Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
BANJIR dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Sumatera belakangan ini, memunculkan satu kalimat yang sering terdengar di tengah masyarakat: “Ini aneh.”
Aneh karena di banyak lokasi, termasuk di kawasan hulu DAS Kuranji Kota Padang, tutupan hutan masih tampak hijau.
Tidak terlihat pembalakan besar, tidak ada deforestasi baru, tapi longsor tetap terjadi secara tiba-tiba dan masif.
Pertanyaannya sederhana, sekaligus menyesatkan: jika tidak ada deforestasi, mengapa longsor bisa terjadi?
Pertanyaan ini lahir dari cara pandang lama yang masih dominan di ruang publik. Kita terbiasa memahami bencana sebagai hubungan sebab-akibat yang langsung dan lokal.
Ada longsor, berarti ada hutan yang rusak di tempat itu. Padahal, sains kebumian dan iklim sudah lama menunjukkan bahwa bencana hidrometeorologi bekerja secara akumulatif, lintas wilayah, dan lintas waktu.
Kajian-kajian hidrologi dan geomorfologi menunjukkan bahwa stabilitas lereng sangat dipengaruhi kondisi regional, bukan hanya tutupan lahan setempat.
Laporan FAO dan CIFOR tentang hutan tropis menegaskan bahwa fragmentasi hutan dan alih fungsi lahan di satu kawasan dapat mengubah keseimbangan hidrologi dan atmosfer hingga ratusan kilometer dari lokasi awal.
Baca juga: Imperialisme AS atas Venezuela: Kutukan Sumber Daya hingga Narasi Narkoterorisme
Di Sumatera, deforestasi dan degradasi hutan telah berlangsung selama puluhan tahun. Data menunjukkan bahwa luas hutan primer terus menyusut akibat konversi menjadi perkebunan, infrastruktur, dan kawasan terbangun.
Dampaknya tidak selalu langsung muncul sebagai longsor di lokasi yang ditebang, tetapi terakumulasi dalam bentuk perubahan siklus air, kelembaban tanah, dan pola hujan regional.
Karena itu, tidak adanya deforestasi di satu DAS bukan berarti wilayah tersebut terlepas dari dampak kerusakan hutan di tempat lain.
Selama ini, hutan sering dipersempit maknanya sebagai daerah resapan air. Padahal, menurut Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), hutan—terutama hutan primer tropis—merupakan salah satu penyimpan karbon terbesar di daratan.
Hilangnya hutan berarti meningkatnya emisi karbon ke atmosfer dan berkurangnya kemampuan alam menyerap gas rumah kaca.
IPCC dalam Assessment Report terbarunya menegaskan bahwa peningkatan suhu global berbanding lurus dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas hujan ekstrem, khususnya di wilayah tropis.
Udara yang lebih hangat mampu menahan lebih banyak uap air, sehingga ketika hujan turun, volumenya menjadi jauh lebih besar dalam waktu singkat.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya