Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

UNIDO Nilai Eksploitasi Alam Jadi Tantangan Besar Transisi Industri Hijau

Kompas.com, 19 Januari 2026, 11:33 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

MALUKU UTARA, KOMPAS.com - United Nations Industrial Development Organization (Organisasi Pengembangan Industri PBB atau UNIDO) menilai, eksploitasi sumber daya alam (SDA) untuk pertumbuhan ekonomi masih menjadi tantangan transisi industri hijau di berbagai negara.

Director Division of Circular Economy and Green Industry UNIDO, Smail Alhilali menuturkan bahwa selama ini pemanfaatan sumber daya alam secara masif terus dilakukan tanpa penyeimbang, di tengah ketersediaannya yang makin terbatas.

Baca juga: 

Menurut dia, ekonomi masa depan harus dibangun dengan pendekatan yang lebih berkelanjutan dan mulai diimplementasikan saat ini.

"Saya pikir Indonesia adalah salah satu negara pertama yang bergabung dengan konferensi industri hijau UNIDO, dan Indonesia telah mengadopsi peraturan dan undang-undang nasional dalam hal industri hijau," ujar Smail dalam diskusi di Wisma Tsingshan, Maluku Utara, Jumat (16/1/2026).

Eksploitasi alam jadi tantangan transisi industri hijau 

Industri mineral kritis dinilai berperan dalam transformasi hijau

Kawasan IWIP menggunakan PLTS untuk menyalurkan energi listrik bersih dalam operasional perusahaan. KOMPAS.com/ZINTAN Kawasan IWIP menggunakan PLTS untuk menyalurkan energi listrik bersih dalam operasional perusahaan.

Sementara itu, Managing Director of the Directorate of Technical Cooperation and Sustainable Industrial Development UNIDO, Ciyong Zou menekankan bahwa industri mineral kritis, terutama nikel, berperan dalam transformasi hijau dan digital global.

Sebagai badan khusus PBB yang mendorong pembangunan industri inklusif dan berkelanjutan, UNIDO melihat pentingnya pengembangan sektor ini secara berkelanjutan.

"Karena pentingnya industri ini, kami melihat pembangunan berkelanjutan di sektor ini sangat krusial bagi upaya masyarakat global dalam menangani perubahan iklim dan transformasi digital," tutur Zou.

Adapun dalam kesempatan itu UNIDO menunjuk PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) untuk menjadi percontohan kawasan industri berkelanjutan.

Menurut Zou, perusahaan tersebut telah menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Baca juga:

Truk listrik di IWIP, Kamis (15/1/2026). KOMPAS.com/ZINTAN Truk listrik di IWIP, Kamis (15/1/2026).

"Kini mereka memiliki inisiatif pengembangan bersama untuk ESG, ini sangat mengesankan. UNIDO bangga menjadi mitra kerja sama bagi IWIP dan entitas sektor swasta lainnya di Indonesia, berdasarkan kerja sama teknis kami yang sukses di bidang kawasan industri ramah lingkungan," papar Zou.

Kawasan industri, lanjut dia, menjadi kunci hilirisasi serta transisi hijau di Indonesia.
Zou menuturkan bahwa hal itu berkaitan dengan besarnya potensi mineral kritis di dalam negeri.

"Dalam kasus Indonesia, saya pikir pemerintah Anda menaruh banyak penekanan pada industri hilir karena Anda memiliki mineral kritis yang melimpah. Tetapi Anda ingin nilai tambahnya dibuat di sini di dalam negeri," ucap dia.

Ia menjelaskan, kebijakan hilirisasi memberikan insentif bagi investor membangun baik rantai pasok maupun ekosistem industri, khususnya kendaraan listrik atau battery electric vehicle (BEV).

Pabrik BEV di IWIP, misalnya, tengah dibangun sebagai bagian hilirisasi nikel. Berlokasi di kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara, pabrik tersebut sudah dibangun sejak Oktober 2024. 

"Untuk progres konstruksinya sampai hari ini untuk konstruksi sipil (bangunan) sudah selesai dan proses instalasi mesin. Estimasi masih sesuai rencana awal, per kuartal pertama ini mereka sudah sudah selesai untuk instalasi mesin," kata Project Supervisor PT IWIP, Dodi Pidora kepada Kompas.com, Jumat (16/1/2026).

Kawasan industri juga disebut menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat, sekaligus mendorong penerapan pembangunan berkelanjutan.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
LSM/Figur
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
LSM/Figur
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
LSM/Figur
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
LSM/Figur
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Pemerintah
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
LSM/Figur
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
LSM/Figur
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas 'Waste to Energy' Danantara
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas "Waste to Energy" Danantara
Pemerintah
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
LSM/Figur
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
LSM/Figur
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Pemerintah
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau