KOMPAS.com - Program makan bergizi gratis (MBG) menghasilkan dampak positif yang kecil dan persisten terhadap agregrat makro. Khususnya, saat kohort penerima mulai memasuki usia produktif.
Berdasarkan analisis dengan model overlapping generation Indonesia (OG-IDN), manfaat utama program MBG hanya tercermin dari peningkatan kesejahteraan antar generasi, bukan ekspansi output atau faktor produksi secara permanen.
Baca juga: Riset CELIOS Sebut Kasus Keracunan MBG Bisa Capai 22.000 pada 2026 Jika Tak Diperbaiki
Hal itu terungkap dari beberapa temuan dampak pelaksanaan program MBG terhadap indikator makroekonomi.
Pertama, produk domestik bruto (PDB) meningkat moderat dengan puncak sekitar 0,1-0,17 persen pada awal 2040, kemudian menurun bertahap dan berkonvergensi ke nol dalam jangka panjang. Itu mencerminkan peningkatan produktivitas tenaga kerja yang terbentuk secara gradual.
Kedua, stok modal menunjukkan pola serupa, dengan kenaikan awal sekitar 0,15 persen yang mendorong investasi awal. Namun, kenaikan tidak bersifat permanen dan akhirnya kembali ke lintasan kesembangan dalam jangka panjang.
Ketiga, konsumsi menunjukkan pola persisten, dengan kenaikan awal sekitar 0,15 persen dan bertahan positif atau 0,04-0,05 persen hingga jangka panjang.
"Dalam model OG-IDN, ketidaksignifikanan dampak makroekonomi, kan kecil ya 0,15%-an lah. Memang hasil analisis kami menggunakan metode lain ya angkanya (juga) enggak jauh berbeda sebenarnya. Artinya, memang dalam jangka pendek ya bukan alasan cukup untuk menghentikannya (program MBG). Mungkin harus banyak alasan," ujar Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurrahman dalam webinar, Kamis (8/1/2026).
Di dalam konteks ekonomi, kata dia, jangan berharap adanya dampak dari program MBG. Ia menilai, program MBG bukanlah solusi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Apalagi, dalam analisis model OG-IDN di atas, INDEF tidak memasukan pertimbangan permasalahan tata kelola dalam pelaksanaan program MBG.
Analisis model OG-IDN cocok untuk menghitung dampak jangka panjang program MBG. Analisis model OG-IDN dapat memperkirakan dampak pemberian MBG terhadap kohort penerima dengan usia produktif antara 15-25 tahun.
Menurut Rizal, pelaksanaan program MBG perlu disertai dengan stimulus kebijakan yang mendorong produktivitas para penerimanya agar mereka bisa memperoleh upah lebih baik di masa depan.
Jadi, keberhasilan program MBG perlu diikuti dengan perbaikan kondisi ketenagakerjaan yang bersifat struktural. Itu supaya para penerima MBG nantinya dapat terserap dalam 'dunia kerja'.
"Harus dibuka ruang-ruang peningkatan produktivitas bagi generasi yang sudah menjadi sasaran MBG. Tanpa hal itu, maka MBG ini berisiko menjadi transfer konsumtif yang menciptakan beban fiskal antar generasi nantinya," tutur Rizal.
"Jangan sampai program MBG ini justru menjadi beban fiskal antar generasi tanpa ada imbal hasil konteks ekonomi jangka panjang secara memadai,".
Kata dia, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk mengevaluasi pelaksanaan MBG. Ia mengingatkan pemerintah untuk jujur dalam menyikapi berbagai kekurangan pelaksanaan MBG dan memperbaikinya. Pelaksanaan program MBG pada 2026 harus lebih baik, karena yang dianggarkan hampir empat kali lipat dari tahun 2025.
Yang dimaksud kesejahteraan antar generasi dalam hasil analisis OG-IDN adalah manfaat bersih yang dinikmati sepanjang siklus hidup manusia, dibandingkan dengan beban pajak dan peluang ekonomi yang akan mereka hadapi. Jika program MBG berhasil meningkatkan produktivitas generasi penerima manfaatnya, maka kesejahteraan antargenerasi akan tercapai.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya