Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Eropa Cari Cara Produksi Hidrogen Hijau Tanpa PFAS dan Logam Mahal

Kompas.com, 10 Maret 2026, 14:14 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Produksi bahan bakar nol emisi, hidrogen hijau, dengan elektrolisis PEM (membran pertukaran proton) saat ini menjadi salah satu metode yang paling menjanjikan.

Metode elektrolisis PEM sangat cocok untuk menghasilkan hidrogen ketika listrik berasal dari energi baru terbarukan (EBT) yang berfluktuasi, yaitu dari pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga Surya (PLTS).

Baca juga:

Kendati memiliki keunggulan tersebut, proses produksi dengan metode ini tetap jauh lebih mahal daripada produksi hidrogen berbasis energi fosil.

Di sisi lain, terdapat pula kekhawatiran keberlanjutan teknologi ini, mengingat sistem PEM saat ini bergantung pada per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS). Zat yang dikenal sebagai bahan kimia abadi (PFAS) berbahaya bagi lingkungan dan diperkirakan akan menghadapi pembatasan di Uni Eropa.

Padahal, hidrogen hijau menjadi bagian penting dari pergeseran global menuju energi yang lebih bersih. Namun, memproduksinya dalam skala besar masih menghadirkan tantangan ekonomi dan lingkungan yang berat.

Proyek terbaru di Eropa bertujuan menciptakan kembali hidrogen hijau tanpa PFAS beracun atau pun logam langka yang mahal. Inisiatif penelitian Eropa baru bernama SUPREME ingin menyelesaikan masalah ini.

Baca juga:

Tantangan produksi hidrogen hijau tanpa PFAS 

Diharapkan bisa menurunkan biaya dan meningkatkan keamanan lingkungan

Produksi hidrogen hijau dalam skala besar masih hadapi tantangan ekonomi dan lingkungan. Peneliti pun mencari solusi tanpa PFAS dan logam mahal.Freepik Produksi hidrogen hijau dalam skala besar masih hadapi tantangan ekonomi dan lingkungan. Peneliti pun mencari solusi tanpa PFAS dan logam mahal.

Selama tiga tahun ke depan, tim internasional yang dipimpin oleh Universitas Denmark Selatan dan melibatkan Universitas Teknologi Graz (TU Graz) akan mengerjakan teknologi elektrolisis bebas PFAS yang sangat efisien dan kurang bergantung pada bahan langka, seperti iridium.

Temuan dari proyek ini diharapkan dapat menurunkan biaya sekaligus meningkatkan keamanan lingkungan.

Hidrogen digunakan sebagai bahan baku dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan, peran hidrogen tersebut akan terus meningkat ke depannya. Hal itu termasuk produksi amonia, produksi metanol, dan industri baja.

“Jika kita berhasil menghindari penggunaan zat berbahaya dalam produksi hidrogen hijau dan kita juga dapat menurunkan harganya hingga setara dengan hidrogen fosil secara ekonomi, kita akan mengambil langkah penting menuju transisi hijau. Hal ini juga membuatnya lebih menarik untuk aplikasi lain, seperti penyimpanan energi berlebih dari sumber terbarukan," ujar Merit Bodner dari Institut Teknik Kimia dan Teknologi Lingkungan di TU Graz, dilansir dari SciTechDaily, Selasa (10/3/2026).

Hidrogen sudah memainkan peran penting dalam beberapa industri besar sehingga permintaannya diperkirakan akan terus meningkat.

Membuat hidrogen hijau lebih terjangkau dan ramah lingkungan bisa memperluas penggunaannya lebih jauh lagi. Khususnya, membantu menyimpan kelebihan energi yang dihasilkan oleh sumber EBT.

Bodner sedang meneliti bahan-bahan bebas PFAS mana yang sudah tersedia di pasaran dan bagaimana kinerjanya dibandingkan dengan standar industri eksisting.

Fokus utamanya menentukan apakah alternatif lebih berkelanjutan ini dapat memberikan daya tahan dan efisiensi yang sama dengan kebutuhan untuk operasi industri jangka panjang.

Pada saat yang sama, Dewan Sains dan Teknologi Turkiye (TÜBITAK) sedang mengembangkan generasi selanjutnya dari membran mikropori bebas PFAS. Membran ini akan dirancang untuk digunakan dalam sistem elektrolisis canggih.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau