Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Satu-satunya Perempuan di DEN, Sripeni Singgung Kesenjangan Gender di Dunia Kerja

Kompas.com, 10 Maret 2026, 13:30 WIB
Add on Google
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Sripeni Inten Cahyani menjadi satu-satunya perempuan dari delapan anggota Dewan Energi Nasional (DEN) di luar pemerintah yang dilantik Presiden Prabowo Subianto.

DEN bertugas menyusun arah kebijakan energi nasional, menetapkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), serta memastikan implementasinya berjalan di tingkat daerah.

Baca juga:

Inten menuturkan, perannya di DEN bukan sekadar sebagai representasi perempuan, tapi juga memastikan kebijakan energi nasional disusun, dirumuskan, dan diawasi dengan baik dalam lima tahun ke depan.

"Barangkali nanti kami sebagai salah satu anggota pemangku kepentingan khususnya kalangan industri akan lebih erat mengawasi pelaksanaan kebijakan tersebut di lapangan. Apakah itu efektif atau berjalan dengan baik," ujar Inten dalam diskusi Publish What You Pay (PWYP) di Jakarta Pusat, Senin (9/3/2026).

Inten menilai, pengawasan tersebut penting guna meminimalisasi kesenjangan antara perencanaan dengan pelaksanaan Kebijakan Energi Nasional.

Satu-satunya perempuan di Dewan Energi Nasional 

Kesenjangan gender di dunia kerja, termasuk di sektor energi

Sripeni Inten Cahyani menjadi satu-satunya perempuan di Dewan Energi Nasional (DEN). Perempuan bisa berperan dalam transisi energi di Indonesia.Dok. Unsplash/Hannah Busing Sripeni Inten Cahyani menjadi satu-satunya perempuan di Dewan Energi Nasional (DEN). Perempuan bisa berperan dalam transisi energi di Indonesia.

Di sisi lain, Komisaris PT Pupuk Kujang Cikampek ini menyoroti kesenjangan gender bagi perempuan di dunia kerja termasuk di sektor energi dan kebijakan publik.

Salah satunya, fenomena sticky floor yakni kondisi ketika perempuan sulit naik jenjang karier akibat berbagai stereotip.

"Tangganya seolah-olah enggak ada karier kita di atas, sudah patah duluan. Sementara yang laki-laki sudah bisa mencapai manajer atas misalnya, tetapi perempuan sulit," kata Inten.

"Padahal itu sebenarnya stigma saja, dan itu harus kita lawan dan kita harus kelola secara cermat," imbuh dia.

Inten menekankan bahwa perempuan yang selama ini kerap dianggap tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan sebenarnya dapat berperan besar dalam mendorong transisi energi.

Perempuan dapat terlibat dalam berbagai tahapan pembangunan energi, mulai dari penyusunan kebijakan, perencanaan, hingga pengawasan pelaksanaan program.

Baca juga:

Bahkan, perempuan berperan penting dalam pola konsumsi energi di tingkat rumah tangga. Dalam kehidupan sehari-hari perempuan sering mengambil keputusan terkait penggunaan peralatan rumah tangga yang hemat energi, meskipun biaya awalnya lebih mahal.

"Coba bayangkan, hampir setiap ibu-ibu pasti memikirkan penghematan di dalam keluarga dan ini naturalnya. Kenaturalan cocok untuk bicara transisi energi, penghematan, konservasi energi," tutur Inten.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 77 persen perempuan di Indonesia mampu menjalankan peran di rumah tangga sekaligus bekerja.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
Perusahaan yang Punya Komitmen pada ESG Lebih Cepat Bangkit dari Krisis
LSM/Figur
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
Memilah Berulang Jadi Kesulitan Para Ibu Pengelola Sampah
LSM/Figur
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
ASN di Bekasi Bisa Berhemat BBM sejak Kebijakan WFH
Pemerintah
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Meleset dari Janji, Emisi Karbon Penerbangan Eropa Malah Melonjak Tinggi
Pemerintah
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Studi Ungkap Perilaku Laki-Laki Cenderung Punya Jejak Karbon Lebih Besar
Pemerintah
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
Tukang Sampah dan Warga di Daerah Langganan Banjir Paling Berisiko Terinfeksi Hantavirus
LSM/Figur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Perubahan Iklim Jadi Risiko Bisnis, Dunia Usaha Didorong Lakukan Mitigasi Secara Terukur
Pemerintah
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Perusahaan Raksasa Dunia Ramai-ramai PHK Karyawan, Ada Meta dan Amazon
Swasta
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
PBB: Kekerasan Online Terhadap Perempuan di Ranah Publik Semakin Canggih
Pemerintah
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
WHO Selidiki Risiko Hantavirus Menular Antar Manusia, Apakah Mengulang Pandemi Covid-19?
LSM/Figur
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
Danantara Dinilai Mampu Percepat Transisi Energi
LSM/Figur
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pekerja Migran Indonesia di Jepang Perkuat Jejaring Lewat Pentas Budaya
Pemerintah
Praktik 'Open Dumping' Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
Praktik "Open Dumping" Masih Marak Terjadi Imbas Minimnya Anggaran Daerah
LSM/Figur
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Kampanye Tahun Petani Perempuan, Tingkatkan Ketahanan Pangan di Tengah Krisis Iklim
Pemerintah
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Populasi Serangga Berkurang Sebabkan Gizi Pangan Turun, Kok Bisa?
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau