"Kemungkinan merupakan kombinasi dari beberapa faktor. Hidrat metana di dasar laut menjadi tidak stabil karena panas, yang menyebabkan emisi metana. Ada juga banyak aktivitas vulkanis selama periode itu," tutur dia.
Sementara itu, pada periode saat ini, perubahan iklim dipicu masifnya pembakaran bahan bakar fosil. Tercatat, emisi karbon dioksida dua sampai 10 kali lebih cepat daripada saat era PETM.
"Tetapi laju peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer pada waktu itu paling mendekati peningkatan yang disebabkan oleh emisi manusia. Dalam istilah geologis, laju seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya," ucap Nelissen.
Baca juga:
Dari temuannya, Nelissen menegaskan harus ada langkah serius untuk mengadapi krisis iklim. Terlebih efek di daratan seperti kebakaran dan erosi, berpotensi melepaskan karbon tambahan ke atmosfer lalu makin memperparah pemanasan global.
Adapun sampel sedimen dalam penelitian ini dikumpulkan tim peneliti termasuk Joost Frieling dari University of Oxford dan Ghent University serta Henk Brinkhuis dari NIOZ dan Utrecht University melalui ekspedisi Program Penemuan Samudra Internasional di 2021.
Sampel itu menunjukkan lapisan-lapisan sedimen yang sangat berbeda. Peneliti juga mengamati mikrofosil alga Apectodinium augustum.
"Mikrofosil ini adalah bukti bahwa sedimen yang terawetkan dengan indah ini berasal dari periode PETM, periode yang ingin dipelajari lebih lanjut oleh para peneliti," pungkas Nelissen.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya