Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asia Pasifik Diprediksi Makin Panas, Ancaman untuk Kesehatan dan Infrastruktur

Kompas.com, 3 Desember 2025, 20:05 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Panas ekstrem menjadi pendorong utama bahaya terkait iklim yang berkembang paling pesat di Asia Pasifik, menurut laporan Asia-Pacific Disaster Report 2025: Rising Heat, Rising Risk oleh United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP).

Diterbitkan pada Rabu (3/12/2025), laporan ini menunjukkan bahwa kenaikan suhu berdampak pada siapa saja dan di mana saja.

Baca juga:

Hal ini ditambah risiko yang meluas dan meningkat terhadap sistem pangan, kesehatan masyarakat, kehidupan perkotaan, mata pencaharian pedesaan, infrastruktur, dan ekosistem.

"Panas tidak mengenal batas wilayah. Oleh karena itu, respons kebijakan harus mengantisipasi dampak, mengurangi paparan dan kerentanan dalam skala besar, serta melindungi mereka yang paling berisiko," kata Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Sekretaris Eksekutif ESCAP, Armida Salsiah Alisjahbana lewat keterangan resmi, dilansir Rabu (3/12/2025).

"Dengan urgensi, kejelasan, dan kerja sama, kehidupan dan penghidupan di seluruh kawasan dapat dilindungi," tambah dia. 

Baca juga: 

Gelombang panas menelan korban di Asia Pasifik

Panas ekstrem disebut menjadi ancaman iklim paling cepat meningkat di Asia Pasifik. Kota besar seperti Jakarta dan Manila diproyeksikan makin panas.Ingo70/Shutterstock Panas ekstrem disebut menjadi ancaman iklim paling cepat meningkat di Asia Pasifik. Kota besar seperti Jakarta dan Manila diproyeksikan makin panas.

Tahun 2024 merupakan tahun terpanas yang pernah tercatat secara global. Negara-negara Asia Pasifik mengalami episode panas yang parah.

Hal tersebut termasuk gelombang panas di Bangladesh yang berdampak terhadap sekitar 33 juta orang, serta gelombang panas lainnya di India yang menelan 700 jiwa. 

Sementara itu, proyeksi baru dalam laporan tahun 2025 ini menyoroti kembali skala ancaman tersebut.

Menurut ESCAP, pada tahun 2100, kerugian bencana regional dapat meningkat dari 418 miliar dollar Amerika Serikat (AS) berdasarkan skenario saat ini, menjadi 498 miliar dollar AS berdasarkan skenario iklim terburuk.

Baca juga: 

Panas ekstrem jadi ancaman kesehatan di Asia Pasifik

Jakarta diproyeksikan jauh lebih panas

Panas ekstrem akan menjadi ancaman kesehatan kronis di seluruh wilayah Asia Pasifik, terutama di wilayah berpopulasi tinggi seperti Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Kota-kota yang padat bangunan, seperti Seoul, Tokyo, Beijing, Delhi, Karachi, Dhaka, Manila, Jakarta, dan Phnom Penh diproyeksikan akan menjadi jauh lebih panas.

Efek pulau panas perkotaan (urban heat island effect) memperburuk situasi tersebut dengan menambah dua hingga tujuh derajat selsius di atas pemanasan global.

Sementara itu, komunitas rentan, termasuk anak-anak, lansia (lanjut usia), dan pekerja luar ruangan berupah rendah di area padat penduduk, menghadapi risiko terbesar.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Percepat Penuaan
LSM/Figur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Jepara Siap Gelar JIFBW 2026, Pembeli Diajak Kunjungi Perajin Furnitur
Pemerintah
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
Produktivitas Pekerja Indonesia Naik Tiap Tahun, tapi Masih Tertinggal di ASEAN
LSM/Figur
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
Ikan Air Tawar Lebih Tangguh Hadapi Pemanasan Global Dibanding Ikan Laut
LSM/Figur
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Investor Desak Perusahaan Utilitas Asia Perbaiki Alokasi Modal dan Kebijakan Iklim
Swasta
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Peneliti Temukan Cara Daur Ulang Limbah Sarung Tangan Karet
Pemerintah
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Uni Eropa Target Pangkas Emisi Gas Rumah Kaca hingga 90 Persen pada 2040
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau