Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang

Kompas.com, 9 Januari 2026, 22:10 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kawasan keanekaragaman hayati daratan global termasuk di antara wilayah yang paling penting secara ekologis di Bumi.

Ke-36 kawasan ini, yang hanya menempati 2,5 persen dari permukaan daratan bumi, menampung hampir separuh dari seluruh spesies tumbuhan dan lebih dari sepertiga vertebrata darat.

Baca juga: 

Sayangnya, kondisi kawasan tersebut dinilai memprihatinkan. 

"Alih fungsi lahan merupakan faktor utama yang mendorong degradasi ekosistem di kawasan keanekaragaman hayati daratan, yang mengancam komitmen keberlanjutan global," tulis studi yang dipimpin oleh Prof. Chen Yaning dari Xinjiang Institute of Ecology and Geography of the Chinese Academy of Sciences yang terbit di jurnal Earth's Future, dilansir dari Wiley Online Library, Jumat (9/1/2026).

Alih fungsi lahan di kawasan keanekaragaman hayati

Sebagian besar titik kehilangan lebih dari 85 persen vegetasi asli

Studi mengungkap sebagian besar kawasan keanekaragaman hayati daratan dunia kehilangan lebih dari 85 persen vegetasi aslinya akibat alih fungsi lahan.Pexels/Tom Fisk Studi mengungkap sebagian besar kawasan keanekaragaman hayati daratan dunia kehilangan lebih dari 85 persen vegetasi aslinya akibat alih fungsi lahan.

Sebagian besar titik (hotspots) telah kehilangan lebih dari 85 persen vegetasi aslinya. Tekanan penggunaan lahan oleh manusia di kawasan tersebut juga terus meningkat.

Dengan percepatan perubahan penggunaan lahan secara global, upaya untuk mencapai target nol degradasi lahan bersih di kawasan ini menjadi semakin sulit, dilansir dari Phys.org

Target nol degradasi lahan bersih (zero net land degradation) merupakan target internasional, yang mana kerusakan lahan di suatu tempat harus diimbangi dengan pemulihan di tempat lain sehingga secara total kualitas lahan tidak menurun.

Baca juga:

Para peneliti telah mengevaluasi alih fungsi lahan di titik-titik keanekaragaman hayati daratan global dalam kerangka kebijakan Netralitas Degradasi Lahan (LDN) PBB tahun 2015.

Untuk mengukur dampak dari warisan alih fungsi lahan masa lalu sekaligus dampak dari kebijakan terbaru, para peneliti mengembangkan Pendekatan Keseimbangan Penggunaan Lahan (LUBA).

Dengan menggunakan metode ini, para peneliti mengukur perubahan penggunaan lahan bersih di seluruh titik-titik tersebut dari tahun 1992 hingga 2022.

Peneliti menggunakan periode tahun 2000 hingga 2015 sebagai garis dasar sebelum kebijakan LDN, dan periode 2016 hingga 2022 sebagai masa pemantauan.

Studi mengungkap sebagian besar kawasan keanekaragaman hayati daratan dunia kehilangan lebih dari 85 persen vegetasi aslinya akibat alih fungsi lahan.Unsplash/Vlas Hilitanu Studi mengungkap sebagian besar kawasan keanekaragaman hayati daratan dunia kehilangan lebih dari 85 persen vegetasi aslinya akibat alih fungsi lahan.

Analisis mereka mengungkapkan bahwa penggunaan lahan telah berdampak pada sekitar 9,4 persen titik-titik keanekaragaman hayati daratan global sejak tahun 1992.

Meskipun upaya restorasi dan penghijauan kembali meningkat setelah tahun 2015, upaya tersebut belum cukup untuk mengimbangi degradasi yang terus berlangsung.

Hal ini pada akhirnya mengakibatkan "utang penggunaan lahan" global sebesar 29,1 juta hektar atau sekitar 0,9 persen dari total luas area hotspot.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau