Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dorongan Pajak Daging Menguat di Eropa, Konsumsi Tinggi Karbon Dinilai Ancam Iklim

Kompas.com, 21 Januari 2026, 20:00 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Euronews, DW

KOMPAS.com - Pemerintah Eropa didesak untuk menerapkan pajang daging (meat tax), seiring meningkatnya bukti bagaimana pola makan tinggi karbon berdampak buruk bagi bumi.

Studi dari Institut Penelitian Iklim Potsdam (PIK) mencoba menghitung bagaimana jika pajak daging diterapkan di Uni Eropa, salah satu wilayah dengan konsumsi daging tertinggi, dilansir dari Euronews, Rabu (21/1/2026).

Baca juga:

Bagaimana jika pajak daging diterapkan di Eropa?

Pemerintah Eropa didesak menerapkan pajak daging seiring menguatnya bukti dampak pola makan tinggi karbon terhadap pemanasan global.Shutterstock/aleksandr talancev Pemerintah Eropa didesak menerapkan pajak daging seiring menguatnya bukti dampak pola makan tinggi karbon terhadap pemanasan global.

Sebagai informasi, sektor pangan dan pertanian menyumbang sepertiga dari emisi gas rumah kaca global, menempati posisi kedua setelah pembakaran bahan bakar fosil.

Bahkan, menurut studi tahun 2023 dari jurnal Nature, emisi gas rumah kaca dari cara manusia memproduksi dan mengonsumsi makanan bisa menambah hampir satu derajat celsius pemanasan pada atmosfer bumi pada tahun 2100.

Daging sapi dan daging domba kerap disebut sebagai salah satu penyebab utama kerusakan lingkungan. 

FAO, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, menyampaikan, 14,5 persen dari semua emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh manusia berasal dari peternakan.

Dilansir dari DW, industri tersebut menghasilkan karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan oksida nitrat (N2O) yang mendorong pemanasan global. 

Pada tahun 2022, rata-rata sembilan kilogram daging sapi dikonsumsi setiap hari, yang menghasilkan 0,8 ton setara karbon dioksida (CO2 equivalent).

Jika orang-orang Eropa dan Amerika Utara berhenti mengonsumsi daging sapi, mereka disebut bisa mengurangi masing-masing 1,2 ton dan 3,3 ton setara karbon dioksida.

Meski banyak ilmuwan memperingatkan bahaya emisi dari sektor peternakan, Uni Eropa dinilai masih belum menunjukan rencana nyata untuk menerapkan pajak daging, atau mendorong negara-negara anggotanya bertransisi menuju pola makan yang didominasi nabati.

Langkah itu sebenarnya disebut mampu memangkas emisi pertanian hingga sebesar 15 persen.

Baca juga:

Akan cukup kompleks dan tidak praktis

Pemerintah Eropa didesak menerapkan pajak daging seiring menguatnya bukti dampak pola makan tinggi karbon terhadap pemanasan global. Pemerintah Eropa didesak menerapkan pajak daging seiring menguatnya bukti dampak pola makan tinggi karbon terhadap pemanasan global.

Untuk menangkal emisi dari sektor pangan dan perhatian, PIK mengungkapkan, dari perspektif ekonomi harus ada menambahkan biaya lingkungan terkait produksi yang dikeluarkan selama produksi ke harga.

“Ini berarti semakin banyak karbon dioksida yang dikeluarkan, semakin mahal harganya,” kata peneliti PIK dan penulis studi tersebut, Charlotte Plinke.

Namun, Plinke berpendapat bahwa menerapkan sistem seperti itu untuk makanan yang dikonsumsi orang Eropa akan sangat kompleks dan tidak praktis dalam jangka pendek.

Peneliti pun berpendapat bahwa pilihan paling sederhana adalah menargetkan pajak pertambahan nilai (PPN atau VAT) produk daging.

Para peneliti menemukan bahwa pengenaan tarif PPN standar pada daging dapat mengurangi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh konsumsi makanan antara 3,48 dan 5,7 persen, tergantung pada kategori kerusakan.

Hal ini kemungkinan disebabkan oleh penurunan penjualan, yang dapat mendorong konsumen untuk membeli lebih banyak buah dan sayuran.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Momentum RI Raup 'Windfall Tax' Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
Momentum RI Raup "Windfall Tax" Batu Bara untuk Biayai Transisi Energi
LSM/Figur
PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
PwC: 82 Persen Perusahaan Percepat Target Iklim dan Dekarbonisasi Rantai Pasok
Swasta
Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
Studi: Migrasi Hiu Paus Lintasi 12 Batas Negara dan Laut Internasional
LSM/Figur
Menteri LH Jumhur Hidayat: UU Cipta Kerja Terlalu Kapitalistik
Menteri LH Jumhur Hidayat: UU Cipta Kerja Terlalu Kapitalistik
Pemerintah
Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
Energi Terbarukan Ciptakan 6-10 Juta Green Jobs pada 2060, Tapi Pekerja RI Sulit Direkrut
LSM/Figur
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Menteri LH: Industri Ekstraktif Harus Tetap Jalan karena RI Butuh Uang
Pemerintah
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
FEM IPB: Mayoritas Manfaat MBG masih Terkonsentrasi di Jawa dan Perkotaan
Pemerintah
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
Lewat Program Teman Biruni Bahagia, Biruni Foundation Salurkan Ratusan Bantuan untuk Anak Rentan
LSM/Figur
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
Angkat Tema Pemberdayaan, Inspiring Asia Micro Film Festival 2026 Dibuka untuk Umum
LSM/Figur
Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata
Asia ESG Summit Dorong Akuntabilitas Perusahaan di Dunia Nyata
Swasta
Menteri LH Baru: Pemerintah Berhutang pada Gen Z
Menteri LH Baru: Pemerintah Berhutang pada Gen Z
Pemerintah
Ada Kesenjangan Kesadaran Hadapi Krisis Iklim antara Laki-laki dan Perempuan
Ada Kesenjangan Kesadaran Hadapi Krisis Iklim antara Laki-laki dan Perempuan
LSM/Figur
Meta Nyalakan Pusat Data di Malam Hari dengan Energi Surya dari Luar Angkasa
Meta Nyalakan Pusat Data di Malam Hari dengan Energi Surya dari Luar Angkasa
Pemerintah
Atasi Tantangan Pembangunan Nasional, PFI Dorong Perkuat Peran Filantropi
Atasi Tantangan Pembangunan Nasional, PFI Dorong Perkuat Peran Filantropi
Pemerintah
Perlu Riset Interdisipliner untuk Temukan Solusi Adaptasi Iklim
Perlu Riset Interdisipliner untuk Temukan Solusi Adaptasi Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau