KOMPAS.com - Hutan di Afrika melepaskan lebih banyak karbon dioksida (CO2) dibandingkan menyerapnya. Berdasarkan studi yang dipimpin oleh para ilmuwan di National Centre for Earth Observation di Universitas Leicester, Sheffield, dan Edinburgh, benua Afrika telah kehilangan sekitar 106 miliar kilogram biomassa hutan setiap tahun selama periode 2010-2017.
Selama ini hutan-hutan di Afrika dianggap sebagai penyangga, tapi data itu menunjukkan bahwa hutan-hutan tersebut juga bisa menadi kontributor terhadap krisis iklim. Pergeseran peran ini mencerminkan semakin mendesaknya upaya perlindungan hutan global.
Baca juga:
Penulis senior sekaligus Direktur Institut untuk Masa Depan Lingkungan di Universitas Leicester, Heiko Balzter mengatakan, pendanaan iklim untuk Tropical Forests Forever Facility (TFFF) perlu ditingkatkan dengan cepat untuk mengakhiri deforestasi global untuk selamanya.
Dilaporkan Kompas.com, Jumat (7/11/2025), TFFF merupakan inisiatif pendanaan konservasi hutan tropis yang digagas Brasil untuk membiayai pelestarian hutan yang masih ada.
“Ini adalah peringatan penting bagi kebijakan iklim global. Jika hutan Afrika tidak lagi menyerap karbon, itu berarti wilayah lain dan dunia secara keseluruhan perlu mengurangi emisi gas rumah kaca lebih dalam lagi untuk tetap berada dalam target dua derajat celsius Perjanjian Paris dan menghindari perubahan iklim yang dahsyat," ujar Balzter, dilansir dari SciTechDaily, Jumat (23/1/2026).
Selama 2010–2017, hutan di Afrika kehilangan 106 miliar kilogram biomassa per tahun. Peran hutan sebagai penyerap karbon kini terancam.Salah satu penulis dari Pusat Pengamatan Bumi Nasional di Institut Masa Depan Lingkungan Universitas Leicester, Nezha Acil mengatakan, penguatan tata kelola hutan dan penegakkan hukum terhadap penebangan ilegal juga bisa membalikkan keadaan.
"Program restorasi skala besar seperti AFR100, yang bertujuan untuk memulihkan 100 juta hektar lanskap Afrika pada tahun 2030, (juga) dapat membuat perbedaan besar dalam membalikkan kerusakan yang telah terjadi," tutur Acil.
Penulis lain dari National Centre for Earth Observation di Universitas Leicester, Pedro Rodríguez-Veiga menilai, studi tersebut memberikan data risiko penting bagi pasar karbon sukarela (VCM) yang lebih luas.
Studi tersebut juga menunjukkan bahwa deforestasi tapi hanya masalah lokal atau regional, tapi juga bisa mengubah keseimbangan karbon global.
"Jika hutan Afrika berubah menjadi sumber karbon yang berkelanjutan, tujuan iklim global akan jauh lebih sulit dicapai. Pemerintah, sektor swasta, dan LSM (lembaga swadaya masyarakat) harus berkolaborasi untuk mendanai dan mendukung inisiatif yang melindungi dan meningkatkan hutan kita," ucapnya.
Selama 2010–2017, hutan di Afrika kehilangan 106 miliar kilogram biomassa per tahun. Peran hutan sebagai penyerap karbon kini terancam.Biomassa hutan mewakili karbon yang tersimpan dalam pohon dan vegetasi berkayu lainnya.
Studi ini menggabungkan pengamatan satelit dengan pembelajaran mesin untuk memantau perubahan biomassa hutan di atas permukaan tanah selama lebih dari satu dekade.
Tidak hanya itu, studi tersebut menggabungkan informasi dari instrumen laser antariksa NASA, pengamatan radar satelit ALOS Jepang, serta teknik pembelajaran mesin dan ribuan pengukuran hutan di lapangan.
Hasilnya, data ini menghasilkan peta paling detail tentang perubahan biomassa hutan di seluruh Afrika, yang melacak 10 tahun penuh dan mengungkapkan pola deforestasi pada skala lokal.
Baca juga:
Luasnya wilayah hutan hujan tropis di Afrika yang hilang telah membalikkan tren dalam hal karbon dari ekosistem ini.
Mayoritas wilayah yang hilang terjadi di hutan berdaun lebar lembab tropis, khususnya di Republik Demokratik Kongo, Madagaskar, dan sebagian Afrika Barat.
Faktor utama pendorong kehilangan wilayah tersebut adalah deforestasi dan degradasi hutan.
Kendati beberapa wilayah sabana mengalami peningkatan pertumbuhan semak, kenaikannya tidak cukup untuk mengimbangi kerugian secara keseluruhan.
Temuan studi muncul bersamaan dengan pengumuman Presidensi COP30 tentang TFFF, sebuah inisiatif baru yang dirancang untuk memobilisasi miliaran Poundsterling dalam pendanaan iklim.
Program TFFF akan memberikan kompensasi kepada negara-negara yang menjaga kelestarian hutan tropis mereka.
Temuan ini menggarisbawahi urgensi untuk bertindak cepat dalam mencegah kehilangan hutan di Afrika, salah satu penyangga alami yang paling berharga terhadap penyerapan emisi karbon.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya