Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang

Kompas.com, 9 Januari 2026, 15:00 WIB
Add on Google
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Penulis Jepang, Kyuya Fukada pernah mendokumentasikan juhyo atau "monster salju" di Pegunungan Kitami, Hokkaido, pada Desember 1941.

"Suatu kali saya terkejut melihat juhyo terbentang sejauh mata memandang di sebuah lapangan luas di sisi timur puncak gunung," tulis Fukada dalam bukunya "100 Gunung Jepang", dilansir dari The Asahi Shimbun, Jumat (9/1/2026).

Baca juga:

Bahkan, profesor emeritus geokimia di Universitas Yamagata, Fumitaka Yanagisawa, punya foto tertua tentang juhyo, yang diambil oleh seorang anggota klub pendaki gunung Universitas Keio di pegunungan Zao, pada tahun 1921.

Lantas, apa itu juhyo dan bagaimana kondisinya saat ini? 

Mengenal juhyo, "monster salju" di Jepang

Hanya terbentuk dalam kondisi atmosfer sangat langka

Juhyo atau “monster salju” di Gunung Zao, Jepang, terancam punah akibat krisis iklim dan serangan wabah.Dok. Wikimedia Commons/Raita Futo Juhyo atau “monster salju” di Gunung Zao, Jepang, terancam punah akibat krisis iklim dan serangan wabah.

Juhyo merupakan pohon-pohon cemara yang diselimuti embun beku dan salju tebal sehingga seolah "membengkak". Sepintas memang terlihat seperti "monster salju".

Juhyo hanya terbentuk dalam kondisi atmosfer sangat langka. Juhyo muncul saat spesies cemara Jepang, Aomori todomatsu, diterpa secara terus-menerus oleh angin musim dingin yang membawa tetesan air.

Juhyo di Gunung Zao terbentuk saat angin barat bertiup kencang hingg 25 meter per detik, dengan suhu permukaan antara -6,3 derajat celsius hingga -0,1 derajat celsius.

Embun beku menebal di sisi pohon yang menghadap angin dan punggungannya saling tumpang tindih, membentuk juhyo yang khas dengan formasi berkelompok yang menjulang tinggi.

"Karena kondisi meteorologi dan ekologi yang sangat tepat seperti itu hanya terjadi di sedikit tempat, 'monster salju' (Gunung) Zao adalah fenomena yang hampir unik di Jepang utara," ujar Yanagisawa, dilansir dari BBC. 

Juhyo menjadi daya tarik musim dingin terbesar di Gunung Zao yang terletak di antara Prefektur Yamagata dan Miyagi. Keunikannya mampu menarik puluhan ribu pengunjung ke gunung tersebut setiap tahunnya.

Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa ukuran juhyo semakin rampung, yang mengidentifikasi keajaiban alam unik tersebut berada dalam ambang kepunahan.

Baca juga:

Juhyo di ambang kepunahan

Krisis iklim dan serangan wabah jadi penyebabnya

Dengan menganalisis foto-foto puncak Gunung Zao dari sudut yang sama yang diambil sejak tahun 1933, studi itu mengukur ketebalan formasi juhyo pada skala enam poin.

Temuan yang belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah tersebut menunjukkan meluasnya penyusutan juhyo.

"Pada tahun 1930-an, kita melihat juhyo dengan lebar lima hingga enam meter (16-20 kaki). Pada dekade pasca-perang, lebarnya sering kali dua hingga tiga meter (7-10 kaki). Sejak 2019, banyak yang lebarnya setengah meter (1,6 kaki) atau kurang. Beberapa bahkan hampir tidak menyerupai tiang," jelas Yanagisawa, yang memimpin tim peneliti.

Menurut Yanagisawa, penyusutan juhyo disebabkan menghangatkan bumi dipicu krisis iklim.

Tidak hanya itu, pohon Aomori todomatsu diserang wabah ngengat pada tahun 2013, yang melucuti jarum daunnya.

Kemudian, pada 2015, kumbang kulit kayu menyerang pohon Aomori todomatsu, melubangi batangnya yang melemah.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Blue Carbon' Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
"Blue Carbon" Dinilai Lebih Potensial, Namun Tata Kelola Jadi Tantangan
Swasta
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
PLTS Atap dan Power Wheeling Diusulkan untuk Kejar Target Listrik 100 GW
LSM/Figur
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
Jerat Listrik Ancam Gajah Sumatera, Koridor Habitat Kian Terfragmentasi
LSM/Figur
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Proyek PLTP Lahendong 15 MW Capai Kesepakatan Tarif, Siap Masuk Tahap Pengembangan
Pemerintah
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Perusahaan Harus Jadikan Keberlanjutan Nyawa Bisnis di Tengah Ketidakpastian
Swasta
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
BPDP Kemenkeu Buka Program Hibah Riset Bioenergi hingga Pengolahan Limbah
Pemerintah
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
IEA: Perang AS-Israel VS Iran Akan Ubah Total Sistem Energi Global
Pemerintah
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
India Targetkan Produksi Baja 400 Juta Ton Sambil Pangkas Emisi 25 Persen
Swasta
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Perubahan Iklim Picu Gangguan Produktivitas Karyawan, Kok Bisa?
Pemerintah
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
50 Persen Emisi Gas Rumah Kaca dari Industri, Ancam Kesehatan dan Lingkungan
LSM/Figur
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
Berawal dari Mati Lampu, Siswa MAN 19 Jakarta Sulap Minyak Jelantah Jadi Listrik
LSM/Figur
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Lonjakan EBT Bikin Ekspor China Bertahan Saat Pasokan Energi Terguncang
Pemerintah
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Saat Ibu Bekerja, Anak Perempuan Bisa Bermimpi Lebih Tinggi
Swasta
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
Ecoton Temukan Mikroplastik Dalam Darah dan Sperma Manusia
LSM/Figur
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Karbon Biru, Benteng Ekosistem Maritim Indonesia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau