Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Nofiyendri Sudiar
Dosen

Kepala Research Center for Climate Change (RCCC) sekaligus Koordinator Penanganan Perubahan Iklim SDGs Center Universitas Negeri Padang.

Tak Ada Deforestasi, tapi Longsor Datang: Ada Apa dengan Sumatera?

Kompas.com, 6 Januari 2026, 12:38 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

BANJIR dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatera belakangan ini, memunculkan satu kalimat yang sering terdengar di tengah masyarakat: “Ini aneh.”

Aneh karena di banyak lokasi, termasuk di kawasan hulu DAS Kuranji Kota Padang, tutupan hutan masih tampak hijau.

Tidak terlihat pembalakan besar, tidak ada deforestasi baru, tapi longsor tetap terjadi secara tiba-tiba dan masif.

Pertanyaannya sederhana, sekaligus menyesatkan: jika tidak ada deforestasi, mengapa longsor bisa terjadi?

Pertanyaan ini lahir dari cara pandang lama yang masih dominan di ruang publik. Kita terbiasa memahami bencana sebagai hubungan sebab-akibat yang langsung dan lokal.

Ada longsor, berarti ada hutan yang rusak di tempat itu. Padahal, sains kebumian dan iklim sudah lama menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi bekerja secara akumulatif, lintas wilayah, dan lintas waktu.

Kajian-kajian hidrologi dan geomorfologi menunjukkan bahwa stabilitas lereng sangat dipengaruhi kondisi regional, bukan hanya tutupan lahan setempat.

Laporan FAO dan CIFOR tentang hutan tropis menegaskan bahwa fragmentasi hutan dan alih fungsi lahan di satu kawasan dapat mengubah keseimbangan hidrologi dan atmosfer hingga ratusan kilometer dari lokasi awal.

Baca juga: Imperialisme AS atas Venezuela: Kutukan Sumber Daya hingga Narasi Narkoterorisme

Di Sumatera, deforestasi dan degradasi hutan telah berlangsung selama puluhan tahun. Data menunjukkan bahwa luas hutan primer terus menyusut akibat konversi menjadi perkebunan, infrastruktur, dan kawasan terbangun.

Dampaknya tidak selalu langsung muncul sebagai longsor di lokasi yang ditebang, tetapi terakumulasi dalam bentuk perubahan siklus air, kelembaban tanah, dan pola hujan regional.

Karena itu, tidak adanya deforestasi di satu DAS bukan berarti wilayah tersebut terlepas dari dampak kerusakan hutan di tempat lain.

Hutan dan perannya dalam sistem iklim

Selama ini, hutan sering dipersempit maknanya sebagai daerah resapan air. Padahal, menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), hutan—terutama hutan primer tropis—merupakan salah satu penyimpan karbon terbesar di daratan.

Hilangnya hutan berarti meningkatnya emisi karbon ke atmosfer dan berkurangnya kemampuan alam menyerap gas rumah kaca.

IPCC dalam Assessment Report terbarunya menegaskan bahwa peningkatan suhu global berbanding lurus dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan ekstrem, khususnya di wilayah tropis.

Udara yang lebih hangat mampu menahan lebih banyak uap air, sehingga ketika hujan turun, volumenya menjadi jauh lebih besar dalam waktu singkat.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau