Trump telah melakukan pemotongan besar-besaran terhadap dana penelitian iklim federal dan pengamatan bumi, termasuk program-program yang menyumbangkan data ke jaringan pemantauan internasional.
Para anggota parlemen Amerika Serikat telah menyusun rancangan undang-undang pengeluaran tahun 2026 yang akan menolak pemotongan Trump terhadap NASA dan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional (NOAA). Namun, undang-undang tersebut belum diselesaikan.
Direktur Copernicus Climate Change Service, Carlo Buontempo mengatakan, koordinasi dengan NASA dan NOAA tetap berlanjut, tapi potensi pemotongan dana menjadi risiko yang perlu dipertimbangkan.
Baca juga:
Diketahui, Amerika Serikat merupakan penyumbang keuangan utama untuk program data kelautan internasional. Salah satunya, pelampung robotik bawah air yang berada di peraian selama berhari-hari, lalu muncul kembali ke permukaan untuk mengirimkan informasi ke satelit.
"Jika kita kehilangan pengamatan laut dalam, hal ini akan membuat kita 'buta' selama beberapa tahun," ujar Buontempo.
Sebelumnya, Copernicus Climate Change Service dan Berkeley Earth melaporkan bahwa untuk pertama kalinya, suhu global melebihi 1,5 derajat celsius relatif terhadap masa pra-industri rata-rata selama tiga tahun terakhir.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres memperingatkan para kepala negara di dunia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca secepat mungkin.
Di sisi lain, upaya untuk menahan laju pemanasan global mengalami berbagai kemunduran. Misalnya, di bawah pimpinan Trump, Amerika Serikat keluar dari perjanjian iklim PBB.
Padahal Amerika Serikat merupakan negara penyumbang pemanasan global kedua di dunia setelah China.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya