Studi tersebut menemukan bahwa mikroplastik mengganggu sel-sel yang melapisi arteri. Sel endotel, yang membentuk lapisan dalam pembuluh darah dan membantu mengendalikan peradangan dan aliran darah, paling terdampak mikroplastik.
“Karena sel endotel adalah sel pertama yang terpapar mikroplastik yang beredar, disfungsi sel-sel ini dapat memicu peradangan dan pembentukan plak," tutur Zhou.
Percobaan laboratorium juga menunjukan mikroplastik tampak berpendar memasuki plak aterosklerotik dan menumpuk di dalam lapisan endotel.
Hal ini selaras dengan berbagai temuan studi terbaru yang mengidentifikasi mikroplastik di dalam lesi arteri.
Mikroplastik mengaktifkan aktivitas gen yang merusak pada sel endotel yang diambil dari tikus dan manusia.
Paparan mikroplastik memicu gen pro-aterogenik, dengan mendorong pembentukan plak pada kedua spesies, menunjukkan adanya respons biologis yang sama terhadap paparan mikroplastik.
Studi tersebut menguatkan bukti-bukti bahwa mikroplastik tidak sekadar berkolerasi dengan penyakit kardiovaskular, tapi juga berkontribusi secara langsung.
“Efek spesifik jenis kelamin yang mengejutkan, membahayakan laki-laki, tapi tidak perempuan, dapat membantu para peneliti mengungkap faktor atau mekanisme pelindung yang berbeda antara laki-laki dan perempuan," ucapnya.
Baca juga:
Zhou menyarankan penelitian lanjutan untuk memahami mengapa laki-laki tampak lebih rentan terhadap kerusakan arteri yang disebabkan oleh mikroplastik.
Ia dan rekan-rekannya berencana untuk menyelidiki apakah efek spesifik jenis kelamin yang ditemukan dalam kasus tikus juga serupa terjadi pada manusia.
Ia dan rekan-rekan juga ingin menyelidiki bagaimana berbagai jenis atau ukuran mikroplastik memengaruhi sel-sel pembuluh darah.
“Kami juga akan meneliti mekanisme molekuler di balik disfungsi endotel dan mengeksplorasi bagaimana mikroplastik memengaruhi arteri pria dan wanita secara berbeda. Karena polusi mikroplastik terus meningkat di seluruh dunia, pemahaman tentang dampaknya terhadap kesehatan manusia, termasuk penyakit jantung, menjadi lebih mendesak daripada sebelumnya," jelas Zhou.
Sebelumnya, studi terbaru mengungkapkan mikroplastik dapat memicu perubahan berbahaya pada sel pembuluh darah.
Hal itu mengindikasikan peningkatan risiko penyakit jantung akibat paparan partikel plastik dalam kehidupan sehari-hari.
Dilansir dari Medical News Sciences, mikroplastik ditemukan dalam arteri pasien yang menjalani operasi, yang menggambarkan keterkaitan antara polusi plastik dan kondisi, seperti aterosklerosis.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya