Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hutan Afrika Tak Lagi Jadi Penyangga Iklim, Ini Alasannya

Kompas.com, 23 Januari 2026, 18:26 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hutan di Afrika melepaskan lebih banyak karbon dioksida (CO2) dibandingkan menyerapnya. Berdasarkan studi yang dipimpin oleh para ilmuwan di National Centre for Earth Observation di Universitas Leicester, Sheffield, dan Edinburgh, benua Afrika telah kehilangan sekitar 106 miliar kilogram biomassa hutan setiap tahun selama periode 2010-2017.

Selama ini hutan-hutan di Afrika dianggap sebagai penyangga, tapi data itu menunjukkan bahwa hutan-hutan tersebut juga bisa menadi kontributor terhadap krisis iklim. Pergeseran peran ini mencerminkan semakin mendesaknya upaya perlindungan hutan global.

Baca juga: 

Penulis senior sekaligus Direktur Institut untuk Masa Depan Lingkungan di Universitas Leicester, Heiko Balzter mengatakan, pendanaan iklim untuk Tropical Forests Forever Facility (TFFF) perlu ditingkatkan dengan cepat untuk mengakhiri deforestasi global untuk selamanya.

Dilaporkan Kompas.com, Jumat (7/11/2025), TFFF merupakan inisiatif pendanaan konservasi hutan tropis yang digagas Brasil untuk membiayai pelestarian hutan yang masih ada.

“Ini adalah peringatan penting bagi kebijakan iklim global. Jika hutan Afrika tidak lagi menyerap karbon, itu berarti wilayah lain dan dunia secara keseluruhan perlu mengurangi emisi gas rumah kaca lebih dalam lagi untuk tetap berada dalam target dua derajat celsius Perjanjian Paris dan menghindari perubahan iklim yang dahsyat," ujar Balzter, dilansir dari SciTechDaily, Jumat (23/1/2026).

Hutan Afrika bisa jadi penyumbang krisis iklim

Tata kelola hutan dan penebangan hukum sebaiknya dilakukan

Selama 2010–2017, hutan di Afrika kehilangan 106 miliar kilogram biomassa per tahun. Peran hutan sebagai penyerap karbon kini terancam.Eriana Widya Astuti Selama 2010–2017, hutan di Afrika kehilangan 106 miliar kilogram biomassa per tahun. Peran hutan sebagai penyerap karbon kini terancam.

Salah satu penulis dari Pusat Pengamatan Bumi Nasional di Institut Masa Depan Lingkungan Universitas Leicester, Nezha Acil mengatakan, penguatan tata kelola hutan dan penegakkan hukum terhadap penebangan ilegal juga bisa membalikkan keadaan.

"Program restorasi skala besar seperti AFR100, yang bertujuan untuk memulihkan 100 juta hektar lanskap Afrika pada tahun 2030, (juga) dapat membuat perbedaan besar dalam membalikkan kerusakan yang telah terjadi," tutur Acil.

Penulis lain dari National Centre for Earth Observation di Universitas Leicester, Pedro Rodríguez-Veiga menilai, studi tersebut memberikan data risiko penting bagi pasar karbon sukarela (VCM) yang lebih luas.

Studi tersebut juga menunjukkan bahwa deforestasi tapi hanya masalah lokal atau regional, tapi juga bisa mengubah keseimbangan karbon global.

"Jika hutan Afrika berubah menjadi sumber karbon yang berkelanjutan, tujuan iklim global akan jauh lebih sulit dicapai. Pemerintah, sektor swasta, dan LSM (lembaga swadaya masyarakat) harus berkolaborasi untuk mendanai dan mendukung inisiatif yang melindungi dan meningkatkan hutan kita," ucapnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
Peneliti Ciptakan Energi Listrik dari Urin, Berpotensi Jadi EBT Baru
LSM/Figur
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
Studi Sebut Polusi Udara Bisa Tingkatkan Risiko Alzheimer pada Lansia
LSM/Figur
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
1 Hektar Hutan Tropis Hasilkan 2,4 Juta Liter Hujan Tiap Tahun
LSM/Figur
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG
LSM/Figur
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Angka Kematian Ibu Meningkat Drastis di Wilayah Konflik dan Rentan
Pemerintah
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
Profesional Muda Ingin Industri Periklanan Melek Literasi Iklim
LSM/Figur
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
Jelang Ramadhan, Listrik di Aceh Masih Padam dan Warga Harus Jalan Kaki demi Bantuan
LSM/Figur
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah Buka Akses Pembiayaan untuk Pelaku Ekonomi Kreatif
Pemerintah
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas 'Waste to Energy' Danantara
24 Perusahaan Ikut Tender Pembangunan Fasilitas "Waste to Energy" Danantara
Pemerintah
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
AI Diklaim Cegah Kerusakan Iklim, Benarkah?
LSM/Figur
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan
LSM/Figur
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
Siswa MAN 1 Kendari Olah Limbah Kulit Udang dan Kepiting Jadi Kemasan Ramah Lingkungan
LSM/Figur
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Jakarta Utara Harus Jadi Model Pengelolaan Sampah Nasional, Ini Alasannya
Pemerintah
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Satu Dekade Pasca-Perjanjian Paris, Pemanasan Global Justru Makin Cepat
Pemerintah
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Lawan Krisis Iklim, Prancis Minta Warganya Kurangi Makan Daging
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau