Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Uni Eropa Bakal Perketat Impor Plastik demi Industri Daur Ulang Lokal

Kompas.com, 24 Desember 2025, 19:35 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Reuters

KOMPAS.com - Uni Eropa berencana memperketat impor plastik, menurut Komisi Eropa. Hal ini dilakukan untuk membantu pabrik daur ulang Eropa yang kesulitan bersaing dengan produk impor yang lebih murah.

"Sektor daur ulang menghadapi biaya energi yang tinggi, harga plastik baru yang rendah dan tidak dapat diprediksi serta persaingan dari impor plastik murah," kata Komisi Eropa dalam sebuah dokumen yang menjabarkan rencana tersebut, dilansir dari Reuters, Rabu (24/12/2025).

Baca juga: 

Eropa bakal perketat impor plastik

Industri daur ulang plastik Eropa kalah saing dengan plastik murah impor

Uni Eropa berencana memperketat impor plastik untuk melindungi industri daur ulang lokal yang terhimpit plastik murah impor.PIXABAY/BEN KERCKX Uni Eropa berencana memperketat impor plastik untuk melindungi industri daur ulang lokal yang terhimpit plastik murah impor.

Kelompok industri Plastics Recyclers Europe menyebut, industri daur ulang plastik Eropa terus mengurangi jumlah produksinya. Tahun 2025 tercatat sebagai tahun terburuk bagi industri ini.

Masalah utamanya adalah banjir plastik murah dari luar Eropa yang harganya jauh di bawah harga plastik daur ulang Eropa.

Penyebab lainnya adalah proses daur ulang memerlukan banyak energi. Biaya produksi yang tinggi tersebut akhirnya memicu penutupan pabrik di berbagai negara, termasuk di Belanda.

Sebelumnya pada bulan lalu, enam negara Eropa, termasuk Perancis, Spanyol, dan Belanda, meminta Uni Eropa untuk mengambil tindakan lebih lanjut terhadap impor plastik daur ulang berkualitas rendah yang menurut mereka dijual dengan harga diskon besar-besaran.

Kekhawatiran juga muncul akibat adanya eksportir nakal. Mereka disebut mengirim plastik baru, tapi mengaku sebagai plastik daur ulang dengan harga yang lebih murah.

Hal ini merugikan perusahaan daur ulang lokal karena plastik daur ulang mereka tidak dapat bersaing dalam hal harga.

Baca juga:

Perubahan hukum jadi solusi plastik murah impor

Dokumen ketat direncanakan diterapkan untuk plastik daur ulang impor

Uni Eropa berencana memperketat impor plastik untuk melindungi industri daur ulang lokal yang terhimpit plastik murah impor.SHUTTERSTOCK/DawSS Uni Eropa berencana memperketat impor plastik untuk melindungi industri daur ulang lokal yang terhimpit plastik murah impor.

Untuk menanggulanginya, Uni Eropa pun mengusulkan perubahan hukum pada paruh pertama 2026. Usulan tersebut mewajibkan dokumentasi yang lebih ketat bagi impor plastik daur ulang.

Usulan lainnya adalah pembuatan kode bea cukai terpisah untuk plastik daur ulang dan plastik murni. Hal tersebut bertujuan memudahkan pelacakan impor.

Langkah-langkah lain juga akan dilakukan, antara lain audit Uni Eropa terhadap pabrik daur ulang, termasuk di luar Eropa.

Selain itu, ada pula dukungan bagi laboratorium untuk menjalankan pemeriksaan kontrol guna memastikan apakah kiriman plastik daur ulang tersebut asli.

Saat ini, Uni Eropa telah mengenakan bea anti-dumping pada plastik PET China yang biasanya digunakan untuk membuat botol.

Langkah tersebut dilakukan untuk mengatasi impor yang harganya sangat murah sehingga memaksa perusahaan Uni Eropa untuk menjual dengan harga rugi supaya bisa bersaing.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Atasi Emisi, Koalisi Perusahaan Luncurkan Superpollutant Action Initiative
Atasi Emisi, Koalisi Perusahaan Luncurkan Superpollutant Action Initiative
Pemerintah
Karhutla Landa 5 Desa di Kalbar, Luasnya Capai 17 Hektar
Karhutla Landa 5 Desa di Kalbar, Luasnya Capai 17 Hektar
Pemerintah
 50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
50 Persen Populasi Hewan yang Bermigrasi di Dunia Turun Drastis
Pemerintah
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
KPAI: Pembatasan Akun Medsos Anak di Bawah 16 Tahun Cegah Pornografi hingga Cyberbullying
Pemerintah
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Bumi Memanas Dua Kali Lipat Lebih Cepat dari Dekade Sebelumnya
Pemerintah
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Cuaca Ekstrem Masih Berlanjut, BMKG Pantau Tiga Bibit Siklon Tropis di Selatan RI
Pemerintah
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
Gelombang Panas Makin Sering, Risiko Kekeringan Mendadak Ikut Meningkat
LSM/Figur
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Peneliti Temukan Mikroplastik pada Kedalaman 2.450 Meter di Laut Indonesia
Pemerintah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Perang dan Krisis Iklim: Dampak Ekologis Eskalasi Konflik Timur Tengah
Pemerintah
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
Krisis Iklim Ubah Jalur Migrasi Penyu Tempayan, Gap Rasio Jenis Kelamin Ancam Keberlanjutan Populasi
LSM/Figur
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
Peran Serangga dan Laba-Laba di Negara Maju Diabaikan
LSM/Figur
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari 'Paman Sam'
Perjanjian Dagang dengan AS Bikin RI Bergantung Minyak dari "Paman Sam"
LSM/Figur
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
Soal Tambang Martabe, NGO Desak Pemerintah Fokus Pemulihan Lingkungan ketimbang Pengambilalihan
LSM/Figur
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
Orang Kaya Dubai Kabur Naik Jet Pribadi Saat Konflik AS-Israel Vs Iran, Bikin Emisi Naik
LSM/Figur
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
3 Mega Tren Dunia Versi Schneider Electric, Transisi Energi hingga AI
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau