Banjir telah membuyarkan semua rencana saya, padahal hari itu hari libur yang berharga.
Saya berjalan kaki menerjang banjir, menyusuri jalan dengan tingkat genangan air yang bervariasi.
Di tengah banjir tersebut, warga masih menjalankan aktivitas mereka. Ada seorang laki-laki paruh baya yang membawa pulang jaring berisi ikan tangkapan, anak-anak bermain air genangan, dan beberapa pedagang kaki lima melayani pembeli di tepi jalan.
Tampak pula banjir di beberapa perumahan lain, sejumlah motor yang mogok, dan banyak sampah hanyut terseret banjir.
Selama satu jam perjalanan di kawasan banjir, saya sudah terciprat air genangan saat seorang ibu memacu motornya dengan kencang.
Kaki kanan tak sengaja menginjak minyak sehingga semakin menyulitkan saya untuk berjalan sambil memanggul tas yang berat. Kaki saat itu sudah lelah dan di sela-sela jarinya terasa gatal.
Baca juga:
Anak-anak bermain air di jalanan yang banjir di Kabupaten Bekasi.Setibanya di Kaliabang Tengah, Bekasi Utara, jalanan sudah kering dan genangan hanya ada di area-area tertentu.
Saya mengungsi ke penginapan di Kota Harapan Indah, sekitar tujuh kilometer dari kontrakan, setelah melakukan perjalanan selama lebih dari dua jam.
Mikrotrans, Jaklinko ternyata tidak melintas sama sekali ke jalur arah Taman Harapan Baru.
Ini pertama kalinya bagi saya harus mengungsi akibat banjir. Saat memasuki kawasan yang tidak banjir, kehidupan seolah-olah baik-baik saja sehingga menimbulkan perasaan ganjil.
Jika pengalaman saya mengungsi dari banjir sudah semelelahkan ini, bagaimana dengan pengungsi-pengungsi lain yang kondisinya lebih parah?
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya