Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perubahan Iklim Picu Lonjakan Sambaran Petir

Kompas.com, 19 Januari 2026, 21:53 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Fenomena perubahan iklim global turut memengaruhi kondisi atmosfer, dan berkontribusi besar terhadap lonjakan sambaran petir di suatu wilayah.

Kepala Stasiun Geofisika Mataram Sumawan menyatakan perubahan iklim adalah faktor penyebab dominan atas peningkatan intensitas sambaran petir.

"Sedangkan kondisi angin sesaat dan aktivitas siklon hanya bersifat mikro," ujarnya sebagaimana dikutip dari Antara, Senin (19/1/2026).

Baca juga: Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain

Jejak aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas rumah kaca telah memmengaruhi pola El Nino-Southern Oscillation (ENSO), sehingga peristiwa La Nina dan El Nino menjadi lebih kuat dan sering terjadi.

Hujan yang terus menerus turun hampir sepanjang tahun memicu aktivitas pembentukan awan kumulonimbus yang berperan sebagai sumber pemasok energi petir.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat ada lonjakan jumlah sambaran petir di Nusa Tenggara Barat (NTB) selama periode La Nina atau musim kemarau basah yang berlangsung pada 2024 dan 2025.

Khusus di NTB, total sambaran petir di provinsi ini tercatat sebanyak 2,63 juta kali pada 2024 dan mencapai 1,15 juta kali pada 2025. Daerah yang mengalami sambaran petir paling banyak adalah Kabupaten Sumbawa dengan jumlah mencapai 1,64 juta kali dan 705.145 kali pada periode dua tahun berturut tersebut.

Namun, ketika El Nino berlangsung yang menyebabkan musim kemarau cenderung lebih panjang, intensitas petir justru menurun akibat kondisi langit yang bersih dari awan.

"Kalau ada hujan berarti ada awan kumulonimbus. Setiap muncul kumulonimbus selalu ada aktivitas petir," kata Sumawan.

Tidak Disadari

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa sambaran petir, terutama jenis petir awan ke awan sering kali tidak disadari masyarakat, karena tidak selalu terlihat secara kasat mata.

BMKG memiliki peralatan pengamatan petir yang dapat mendeteksi aktivitas sambaran petir setiap kali terbentuk gumpalan awan kumulonimbus.

Baca juga: Lahan Gambut Dunia jadi Garis Depan Lawan Perubahan Iklim

"Saat ini kami memiliki empat alat pengamatan petir di NTB, yakni di kantor Stasiun Geofisika Mataram, kantor Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid, Bandara Sumbawa, dan Bandara Bima," kata Sumawan.

BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu meningkatkan kewaspadaan, terutama saat terjadi hujan yang disertai awan tebal dan gelap, karena kondisi tersebut berpotensi memicu sambaran petir.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of
Baca tentang


Terkini Lainnya
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Harga BBM Melonjak, Pemerintah Australia Didesak Gunakan Bus Listrik
Pemerintah
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pupuk Indonesia Jajaki Pembangunan Pabrik Metanol
Pemerintah
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Pemerintah
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Implementasikan Program Keberlanjutan, FIF Group Resmikan DSA Ketiga
Swasta
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
DLH DKI Tutup Permanen TPS Liar di Sejumlah Titik
Pemerintah
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Spons Cuci Melepaskan Jutaan Partikel Mikroplastik ke Saluran Air
Pemerintah
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Nestlé dan ILO Luncurkan Proyek Perlindungan Pekerja di Rantai Pasok Kopi
Swasta
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
ASEAN Sepakat Lakukan Percepatan Pengendalian Spesies Invasif lewat AIM-ASEAN
Pemerintah
Potensi Bioetanol Limbah  Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
Potensi Bioetanol Limbah Sawit Capai 1,2 Juta Kiloliter Per tahun, Bisa untuk Bensin dan Bioavtur
LSM/Figur
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Kemenhut-AFoCO Pacu Pengembangan Proyek Karbon dan Perhutanan Sosial
Pemerintah
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Peneliti Sebut Ekowisata Tak Mampu Atasi Emisi Karbon Industri Pariwisata
Pemerintah
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
Ilmuwan China Temukan Cara Produksi BBM dari Emisi Karbondioksida
LSM/Figur
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Limbah Panel Surya Bekas di Australia Mulai Menggunung
Pemerintah
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Pembiayaan Berkelanjutan Maybank Indonesia Tumbuh 92,9 Persen pada 2025
Swasta
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
BRIN-WRI Dorong Pemulihan Pascabanjir Sumatera Berbasis Komunitas
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau