KOMPAS.com - Kontribusi industri tekstil terhadap emisi karbon global dinilai cukup signifikan, sekitar delapan sampai 10 persen dari emisi dunia. Angka tersebut melebihi gabungan jejak karbon dari sektor penerbangan dan pengiriman jalur laut.
Namun, dampak terhadap lingkungan dinilai bisa semakin besar akibat layanan pengembalian produk (product returns atau retur).
Baca juga:
Sebab, layanan tersebut mencakup transportasi tambahan, packaging, proses inspeksi dan pemilahan yang memerlukan energi, serta pembuangan, dilansir dari The Conversation dan Phys.org, Kamis (22/1/2026).
Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.Perusahaan ritel fesyen online (daring), Asos memperkenalkan biaya tambahan untuk pelanggan yang hendak mengembalikan produk.
Tujuannya mendorong pembeli dengan tingkat pembelian tertinggi untuk mengurangi kebiasaannya.
Diketahui, selama ini kebijakan retur gratis dan tanpa hambatan menjadi keunggulan kompetitif utama dalam industri fast fashion.
Terdapat dua skenario umum belanja fast fashion. Pertama, pelanggan membeli tiga atau empat barang sejenis dengan ukuran berbeda, kemudian mengembalikan barang yang tidak diinginkan.
Sementara itu, skenario kedua adalah pelanggan membeli tiga atau empat produk yang berbeda.
Dalam skenario pertama, pendekatan "pembatasan ukuran" dalam industri ritel kemungkinan lebih terpengaruh oleh biaya retur yang baru.
Hal ini bisa mendorong beberapa pembeli untuk mengurangi ukuran pesanan mereka, kemungkinan dari empat, menjadi dua, yang berdampak positif terhadap lingkungan jika mereka terus berbelanja di Asos.
Pengembalian pakaian online ternyata menambah emisi karbon. Biaya retur dinilai belum menyentuh akar masalah fast fashion.Adapun skenario kedua merupakan pembelian impulsif yang menghasilkan hampir 40 persen dari total pengeluaran online secara global, dengan pakaian sebagai kategori yang paling sering dibeli.
Namun, ketika dihadapkan dengan biaya retur, pembeli impulsif jauh lebih cenderung menghindari proses pengembalian sepenuhnya jika dianggap rumit atau mahal.
Sebuah studi di Amerika Serikat menemukan, 75 persen pembeli online menyimpan barang-barang yang tidak diinginkan karena proses pengembalian yang rumit atau mahal.
Alih-alih kembali produk ke toko online untuk kemudian bisa diperbaiki dan dijual kembali, barang tersebut justru tetap berada di rumah pembeli atau berakhir di tempat pembuangan sampah setempat.
Secara keseluruhan, biaya retur hanya memindahkan beban limbah dari rantai pasokan ritel ke rumah tangga individu dan sistem pengelolaan limbah pemerintah daerah.
Asos menyatakan bahwa perusahaannya menyadari tanggung jawab untuk mengurangi dampak usahanya terhadap lingkungan dan melindungi orang-orang dalam rantai pasokannya.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya