Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mikroplastik Ditemukan di Satu-satunya Serangga di Antartika

Kompas.com, 20 Januari 2026, 10:46 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Mikroplastik ditemukan di satu-satunya serangga yang hidup di Antartika yaitu Belgica antarctica, menurut peneliti dari University of Kentucky Martin-Gatton College of Agriculture, Food and Environment. Belgica antarctica adalah lalat kecil yang tidak menggigit, ukurannya kira-kira sebesar butiran beras.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science of the Total Environment ini menandai pertama kalinya peneliti mempelajari secara langsung efek mikroplastik pada serangga Antartika tersebut.

Baca juga: 

Peneliti University of Kentucky, Jack Devlin, menuturkan, Belgica antarctica mampu bertahan dalam kondisi dingin ekstrem, kekeringan, kadar garam tinggi, perubahan suhu yang besar, dan radiasi ultraviolet.

"Jadi pertanyaan besarnya adalah, apakah ketangguhan itu melindungi mereka dari tekanan baru seperti mikroplastik atau justru membuat mereka rentan terhadap sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya," ujar Devlin, dilansir dari SciTechDaily, Selasa (20/1/2026).

Mikroplastik ditemukan di satu-satunya serangga di Antartika

Larva yang terpapar mikroplastik alami penurunan cadangan lemak

Mikroplastik ditemukan dalam tubuh satu-satunya serangga yang hidup di Antartika, Belgica antarctica. freepik Mikroplastik ditemukan dalam tubuh satu-satunya serangga yang hidup di Antartika, Belgica antarctica.

Meskipun konsentrasinya lebih rendah dibanding di sebagian besar wilayah dunia, plastik tetap mencapai benua tersebut melalui arus laut hingga aktivitas manusia, seperti penelitian, dan pelayaran.

Devlin menjelaskan, para peneliti melakukan serangkaian tes pada larva lalat pengisap tanah. Hasilnya menunjukkan, tak ada dampak signifikan terdahadap serangga yang diteliti. 

“Bahkan pada konsentrasi plastik tertinggi sekali pun, tingkat kelangsungan hidup tidak menurun. Metabolisme dasar mereka juga tidak berubah, di permukaan mereka tampak baik-baik saja," ucap dia.

Akan tetapi, saat peneliti memeriksa larva lebih dekat, ditemukan sedikit perubahan.

Larva yang terpapar mikroplastik dalam kadar lebih tinggi mengalami penurunan cadangan lemak, meskipun kadar karbohidrat dan proteinnya sebagian besar tetap sama.

Devlin menduga, peyebabnya adalah serangga menyerap sedikit plastik lantaran mereka makan lebih lambat dalam kondisi dingin. Tanah alami tempat serangga ini hidup juga sangat kompleks.

"Percobaan hanya berlangsung selama 10 hari karena kesulitan logistik dalam melakukan penelitian di Antartika. Untuk lebih memahami apa arti paparan mikroplastik dalam jangka waktu lama, studi jangka panjang akan diperlukan," kata Devlin.

Baca juga:

Mikroplastik ditemukan dalam tubuh satu-satunya serangga yang hidup di Antartika, Belgica antarctica. SHUTTERSTOCK/Katiekk Mikroplastik ditemukan dalam tubuh satu-satunya serangga yang hidup di Antartika, Belgica antarctica.

Dalam penelitian sepanjang tahun 2023, tim mengumpulkan larva dari 20 lokasi di 13 pulau Semenanjung Antartika barat lalu mengawetkannya.

Devlin dan sejumlah peneliti internasional membedah larva berukuran lima milimeter dan menganalisis isi ususnya menggunakan sistem pencitraan yang mampu mengidentifikasi sidik jari kimia partikel sekecil empat mikrometer.

Setelah mengecek 40 larva dari seluruh wilayah, mereka menemukan dua fragmen mikroplastik yang menjadi alarm peringatan.

“Studi kami menunjukkan bahwa saat ini mikroplastik tidak membanjiri komunitas tanah ini. Namun, saat ini kami dapat mengatakan bahwa mikroplastik masuk ke dalam sistem, dan pada tingkat yang cukup tinggi, mikroplastik mulai mengubah keseimbangan energi serangga," papar Devlin.

Ia menjelaskan, lalat kecil tersebut tak memiliki predator sehingga mikroplastik yang ditelannya kemungkinan tidak akan berpindah jauh ke rantai makanan.

Hanya saja, peneliti khawatir jika larva Belgica antarctica berumur panjang dan terus menelan mikroplastik sepanjang hidupnya selama dua tahun.

Devlin menyatakan, studi selanjutnya bakal melacak perubahan kadar mikroplastik di tanah Antartika dan menguji eksperimen multi-stres yang lebih panjang pada Belgica antarctica dan organisme tanah lainnya.

Sumber mikroplastik

Mikroplastik ditemukan dalam tubuh satu-satunya serangga yang hidup di Antartika, Belgica antarctica. Freepik Mikroplastik ditemukan dalam tubuh satu-satunya serangga yang hidup di Antartika, Belgica antarctica.

Aktivitas antropogenik manusia, seperti penangkapan ikan, dapat memasukkan mikroplastik ke laut.

Sementara itu, pariwisata ataupun riset ilmiah secara langsung mengendapkan mikroplastik di darat, dilansir dari Science Direct.

Peneliti mencatat, mikroplastik yang terbawa udara juga dapat mengontaminasi Antartika melalui transportasi jarak jauh hingga ribuan kilometer.

Baca juga:

Dengan begitu, ekosistem darat pesisir kemungkinan besar akan tercemar mikroplastik karena meningkatnya keberadaan vertebrata laut, aktivitas antropogenik, dan kedekatan dengan ekosistem laut.

Meskipun dampak paparan mikroplastik belum dinilai gawat pada Belgia antarctica, polutan ini bersifat toksik yang menyebabkan cedera subletal pada invertebrata lain.

Misalnya, paparan mikroplastik berpengaruh pada kelangsungan hidup nematoda Caenorhabditis elegans.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau