KOMPAS.com - Bayi kembar gorila gunung ditemukan di lahan terbuka Taman Nasional (TN) Virunga, bagian timur Republik Demokratik Kongo.
Saat itu, sang induk gorila bernama Mafuko ditemukan Kepala Pemantauan Gorila di Taman Nasional Virunga, Jacques Katutu, tengah memeluk kedua bayi kembarnya pada awal Januari 2026 lalu.
Baca juga: Cerita Satrio Wiratama, Bayi Panda Pertama di Indonesia yang Jadi Simbol Diplomasi
“Melihat Mafuko menggendong dua bayi sungguh mengharukan sekaligus membuat saya merasa bertanggung jawab, mengingat kerentanan ekstrem yang dialami si kembar,” ujar Katutu dilansir dari The Guardian, Senin (19/1/2026).
Katutu sudah 15 tahun bekerja sebagai petugas pemantau gorila di taman nasional itu. Dia mengaku sangat tersentuh ketika melihat Mafuko menggendong bayi berjenis kelamin jantan tersebut.
Baca juga:
Katutu menuturkan, kelahiran bayi kembar pada gorila gunung sangat jarang terjadi di tengah rentannya ekosistem satwa dillindungi ini.
“Kami berhati-hati dan waspada, sambil tetap menjaga harapan. Empat minggu pertama adalah yang paling kritis," ucap dia.
Katutu memastikan bahwa induk dan bayi gorila dipantau setiap harinya oleh dokter spesialis hewan. Dia mencatat, kedua bayi gorila dalam kondisi sehat.
Namun, subspesies gorila ini memiliki tingkat risiko kematian yang tinggi saat bayi, dengan seperempat di antaranya mati karena penyakit, trauma, atau dibunuh.
“Mafuko adalah seorang ibu yang berpengalaman. Dia mengandung kedua bayinya dan memperhatikan kebutuhan mereka. Ini menggembirakan, meskipun situasinya masih rapuh,” jelas Katutu.
Sebelumnya, Mafuko sempat melahirkan anak kembar pada 2016 silam, tapi keduanya tidak bertahan hidup. Katutu meyebut, bayi gorila jantan tersebut termasuk keluarga Bageni, kelompok gorila gunung terbesar di Virunga yang saat ini memiliki 59 anggota.
Kelahiran mereka dinilai sebagai tonggak sejarah lain dalam salah satu kisah sukses konservasi terbesar abad lalu.
Baca juga:
Bayi kembar lahir dari indukan gorila gunung bernama Mafuko di Taman Nasional Virunga, Republik Demokratik Kongo. Di sisi lain, Pegunungan Virunga menjadi salah satu tempat paling berbahaya di dunia bagi para penjaga hutan. Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 220 penjaga hutan tewas di taman tersebut akibat kelompok pemberontak seperti M23 dan milisi lainnya hingga bandit yang tak mendapat sanksi pidana.
Pada tahun 1970-an, hanya tersisa sekitar 250 ekor gorila gunung, terbagi antara dua wilayah terpencil di barat daya Uganda dan pegunungan Virunga, dan banyak yang mengira hewan-hewan tersebut menghadapi kepunahan.
Konservasionis menyebutkan, jumlah populasi gorila gunung tercatat lebih dari 1.000 individu pada 2018. Spesies gorila itu saat ini ditetapkan sebagai hewan terancam punah oleh otoritas konservasi.
Baca juga: Pergerakan Manusia Melampaui Total Migrasi Satwa Liar, Apa Dampaknya?
Menurut mereka, Mafuko adalah contoh ketahanan spesies gorila. Ibunya dibunuh seseorang ketika ia berusia empat tahun. Mafuko kemudian melahirkan beberapa anak, termasuk bayi-bayi yang baru lahir saat ini.
“Kami memantau si kembar dan ibunya secara ketat, mengamati proses menyusui dan kesehatan bayi secara keseluruhan. Membiarkannya merawat bayinya secara alami dan meminimalisasi intervensi adalah prioritas utama," papar Katutu.
Ia menyampaikan bahwa kedua bayi Mafuku tidak akan diberi nama hingga kondisi kesehatan mereka lebih stabil. Pengamatan awal, lanjut Katutu, menunjukkan bayi kembar gorila tenang dan menjaga kontak yang baik dengan sang induk.
"Perilaku mereka layaknya bayi baru lahir yang dalam kondisi baik, meskipun tetap sangat rentan,” papar dia.
Adapun Pusat Senkwekwe di Taman Nasional Virunga adalah satu-satunya fasilitas di dunia yang merawat gorila gunung tanpa induk. Gorila gunung memiliki pola makan yang sangat spesifik yang terdiri dari 142 jenis buah, daun, batang, akar, dan pucuk berbeda.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya