Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi

Kompas.com, 9 Januari 2026, 13:12 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Program makan bergizi gratis (MBG) menghasilkan dampak positif yang kecil dan persisten terhadap agregrat makro. Khususnya, saat kohort penerima mulai memasuki usia produktif.

Berdasarkan analisis dengan model overlapping generation Indonesia (OG-IDN), manfaat utama program MBG hanya tercermin dari peningkatan kesejahteraan antar generasi, bukan ekspansi output atau faktor produksi secara permanen.

Baca juga: Riset CELIOS Sebut Kasus Keracunan MBG Bisa Capai 22.000 pada 2026 Jika Tak Diperbaiki

Hal itu terungkap dari beberapa temuan dampak pelaksanaan program MBG terhadap indikator makroekonomi.

Pertama, produk domestik bruto (PDB) meningkat moderat dengan puncak sekitar 0,1-0,17 persen pada awal 2040, kemudian menurun bertahap dan berkonvergensi ke nol dalam jangka panjang. Itu mencerminkan peningkatan produktivitas tenaga kerja yang terbentuk secara gradual.

Kedua, stok modal menunjukkan pola serupa, dengan kenaikan awal sekitar 0,15 persen yang mendorong investasi awal. Namun, kenaikan tidak bersifat permanen dan akhirnya kembali ke lintasan kesembangan dalam jangka panjang.

Ketiga, konsumsi menunjukkan pola persisten, dengan kenaikan awal sekitar 0,15 persen dan bertahan positif atau 0,04-0,05 persen hingga jangka panjang.

"Dalam model OG-IDN, ketidaksignifikanan dampak makroekonomi, kan kecil ya 0,15%-an lah. Memang hasil analisis kami menggunakan metode lain ya angkanya (juga) enggak jauh berbeda sebenarnya. Artinya, memang dalam jangka pendek ya bukan alasan cukup untuk menghentikannya (program MBG). Mungkin harus banyak alasan," ujar Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurrahman dalam webinar, Kamis (8/1/2026).

Di dalam konteks ekonomi, kata dia, jangan berharap adanya dampak dari program MBG. Ia menilai, program MBG bukanlah solusi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Apalagi, dalam analisis model OG-IDN di atas, INDEF tidak memasukan pertimbangan permasalahan tata kelola dalam pelaksanaan program MBG.

Analisis model OG-IDN cocok untuk menghitung dampak jangka panjang program MBG. Analisis model OG-IDN dapat memperkirakan dampak pemberian MBG terhadap kohort penerima dengan usia produktif antara 15-25 tahun.

Menurut Rizal, pelaksanaan program MBG perlu disertai dengan stimulus kebijakan yang mendorong produktivitas para penerimanya agar mereka bisa memperoleh upah lebih baik di masa depan.

Jadi, keberhasilan program MBG perlu diikuti dengan perbaikan kondisi ketenagakerjaan yang bersifat struktural. Itu supaya para penerima MBG nantinya dapat terserap dalam 'dunia kerja'.

"Harus dibuka ruang-ruang peningkatan produktivitas bagi generasi yang sudah menjadi sasaran MBG. Tanpa hal itu, maka MBG ini berisiko menjadi transfer konsumtif yang menciptakan beban fiskal antar generasi nantinya," tutur Rizal.

"Jangan sampai program MBG ini justru menjadi beban fiskal antar generasi tanpa ada imbal hasil konteks ekonomi jangka panjang secara memadai,".

Kata dia, pemerintah perlu mempertimbangkan untuk mengevaluasi pelaksanaan MBG. Ia mengingatkan pemerintah untuk jujur dalam menyikapi berbagai kekurangan pelaksanaan MBG dan memperbaikinya. Pelaksanaan program MBG pada 2026 harus lebih baik, karena yang dianggarkan hampir empat kali lipat dari tahun 2025.

Yang dimaksud kesejahteraan antar generasi dalam hasil analisis OG-IDN adalah manfaat bersih yang dinikmati sepanjang siklus hidup manusia, dibandingkan dengan beban pajak dan peluang ekonomi yang akan mereka hadapi. Jika program MBG berhasil meningkatkan produktivitas generasi penerima manfaatnya, maka kesejahteraan antargenerasi akan tercapai.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
LSM/Figur
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
BMKG Prediksi Hujan Lebat Landa Sejumlah Wilayah Sepekan ke Depan
Pemerintah
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi
LSM/Figur
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
Polutan Ganggu Kesehatan Burung Laut, Ini Dampak Merkuri dan PFAS
LSM/Figur
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Krisis Iklim Ancam Juhyo, Fenomena Monster Salju di Jepang
Pemerintah
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
Bahaya Bakar Plastik untuk Rumah Tangga, Ahli Jelaskan Dampaknya
LSM/Figur
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang
Pemerintah
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
325.000 Hektare Perairan Wetar Barat Resmi jadi Kawasan Konservasi
LSM/Figur
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
AS Keluar dari UNFCCC, PBB Ingatkan Dampak Kebijakan Trump
Pemerintah
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
INDEF: Tanpa Perbaikan Ketenagakerjaan, Program MBG Berisiko Jadi Beban Antar-Generasi
LSM/Figur
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
Fenomena Plastik Berminyak di Pantai, Disebut akibat Minyak Tumpah di Laut
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau