KOMPAS.com - Produksi bahan bakar nol emisi, hidrogen hijau, dengan elektrolisis PEM (membran pertukaran proton) saat ini menjadi salah satu metode yang paling menjanjikan.
Metode elektrolisis PEM sangat cocok untuk menghasilkan hidrogen ketika listrik berasal dari energi baru terbarukan (EBT) yang berfluktuasi, yaitu dari pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan pembangkit listrik tenaga Surya (PLTS).
Baca juga:
Kendati memiliki keunggulan tersebut, proses produksi dengan metode ini tetap jauh lebih mahal daripada produksi hidrogen berbasis energi fosil.
Di sisi lain, terdapat pula kekhawatiran keberlanjutan teknologi ini, mengingat sistem PEM saat ini bergantung pada per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS). Zat yang dikenal sebagai bahan kimia abadi (PFAS) berbahaya bagi lingkungan dan diperkirakan akan menghadapi pembatasan di Uni Eropa.
Padahal, hidrogen hijau menjadi bagian penting dari pergeseran global menuju energi yang lebih bersih. Namun, memproduksinya dalam skala besar masih menghadirkan tantangan ekonomi dan lingkungan yang berat.
Proyek terbaru di Eropa bertujuan menciptakan kembali hidrogen hijau tanpa PFAS beracun atau pun logam langka yang mahal. Inisiatif penelitian Eropa baru bernama SUPREME ingin menyelesaikan masalah ini.
Baca juga:
Produksi hidrogen hijau dalam skala besar masih hadapi tantangan ekonomi dan lingkungan. Peneliti pun mencari solusi tanpa PFAS dan logam mahal.Selama tiga tahun ke depan, tim internasional yang dipimpin oleh Universitas Denmark Selatan dan melibatkan Universitas Teknologi Graz (TU Graz) akan mengerjakan teknologi elektrolisis bebas PFAS yang sangat efisien dan kurang bergantung pada bahan langka, seperti iridium.
Temuan dari proyek ini diharapkan dapat menurunkan biaya sekaligus meningkatkan keamanan lingkungan.
Hidrogen digunakan sebagai bahan baku dalam jumlah yang sangat besar. Bahkan, peran hidrogen tersebut akan terus meningkat ke depannya. Hal itu termasuk produksi amonia, produksi metanol, dan industri baja.
“Jika kita berhasil menghindari penggunaan zat berbahaya dalam produksi hidrogen hijau dan kita juga dapat menurunkan harganya hingga setara dengan hidrogen fosil secara ekonomi, kita akan mengambil langkah penting menuju transisi hijau. Hal ini juga membuatnya lebih menarik untuk aplikasi lain, seperti penyimpanan energi berlebih dari sumber terbarukan," ujar Merit Bodner dari Institut Teknik Kimia dan Teknologi Lingkungan di TU Graz, dilansir dari SciTechDaily, Selasa (10/3/2026).
Hidrogen sudah memainkan peran penting dalam beberapa industri besar sehingga permintaannya diperkirakan akan terus meningkat.
Membuat hidrogen hijau lebih terjangkau dan ramah lingkungan bisa memperluas penggunaannya lebih jauh lagi. Khususnya, membantu menyimpan kelebihan energi yang dihasilkan oleh sumber EBT.
Bodner sedang meneliti bahan-bahan bebas PFAS mana yang sudah tersedia di pasaran dan bagaimana kinerjanya dibandingkan dengan standar industri eksisting.
Fokus utamanya menentukan apakah alternatif lebih berkelanjutan ini dapat memberikan daya tahan dan efisiensi yang sama dengan kebutuhan untuk operasi industri jangka panjang.
Pada saat yang sama, Dewan Sains dan Teknologi Turkiye (TÜBITAK) sedang mengembangkan generasi selanjutnya dari membran mikropori bebas PFAS. Membran ini akan dirancang untuk digunakan dalam sistem elektrolisis canggih.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya