Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bayi Gorila Kembar Lahir di TN Kongo

Kompas.com, 19 Januari 2026, 21:22 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bayi kembar gorila gunung ditemukan di lahan terbuka Taman Nasional (TN) Virunga, bagian timur Republik Demokratik Kongo.

Saat itu, sang induk gorila bernama Mafuko ditemukan Kepala Pemantauan Gorila di Taman Nasional Virunga, Jacques Katutu, tengah memeluk kedua bayi kembarnya pada awal Januari 2026 lalu.

Baca juga: Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi

“Melihat Mafuko menggendong dua bayi sungguh mengharukan sekaligus membuat saya merasa bertanggung jawab, mengingat kerentanan ekstrem yang dialami si kembar,” ujar Katutu dilansir dari The Guardian, Senin (19/1/2026).

Katutu sudah 15 tahun bekerja sebagai petugas pemantau gorila di taman nasional itu. Dia mengaku sangat tersentuh ketika melihat Mafuko menggendong bayi berjenis kelamin jantan tersebut.

Baca juga:

Gorila kembar lahir di Kongo

Harapan untuk ekosistem yang rentan

Katutu menuturkan, kelahiran bayi kembar pada gorila gunung sangat jarang terjadi di tengah rentannya ekosistem satwa dillindungi ini.

“Kami berhati-hati dan waspada, sambil tetap menjaga harapan. Empat minggu pertama adalah yang paling kritis," ucap dia.

Katutu memastikan bahwa induk dan bayi gorila dipantau setiap harinya oleh dokter spesialis hewan. Dia mencatat, kedua bayi gorila dalam kondisi sehat.

Namun, subspesies gorila ini memiliki tingkat risiko kematian yang tinggi saat bayi, dengan seperempat di antaranya mati karena penyakit, trauma, atau dibunuh.

“Mafuko adalah seorang ibu yang berpengalaman. Dia mengandung kedua bayinya dan memperhatikan kebutuhan mereka. Ini menggembirakan, meskipun situasinya masih rapuh,” jelas Katutu.

Sebelumnya, Mafuko sempat melahirkan anak kembar pada 2016 silam, tapi keduanya tidak bertahan hidup. Katutu meyebut, bayi gorila jantan tersebut termasuk keluarga Bageni, kelompok gorila gunung terbesar di Virunga yang saat ini memiliki 59 anggota.

Kelahiran mereka dinilai sebagai tonggak sejarah lain dalam salah satu kisah sukses konservasi terbesar abad lalu.

Baca juga:

Ancaman populasi gorila

Bayi kembar lahir dari indukan gorila gunung bernama Mafuko di Taman Nasional Virunga, Republik Demokratik Kongo. Mira Meijer Burgers' Zoo via WIKIMEDIA COMMONS Bayi kembar lahir dari indukan gorila gunung bernama Mafuko di Taman Nasional Virunga, Republik Demokratik Kongo.

Di sisi lain, Pegunungan Virunga menjadi salah satu tempat paling berbahaya di dunia bagi para penjaga hutan. Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 220 penjaga hutan tewas di taman tersebut akibat kelompok pemberontak seperti M23 dan milisi lainnya hingga bandit yang tak mendapat sanksi pidana.

Pada tahun 1970-an, hanya tersisa sekitar 250 ekor gorila gunung, terbagi antara dua wilayah terpencil di barat daya Uganda dan pegunungan Virunga, dan banyak yang mengira hewan-hewan tersebut menghadapi kepunahan.

Konservasionis menyebutkan, jumlah populasi gorila gunung tercatat lebih dari 1.000 individu pada 2018. Spesies gorila itu saat ini ditetapkan sebagai hewan terancam punah oleh otoritas konservasi.

Baca juga: Pergerakan Manusia Melampaui Total Migrasi Satwa Liar, Apa Dampaknya?

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
IEA: Permintaan Global Baterai Litium-Ion Melonjak Tajam
Pemerintah
Ketika Fenomena 'Overwork' Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
Ketika Fenomena "Overwork" Dirasakan Banyak Para Pekerja Muda...
LSM/Figur
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Krisis Finansial Global Bisa Muncul Akibat Pemerintah Abai Risiko Iklim
Pemerintah
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
81 Persen Perusahaan di Indonesia Sulit Dapat Kandidat Sesuai Kebutuhan
Swasta
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Atasi Krisis Pangan Global, Sistem Agrifood Perlu Perubahan Total
Pemerintah
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Bandara Heathrow Targetkan Pemakaian Avtur Berkelanjutan 5,6 Persen pada 2026
Pemerintah
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
Selandia Baru Ungkap Besarnya Potensi Panas Bumi di Sulawesi Utara
BUMN
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
Kisah Faris Budiman, Kampanyekan Kesehatan Anak lewat Karya Animasi
LSM/Figur
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
BMKG: Cuaca Ekstrem Diprediksi Terjadi hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
Ahli Jelaskan Solusi Pencemaran Pestisida di Sungai Cisadane, Pakai Eceng Gondok?
LSM/Figur
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
2 Nuri Maluku Diamankan dari Kapal di Banda, BKSDA Perketat Pengawasan Jalur Laut
Pemerintah
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
Daur Ulang Plastik Fleksibel Terkendala Biaya dan Regulasi
LSM/Figur
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Berdayakan Pekerja Sektor Informal Persampahan, Coca-Cola Indonesia gandeng Mahija
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau