu ketahanan pangan pangan, sekaligus membantu mencegah kekurangan gizi, populasi manusia di bumi.
Hal tersebut berdasarkan studi yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. Studi dilakukan oleh para ilmuwan di Smithsonian Tropical Research Institute (STRI) di Panama, Amerika Serikat, dan kolaborator dari beberapa lembaga.
Baca juga:
"Studi kami mengukur seberapa besar kerugian yang ditimbulkan oleh penangkapan ikan berlebihan pada komunitas ikan karang dan, pada gilirannya, seberapa besar keuntungan yang dapat diperoleh dari pemulihan stok ikan karang dan pengelolaannya pada tingkat yang berkelanjutan," jelas Jessica Zamborain-Mason, profesor di Universitas Sains dan Teknologi Raja Abdullah (KAUST), Jessica Zamborain-Mason, dilansir dari Phys.org, Senin (5/1/2026).
Studi mereka menemukan bahwa memulihkan ekosistem terumbu karang dapat meningkatkan jumlah ikan secara berkelanjutan per tahun, yang mana dapat mendukung kecukupan pangan jutaan orang.
Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa saat ini populasi ikan terumbu karang sangat berkurang.
Akibatnya, ikan yang ada jauh lebih sedikit dan keberlanjutan mereka mengkhawatirkan.
Pemulihan ekosistem terumbu karang, khususnya ikan karang, bisa membantu ketahanan pangan pangan.Studi menunjukkan bahwa terumbu karang di seluruh dunia dapat meningkatkan hasil tangkapan ikan yang berkelanjutan hingga hampir 50 persen, hanya jika populasi ikan dibiarkan pulih.
Pemulihan ini dapat menyediakan tambahan 20.000 hingga 162 juta porsi makanan berkelanjutan, cukup untuk memenuhi asupan makanan laut yang direkomendasikan untuk beberapa juta orang setiap tahunnya.
Di tingkat negara, manfaat terbesar akan dirasakan oleh wilayah-wilayah yang menderita kelaparan dan defisiensi mikronutrien terparah, seperti sebagian wilayah Afrika dan Asia Tenggara.
Indonesia merupakan wilayah dengan potensi terbesar untuk meningkatkan hasil tangkapan sehingga menjadi pemenang dalam hal ketahanan pangan. Tanah Air memiliki wilayah terumbu karang terbesar di dunia.
"Terdapat korelasi positif antara potensi peningkatan jumlah porsi ikan di suatu negara melalui pemulihan stok ikan dengan indeks kelaparan global mereka," ucap ilmuwan staf STRI dan salah satu penulis studi tersebut, Sean Connolly.
"Oleh karena itu, negara-negara dengan indeks malnutrisi yang lebih tinggi dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dari pulihnya stok ikan terumbu karang," tambah dia.
Baca juga:
Pemulihan ekosistem terumbu karang, khususnya ikan karang, bisa membantu ketahanan pangan pangan.Dalam studi ini, peneliti menganalisis data dari semua wilayah di seluruh dunia yang memiliki terumbu karang, antara lain Republik Dominika, Panama, Jamaika, Kenya, Mauritania, Oman, Madagaskar, Filipina, dan Indonesia.
Peneliti menggunakan model statistik untuk memperkirakan jumlah ikan saat ini dan potensi hasil dari pemulihan stok ikan di terumbu karang, yang diklasifikasikan sebagai wilayah dengan penangkapan ikan berlebih.
Artinya, peneliti menghitung berapa banyak stok ikan yang perlu tumbuh untuk mencapai "hasil berkelanjutan maksimum" dan "hasil yang cukup baik", serta berapa lama pemulihan tersebut akan berlangsung di bawah berbagai skenario pengelolaan.
Waktu pemulihan ikan akan bergantung pada seberapa parah kondisi stok ikan saat ini. Jika sebuah wilayah sudah sangat kosong akibat overfishing, waktu yang dibutuhkan untuk pulih akan jauh lebih lama.
Baca juga:
Kendati demikian, peneliti menunjukkan rentang waktu pemulihan.
Beberapa spesies ikan kecil yang cepat berkembang biak mungkin butuh waktu enam tahun, sedangkan ekosistem yang sudah hancur parah atau spesies yang tumbuh lambat bisa memakan waktu hingga setengah abad untuk kembali normal.
Lebih lanjut, studi ini memperlihatkan membangun kembali ekosistem terumbu karang bukan hanya tujuan ekologi, melainkan juga menjadi jalan untuk memerangi kelaparan dan meningkatkan gizi.
"Temuan kami juga memperkuat bahwa pemantauan dan pengelolaan perikanan terumbu karang yang efektif memiliki manfaat yang substansial dan terukur di luar konservasi lingkungan, hal itu memiliki implikasi terhadap ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat," jelas Zamborain-Mason.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya