KOMPAS.com - Dunia disebut hampir melampaui ambang batas suhu 1,5 derajat celsius, dari yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Paris.
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres menuturkan, pemerintah saat ini harus beralih dari sekedar mencegah emisi menjadi aktif, menjadi mencegah dan membalikkan untuk menurunkan suhu yang sudah terlanjur panas.
Baca juga:
Berbicara di Majelis Umum PBB di New York, Amerika Serikat, Kamis (15/1/2026), Guterres menambahkan, percepatan perubahan iklim ini dapat memicu ketidakstabilan global, ketidaksetaraan, dan konflik.
"Dunia yang dilanda kekacauan iklim tidak mungkin menjadi dunia yang damai," kata Guterres, dikutip dari Edie, Jumat (16/1/2026).
Sekjen PBB menyebut dunia hampir melampaui suhu 1,5 derajat celsius. Krisis iklim dinilai bisa memicu konflik dan ketidakstabilan.Guterres mengatakan, pemerintah telah kehilangan kesempatan untuk menjaga pemanasan global di bawah ambang batas 1,5 derajat celsius. Artinya, tujuan global saat ini harus membatasi kerusakan dan menurunkan suhu dunia kembali.
"Peningkatan suhu kini tidak tak terhindarkan tetapi bukan berarti tidak dapat diubah," ucap dia.
Data iklim baru menunjukkan bahwa bumi sudah mengalami panas yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Menurut Layanan Perubahan Iklim Copernicus (Copernicus Climate Change Service atau C3S) Uni Eropa, tiga tahun terakhir yakni 2024, 2023, dan 2025 adalah tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat secara global.
Suhu rata-rata global selama periode tersebut lebih dari 1,5 derajat celisus di atas tingkat pra-industri (1850–1900), menandai pertama kalinya rentang waktu tiga tahun melampaui ambang batas tersebut.
Para ilmuwan Copernicus mengatakan, panas ini didorong oleh penumpukan gas rumah kaca (GRK) yang terus berlanjut dari emisi yang sedang berlangsung dan melemahnya penyerap karbon alami seperti hutan.
Panas terjadi juga karena kombinasi dengan suhu permukaan laut yang sangat tinggi terkait dengan El Nino dan variabilitas laut lainnya yang diperkuat oleh iklim.
Dengan laju saat ini, batas 1,5 derajat celsius dalam Perjanjian Paris dapat dilanggar secara permanen pada akhir dekade ini, satu dekade lebih cepat dari yang diperkirakan ketika kesepakatan itu ditandatangani pada 2015.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya