KOMPAS.com - Mikroplastik ditemukan di satu-satunya serangga yang hidup di Antartika yaitu Belgica antarctica, menurut peneliti dari University of Kentucky Martin-Gatton College of Agriculture, Food and Environment. Belgica antarctica adalah lalat kecil yang tidak menggigit, ukurannya kira-kira sebesar butiran beras.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Science of the Total Environment ini menandai pertama kalinya peneliti mempelajari secara langsung efek mikroplastik pada serangga Antartika tersebut.
Baca juga:
Peneliti University of Kentucky, Jack Devlin, menuturkan, Belgica antarctica mampu bertahan dalam kondisi dingin ekstrem, kekeringan, kadar garam tinggi, perubahan suhu yang besar, dan radiasi ultraviolet.
"Jadi pertanyaan besarnya adalah, apakah ketangguhan itu melindungi mereka dari tekanan baru seperti mikroplastik atau justru membuat mereka rentan terhadap sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya," ujar Devlin, dilansir dari SciTechDaily, Selasa (20/1/2026).
Mikroplastik ditemukan dalam tubuh satu-satunya serangga yang hidup di Antartika, Belgica antarctica. Meskipun konsentrasinya lebih rendah dibanding di sebagian besar wilayah dunia, plastik tetap mencapai benua tersebut melalui arus laut hingga aktivitas manusia, seperti penelitian, dan pelayaran.
Devlin menjelaskan, para peneliti melakukan serangkaian tes pada larva lalat pengisap tanah. Hasilnya menunjukkan, tak ada dampak signifikan terdahadap serangga yang diteliti.
“Bahkan pada konsentrasi plastik tertinggi sekali pun, tingkat kelangsungan hidup tidak menurun. Metabolisme dasar mereka juga tidak berubah, di permukaan mereka tampak baik-baik saja," ucap dia.
Akan tetapi, saat peneliti memeriksa larva lebih dekat, ditemukan sedikit perubahan.
Larva yang terpapar mikroplastik dalam kadar lebih tinggi mengalami penurunan cadangan lemak, meskipun kadar karbohidrat dan proteinnya sebagian besar tetap sama.
Devlin menduga, peyebabnya adalah serangga menyerap sedikit plastik lantaran mereka makan lebih lambat dalam kondisi dingin. Tanah alami tempat serangga ini hidup juga sangat kompleks.
"Percobaan hanya berlangsung selama 10 hari karena kesulitan logistik dalam melakukan penelitian di Antartika. Untuk lebih memahami apa arti paparan mikroplastik dalam jangka waktu lama, studi jangka panjang akan diperlukan," kata Devlin.
Baca juga:
Mikroplastik ditemukan dalam tubuh satu-satunya serangga yang hidup di Antartika, Belgica antarctica.
Dalam penelitian sepanjang tahun 2023, tim mengumpulkan larva dari 20 lokasi di 13 pulau Semenanjung Antartika barat lalu mengawetkannya.
Devlin dan sejumlah peneliti internasional membedah larva berukuran lima milimeter dan menganalisis isi ususnya menggunakan sistem pencitraan yang mampu mengidentifikasi sidik jari kimia partikel sekecil empat mikrometer.
Setelah mengecek 40 larva dari seluruh wilayah, mereka menemukan dua fragmen mikroplastik yang menjadi alarm peringatan.
“Studi kami menunjukkan bahwa saat ini mikroplastik tidak membanjiri komunitas tanah ini. Namun, saat ini kami dapat mengatakan bahwa mikroplastik masuk ke dalam sistem, dan pada tingkat yang cukup tinggi, mikroplastik mulai mengubah keseimbangan energi serangga," papar Devlin.
Ia menjelaskan, lalat kecil tersebut tak memiliki predator sehingga mikroplastik yang ditelannya kemungkinan tidak akan berpindah jauh ke rantai makanan.
Hanya saja, peneliti khawatir jika larva Belgica antarctica berumur panjang dan terus menelan mikroplastik sepanjang hidupnya selama dua tahun.
Devlin menyatakan, studi selanjutnya bakal melacak perubahan kadar mikroplastik di tanah Antartika dan menguji eksperimen multi-stres yang lebih panjang pada Belgica antarctica dan organisme tanah lainnya.
Mikroplastik ditemukan dalam tubuh satu-satunya serangga yang hidup di Antartika, Belgica antarctica. Aktivitas antropogenik manusia, seperti penangkapan ikan, dapat memasukkan mikroplastik ke laut.
Sementara itu, pariwisata ataupun riset ilmiah secara langsung mengendapkan mikroplastik di darat, dilansir dari Science Direct.
Peneliti mencatat, mikroplastik yang terbawa udara juga dapat mengontaminasi Antartika melalui transportasi jarak jauh hingga ribuan kilometer.
Baca juga:
Dengan begitu, ekosistem darat pesisir kemungkinan besar akan tercemar mikroplastik karena meningkatnya keberadaan vertebrata laut, aktivitas antropogenik, dan kedekatan dengan ekosistem laut.
Meskipun dampak paparan mikroplastik belum dinilai gawat pada Belgia antarctica, polutan ini bersifat toksik yang menyebabkan cedera subletal pada invertebrata lain.
Misalnya, paparan mikroplastik berpengaruh pada kelangsungan hidup nematoda Caenorhabditis elegans.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya