KOMPAS.com - M Fakhrudin mengungkapkan, banjir rob akan terus menghantui pesisir Jakarta, menurut peneliti Limnologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), M Fakhrudin. Kondisi tersebut diperparah perubahahan iklim yang malanda dunia.
"Kalau ini karena pengaruh perubahan iklim, itu makin lama makin meningkat robnya," kata Fakhrudin saat dihubungi Kompas.com, Selasa (20/1/2026).
Baca juga:
Pembangunan tanggul laut, lanjut Fakhrudin, dapat menjadi solusi mitigasi banjir rob di Jakarta Utara selayaknya wacana pemerintah. Namun, tanggul bukan satu-satunya langkah pengendalian banjir rob.
Fakhrudin menilai, penanaman serta rehabilitasi mangrove dapat membantu meredam gelombang sekaligus menahan intrusi air laut.
"Itu memang harus terintegrasi, kita enggak bisa melihat tanggul laut saja.
Apakah di situ misalkan mangrove-nya, ditingkatkan penanaman mangrove seharusnya dikombinasi," tutur dia.
Pembangunan infrastruktur pesisir juga tidak boleh mengganggu aliran sungai dari hulu ke hilir. Apabila aliran terganggu, risiko banjir di daratan bakal meningkat.
Baca juga:
Sejumlah pengendara motor yang terjebak banjir memilih untuk mendorong kendaraan mereka di Jalan Boulevard Timur, Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Minggu (18/1/2026).Selain banjir rob, Jakarta menghadapi permasalahan lain yakni banjir tahunan kala hujan ekstrem melanda.
Perubahan tata guna lahan di kawasan hulu, tingginya urbanisasi, hingga penurunan muka tanah memperberat risiko banjir dari tahun ke tahun di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek).
"Urbanisasi ini sebenarnya perumpamaannya kalau sebelum ada perumahan, air banyak meresap ke tanah plus juga tertahan di permukaan. Ada tanaman sehingga agak lama ke hilirnya," kata Fakhrudin.
"Begitu ada perumahan, infiltrasi peresapan ke dalam tanah berkurang, dan yang kedua sisanya infiltrasi mengalirnya ke hilir pelan-pelan sehingga di hilir bebannya makin tinggi," imbuh dia.
Baca juga:
Kota dengan tingkat urbanisasi tinggi ini memiliki topografi datar dan mengalami penurunan muka tanah. Alhasil menyebabkan aliran air menuju laut menjadi makin lambat.
Menurut Fakhrudin, hal itu diperparah fenomena pasang air laut yang kerap terjadi, memicu aliran air dari darat tertahan dan meningkatkan potensi banjir.
Sistem drainase yang tak mumpuni menambah sederet pekerjaan rumah untuk menangani banjir di Jakarta.
"Drainase di Jakarta memang didesain pada hujan-hujan tertentu. Harusnya desain drainase harus disesuaikan dengan intensitas hujan yang semakin meningkat, periode ulangnya semakin pendek," jelas dia.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya