Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Skema Padat Karya Tepat Pulihkan Sawah Terdampak Bencana

Kompas.com, 19 Januari 2026, 20:32 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber Antara

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian menilai kebijakan percepatan pemulihan sawah terdampak bencana melalui rehabilitasi lahan dan skema padat karya tepat sebagai instrumen stabilisasi ekonomi dan sosial jangka pendek.

Eliza mengatakan pada situasi pascabencana, petani menghadapi tekanan berlapis yang dapat menghambat keberlanjutan usaha tani, mulai dari rusaknya lahan, hilangnya musim tanam, hingga putusnya pendapatan rumah tangga.

“Dalam situasi pascabencana, petani menghadapi triple shock, yakni kehilangan aset produksi, kehilangan musim tanam dan kehilangan pendapatan,” kata Eliza kepada ANTARA di Jakarta, Senin (19/1/2026).

Baca juga: Cegah Banjir akibat Cuaca Ekstrem, BPBD Jakarta Semai 1,6 Ton NaCl

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menyatakan negara menggaji petani melalui skema padat karya untuk memulihkan sawah yang terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Dalam skema tersebut, petani diharapkan tidak hanya memperbaiki lahan sendiri tetapi juga memperoleh pendapatan harian selama proses rehabilitasi berlangsung demi menjaga produksi pangan nasional dan pendapatan petani terdampak.

Ia menilai skema padat karya bisa menjadi jaring pengaman pendapatan (income smoothing) sambil menunggu lahan kembali produktif, terutama jika rehabilitasi mampu memperpendek jeda tanam dari kehilangan satu musim menjadi hanya mundur beberapa pekan.

Eliza menyebut percepatan rehabilitasi berpotensi memberi dampak lebih signifikan terhadap produksi dibanding bantuan tunai semata karena menjaga ritme musim tanam berikutnya dan menahan tekanan pasokan pangan.

Menurut dia, apabila jeda tanam bisa dipangkas, dampaknya terhadap produksi akan lebih besar sehingga dapat mengurangi kebutuhan intervensi lain yang lebih mahal, seperti impor atau operasi pasar dengan biaya logistik tinggi.

Ia menilai luasan pemulihan sekitar 98.000 hektare masih relatif terbatas dalam skala nasional, namun dapat sangat signifikan secara regional di Sumatera jika lahan terdampak terkonsentrasi pada sentra produksi di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

“Tanpa pemulihan cepat, daerah terdampak berpotensi menjadi kantong inflasi pangan regional yang kemudian menular ke wilayah lainnya,” ujarnya.

Meski demikian, Eliza menekankan kebijakan tersebut bukan instrumen peningkatan kesejahteraan jangka menengah, melainkan respons krisis, sehingga perlu strategi lanjutan untuk mengurangi scarring effect bencana terhadap penghidupan petani.

Ia menilai rehabilitasi sawah harus disertai pembenahan tata kelola air dan penguatan infrastruktur permanen, seperti peningkatan kapasitas drainase serta integrasi fungsi irigasi dengan pengendalian banjir.

Ia juga menekankan rehabilitasi akan kurang efektif jika tidak disertai perbaikan fungsi hutan di hulu, normalisasi sungai, serta pengendalian alih fungsi lahan agar siklus banjir berulang tidak terus merusak lahan pertanian.

Selain itu, ia menilai adaptasi teknologi perlu didorong melalui penggunaan varietas padi unggul yang lebih resilien terhadap cuaca ekstrem, berumur pendek, produktivitas tinggi, serta pola tanam yang lebih fleksibel berbasis prakiraan iklim.

Pemulihan Secara Paralel

Senada, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti menilai pemulihan sawah dapat dilakukan paralel, namun pemerintah perlu memprioritaskan pembenahan infrastruktur publik agar pemulihan sosial-ekonomi warga berjalan lebih aman dan berkelanjutan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau