KOMPAS.com - Bogor menjadi kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS), seperti Ciliwung, yang vital untuk konservasi air bagi Jakarta dan daerah sekitarnya. Namun, kawasan hulu DAS di Bogor terancam alih fungsi lahan.
Sebagai konservasi air, aspek tata ruang di kawasan hulu DAS di Bogor memang perlu dipertegas. Alih fungsi kawasan hulu DAS di Bogor telah melewati ambang batas daya tampung dan daya dukung lingkungan hidup (D3TLH).
Baca juga: Pertamina dan KLHK Tanam Ratusan Pohon Produktif di Hulu DAS di Bogor
"Mungkin kita take it for granted (menganggap sesuatu sebagai hal yang biasa), dulu harusnya berapa persen, terus kita ambil dikit, enggak apa-apa, kita ambil dikit, enggak apa-apa, nah sekarang udah habis, akhirnya," ujar Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Muhammad Rachmat Kaimuddin dalam webinar, Kamis (22/1/2026).
Menurut Rachmat, pemerintah pusat maupun daerah sudah mengingatkan perlunya menghijaukan kembali kawasan hulu DAS di Bogor. Atau, mengurangi daya rusak air dengan membangun infrastruktur berskala besar yang menghabiskan banyak uang.
Kata dia, sudah sepantasnya sekarang menjaga kawasan hulu DAS di Bogor sebagai wilayah konservasi air, meski berpotensi menjadi kontroversi.
"Kalau hujan itu baiknya ada tanaman yang hijau-hijau supaya bisa menyerapnya dan ditampung (menjadi) air tanah. Nah, masalahnya, kadang-kadang lebih menguntungkan kalau pohon-pohon itu ditebang, dijadikan vila, misalnya kan, atau dijadikan apalah dan sebagainya," tutur Rachmat.
Selain itu, hujan juga membutuhkan wadah untuk penampungan air, seperti bendungan, agar tidak langsung terbuang.
"Sungai datang dari hulu ke hilir ya, sungai Ciliwung itu dari Bogor. Sebenarnya, kita harus menyadari bahwa kalau kita tahu di sisi hilir itu ada yang mau minum, mudah-mudahan kita tidak ikut memberikan polusi kepada badan air. Karena kalau airnya kotor, nanti saat dibawa ke PDAM, bianya jadi maha banget," ucapnya.
Di sisi lain, sebagai sumber daya, air tentunya memiliki daya rusak yang perlu dimitigasi. Banjir bandang di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara merupakan contoh daya rusak air yang perlu dimitigasi. Jembatan sepanjang 250 meter yang terputus di Aceh Tamiang menunjukkan Indonesia belum bisa mengendalikan daya rusak air.
Indonesia perlu memperbarui ilmu pengetahuan dasar dalam pembangunan infrastruktur, dengan menyesuaikan perkembangan terbaru siklon tropis di ekuator. Infrastruktur dasar perlu tahan terhadap berbagai risiko bencana.
"Tentunya, pekerjaan rumah pemerintah cukup banyak. Kami butuh dukung. Kami butuh kolaborasi dari semua orang karena failure is not an option untuk urusan air ini," ujar Rachmat.
Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq mengatakan, Jakarta sebagai kota yang rentan terhadap banjir.
"Hampir setiap hujan, sedikit saja, maka Jakarta akan banjir," ucapnya dalam sebuah acara di Jakarta, Kamis (18/9/2025).
Ia mengkritik deforestasi di kawasan hulu Jakarta. Ia menyoroti alih fungsi lahan di kawasan hulu Jakarta untuk mendukung pariwisata.
Baca juga: Banjir Jakarta Berulang, BRIN Sebut Urbanisasi hingga Tanah Turun Jadi Penyebab
"Pintarnya, mereka berlomba-lomba membikin biopori di Jakarta, kok enggak mikirin kenapa enggak di hulunya itu yang masih banyak pembangunan vila-vila megah, yang membangun bukan orang Bogor, tetapi orang Jakarta sendiri. Dia membeli tali untuk menggantung layarnya sendiri. Cukuplah sudah pembangunan vila-vila di Puncak itu," ujar Hanif.
Imbasnya, dalam hitungan menit, sungai Ciliwung meluap, meski curah hujan tidak terlalu tinggi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya