Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi

Kompas.com, 20 Januari 2026, 15:06 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

"Kemungkinan merupakan kombinasi dari beberapa faktor. Hidrat metana di dasar laut menjadi tidak stabil karena panas, yang menyebabkan emisi metana. Ada juga banyak aktivitas vulkanis selama periode itu," tutur dia.

Sementara itu, pada periode saat ini, perubahan iklim dipicu masifnya pembakaran bahan bakar fosil. Tercatat, emisi karbon dioksida dua sampai 10 kali lebih cepat daripada saat era PETM.

"Tetapi laju peningkatan konsentrasi CO2 di atmosfer pada waktu itu paling mendekati peningkatan yang disebabkan oleh emisi manusia. Dalam istilah geologis, laju seperti itu belum pernah terjadi sebelumnya," ucap Nelissen.

Baca juga:

Dari temuannya, Nelissen menegaskan harus ada langkah serius untuk mengadapi krisis iklim. Terlebih efek di daratan seperti kebakaran dan erosi, berpotensi melepaskan karbon tambahan ke atmosfer lalu makin memperparah pemanasan global.

Adapun sampel sedimen dalam penelitian ini dikumpulkan tim peneliti termasuk Joost Frieling dari University of Oxford dan Ghent University serta Henk Brinkhuis dari NIOZ dan Utrecht University melalui ekspedisi Program Penemuan Samudra Internasional di 2021.

Sampel itu menunjukkan lapisan-lapisan sedimen yang sangat berbeda. Peneliti juga mengamati mikrofosil alga Apectodinium augustum.

"Mikrofosil ini adalah bukti bahwa sedimen yang terawetkan dengan indah ini berasal dari periode PETM, periode yang ingin dipelajari lebih lanjut oleh para peneliti," pungkas Nelissen.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Pemerintah
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Cara Kurangi Beban Sampah Bantargebang Bisa Dimulai dari Rumah Tangga
Pemerintah
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
DBS Salurkan Rp 11,2 Miliar untuk 5 Bisnis Sosial Indonesia, Bantu Dokter di Desa Pakai AI
Swasta
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Perempuan Indonesia Lebih Tekun Belajar AI Dibanding Laki-laki
Swasta
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
Bumi Memanas Lebih Cepat, Batas 1,5 Derajat Diprediksi Terlampaui Sebelum 2030
LSM/Figur
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
Indonesia Diprediksi Dilanda Gelombang Panas per April, Suhu di Atas Normal
LSM/Figur
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
THR Tak Bikin Daya Beli Masyarakat Naik, Ahli Jelaskan Penyebabnya
LSM/Figur
Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim
Mikroba Laut Dalam Jadi Sekutu Hadapi Perubahan Iklim
Pemerintah
Pulihkan Kualitas Air, 7.000 Liter Eco Enzyme Dituangkan ke Sungai Jeletreng Tangsel
Pulihkan Kualitas Air, 7.000 Liter Eco Enzyme Dituangkan ke Sungai Jeletreng Tangsel
LSM/Figur
Boeing Teken Penghapusan 40.000 Ton Karbon lewat Teknologi Biochar
Boeing Teken Penghapusan 40.000 Ton Karbon lewat Teknologi Biochar
Swasta
Hujan Diprediksi Melanda Indonesia Jelang Mudik Lebaran 2026
Hujan Diprediksi Melanda Indonesia Jelang Mudik Lebaran 2026
Pemerintah
Tanaman Menahun Bisa Jadi Solusi Krisis Iklim dan Pangan
Tanaman Menahun Bisa Jadi Solusi Krisis Iklim dan Pangan
Pemerintah
Eropa Cari Cara Produksi Hidrogen Hijau Tanpa PFAS dan Logam Mahal
Eropa Cari Cara Produksi Hidrogen Hijau Tanpa PFAS dan Logam Mahal
LSM/Figur
Satu-satunya Perempuan di DEN, Sripeni Singgung Kesenjangan Gender di Dunia Kerja
Satu-satunya Perempuan di DEN, Sripeni Singgung Kesenjangan Gender di Dunia Kerja
Pemerintah
Bab Baru Nilai Ekonomi Karbon
Bab Baru Nilai Ekonomi Karbon
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau