KOMPAS.com - Mikroplastik melemahkan pertahanan bumi dalam menghadapi krisis iklim, dengan mengurangi kemampuan lautan untuk menyerap karbon dioksida (CO2). Studi terbaru menunjukkan, mikroplastik menganggu lautan dalam menyimpan karbon dan mengatur suhu.
"Lautan adalah penyerap karbon terbesar di planet ini dan mikroplastik merusak perisai alami ini terhadap perubahan iklim. Mengatasi polusi plastik kini menjadi bagian dari perjuangan melawan pemanasan global,” ujar salah satu penuli studi tersebut, Ihsanullah Obaidullah dari University of Sharjah di Uni Emirat Arab (UEA), dilansir dari Independent.co.uk, Rabu (7/1/2026).
Baca juga:
Mikroplastik memengaruhi proses biogeokimia, mengganggu pompa karbon laut, serta berkontribusi langsung terhadap emisi GRK.Mikroplastik sudah menyebar ke setiap sudut bumi, bahkan termasuk di perairan laut dalam, es Arktik, dan tubuh manusia.
Kontribusi mikroplastik terhadap krisis iklim dinilai kurang diperhatikan, meski partikel yang berukuran kurang dari lima milimeter ini sudah terkenal sebagai polusi.
Sebagai permasalahan lingkungan utama di bumi, krisis iklim dan polusi mikroplastik saling bertautan dengan cara yang kompleks.
Mikroplastik memengaruhi proses biogeokimia, mengganggu pompa karbon laut, serta berkontribusi langsung terhadap emisi gas rumah kaca (GRK).
Lautan menyerap sekitar seperempat CO2 yang dilepaskan oleh aktivitas manusia setiap tahun dan memperlambat laju pemanasan global.
Yang terpenting justru proses "pompa karbon biologis"-nya, di mana fitoplankton laut menyerap karbon melalui fotosintesis, lalu mentransfernya ke lapisan laut lebih dalam saat mereka mati atau dimakan.
Mikroplastik mengganggu proses tersebut dengan mengurangi fotosintesis fitoplankton dan merusak metabolisme zooplankton, yang keduanya memainkan peran sentral dalam siklus karbon. Mikroplastik juga melepaskan emisi GRK ketika terurai.
Di sisi lain, studi tersebut juga menggarisbawahi peran "plastisfer" atau komunitas mikroba yang mengkolonisasi partikel plastik di lautan. Imbasnya, bisa memengaruhi siklus karbon dan nitrogen, serta berkontribusi emisi GRK.
Baca juga:
Mikroplastik memengaruhi proses biogeokimia, mengganggu pompa karbon laut, serta berkontribusi langsung terhadap emisi GRK.Obaidullah memperingatkan dampak mikroplastik dapat meningkat seiring waktu.
“Seiring waktu, perubahan ini dapat menyebabkan pemanasan laut, pengasaman, dan hilangnya keanekaragaman hayati, yang mengancam ketahanan pangan dan masyarakat pesisir di seluruh dunia," ucapnya.
Studi tersebut menganalisis literatur ilmiah untuk memetakan bagaimana mikroplastik berinteraksi dengan kesehatan laut dan sistem iklim, serta mengidentifikasi kesenjangan dalam pemahaman saat ini. Apalagi, proses di balik dampak ekologis dari mikroplastik belum dipahami dengan baik.
Kendati menciptakan risiko bagi ekosistem dan stabilitas iklim dalam jangka panjang, kehidupan modern manusia masih sangat bergantung dengan plastik.
Imbasnya, upaya untuk mengurangi produksi plastik tetap lambat dan kerap diperdebatkan.
Mikroplastik memengaruhi proses biogeokimia, mengganggu pompa karbon laut, serta berkontribusi langsung terhadap emisi GRK.Badan-badan PBB telah mengingatkan bahwa 400-430 juta ton plastik diproduksi setiap tahunnya dan sekitar setengahnya untuk barang sekali pakai, seperti kemasan dan sedotan.
Bahkan, kurang dari 10 persen yang didaur ulang, yang kalau dibiarkan tanpa intervensi, produksi plastik global dapat meningkat tiga kali lipat pada tahun 2060.
Mayoritas material yang pernah diproduksi masih ada hingga saat ini karena plastik terurai sangat lambat.
Studi tersebut memperkirakan, lebih dari delapan miliar ton plastik telah diproduksi secara global, dengan sekitar 80 persen berakhir di tempat pembuangan sampah.
Baca juga:
Studi tersebut mendesak badan-badan internasional dan seluruh negara di dunia untuk tidak memperlakukan polusi plastik dan krisis iklim sebagai tantangan yang terpisah.
Studi tersebut mengusulkan agar Sustainable Development Goals (SDGs) PBB lebih mencerminkan risiko yang ditimbulkan oleh mikroplastik. Apalagi, plastik saat ini hanya disematkan pada satu indikator saja.
Studi tersebut menyarankan sejumlah rekomendasi. Pertama, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Kedua, meningkatkan pengelolaan sampah, dan ketiga, mempromosikan alternatif yang dapat terurai secara alami.
Keempat, berinvestasi dalam penelitian untuk lebih memahami bagaimana mikroplastik memengaruhi suhu laut dan siklus karbon.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya