MALUKU UTARA, KOMPAS.com - United Nations Industrial Development Organization (Organisasi Pengembangan Industri PBB atau UNIDO) menilai, eksploitasi sumber daya alam (SDA) untuk pertumbuhan ekonomi masih menjadi tantangan transisi industri hijau di berbagai negara.
Director Division of Circular Economy and Green Industry UNIDO, Smail Alhilali menuturkan bahwa selama ini pemanfaatan sumber daya alam secara masif terus dilakukan tanpa penyeimbang, di tengah ketersediaannya yang makin terbatas.
Baca juga:
Menurut dia, ekonomi masa depan harus dibangun dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan mulai diimplementasikan saat ini.
"Saya pikir Indonesia adalah salah satu negara pertama yang bergabung dengan konferensi industri hijau UNIDO, dan Indonesia telah mengadopsi peraturan dan undang-undang nasional dalam hal industri hijau," ujar Smail dalam diskusi di Wisma Tsingshan, Maluku Utara, Jumat (16/1/2026).
Kawasan IWIP menggunakan PLTS untuk menyalurkan energi listrik bersih dalam operasional perusahaan. Sementara itu, Managing Director of the Directorate of Technical Cooperation and Sustainable Industrial Development UNIDO, Ciyong Zou menekankan bahwa industri mineral kritis, terutama nikel, berperan dalam transformasi hijau dan digital global.
Sebagai badan khusus PBB yang mendorong pembangunan industri inklusif dan berkelanjutan, UNIDO melihat pentingnya pengembangan sektor ini secara berkelanjutan.
"Karena pentingnya industri ini, kami melihat pembangunan berkelanjutan di sektor ini sangat krusial bagi upaya masyarakat global dalam menangani perubahan iklim dan transformasi digital," tutur Zou.
Adapun dalam kesempatan itu UNIDO menunjuk PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) untuk menjadi percontohan kawasan industri berkelanjutan.
Menurut Zou, perusahaan tersebut telah menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Baca juga:
Truk listrik di IWIP, Kamis (15/1/2026).
"Kini mereka memiliki inisiatif pengembangan bersama untuk ESG, ini sangat mengesankan. UNIDO bangga menjadi mitra kerja sama bagi IWIP dan entitas sektor swasta lainnya di Indonesia, berdasarkan kerja sama teknis kami yang sukses di bidang kawasan industri ramah lingkungan," papar Zou.
Kawasan industri, lanjut dia, menjadi kunci hilirisasi serta transisi hijau di Indonesia.
Zou menuturkan bahwa hal itu berkaitan dengan besarnya potensi mineral kritis di dalam negeri.
"Dalam kasus Indonesia, saya pikir pemerintah Anda menaruh banyak penekanan pada industri hilir karena Anda memiliki mineral kritis yang melimpah. Tetapi Anda ingin nilai tambahnya dibuat di sini di dalam negeri," ucap dia.
Ia menjelaskan, kebijakan hilirisasi memberikan insentif bagi investor membangun baik rantai pasok maupun ekosistem industri, khususnya kendaraan listrik atau battery electric vehicle (BEV).
Pabrik BEV di IWIP, misalnya, tengah dibangun sebagai bagian hilirisasi nikel. Berlokasi di kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pabrik tersebut sudah dibangun sejak Oktober 2024.
"Untuk progres konstruksinya sampai hari ini untuk konstruksi sipil (bangunan) sudah selesai dan proses instalasi mesin. Estimasi masih sesuai rencana awal, per kuartal pertama ini mereka sudah sudah selesai untuk instalasi mesin," kata Project Supervisor PT IWIP, Dodi Pidora kepada Kompas.com, Jumat (16/1/2026).
Kawasan industri juga disebut menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat, sekaligus mendorong penerapan pembangunan berkelanjutan.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya