Biomassa hutan mewakili karbon yang tersimpan dalam pohon dan vegetasi berkayu lainnya.
Studi ini menggabungkan pengamatan satelit dengan pembelajaran mesin untuk memantau perubahan biomassa hutan di atas permukaan tanah selama lebih dari satu dekade.
Tidak hanya itu, studi tersebut menggabungkan informasi dari instrumen laser antariksa NASA, pengamatan radar satelit ALOS Jepang, serta teknik pembelajaran mesin dan ribuan pengukuran hutan di lapangan.
Hasilnya, data ini menghasilkan peta paling detail tentang perubahan biomassa hutan di seluruh Afrika, yang melacak 10 tahun penuh dan mengungkapkan pola deforestasi pada skala lokal.
Baca juga:
Luasnya wilayah hutan hujan tropis di Afrika yang hilang telah membalikkan tren dalam hal karbon dari ekosistem ini.
Mayoritas wilayah yang hilang terjadi di hutan berdaun lebar lembab tropis, khususnya di Republik Demokratik Kongo, Madagaskar, dan sebagian Afrika Barat.
Faktor utama pendorong kehilangan wilayah tersebut adalah deforestasi dan degradasi hutan.
Kendati beberapa wilayah sabana mengalami peningkatan pertumbuhan semak, kenaikannya tidak cukup untuk mengimbangi kerugian secara keseluruhan.
Temuan studi muncul bersamaan dengan pengumuman Presidensi COP30 tentang TFFF, sebuah inisiatif baru yang dirancang untuk memobilisasi miliaran Poundsterling dalam pendanaan iklim.
Program TFFF akan memberikan kompensasi kepada negara-negara yang menjaga kelestarian hutan tropis mereka.
Temuan ini menggarisbawahi urgensi untuk bertindak cepat dalam mencegah kehilangan hutan di Afrika, salah satu penyangga alami yang paling berharga terhadap penyerapan emisi karbon.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya