JAKARTA, KOMPAS.com – Bagi banyak keluarga Indonesia, madu kerap hadir bukan sekadar sebagai pemanis alami.
Lebih dari itu, cairan kental berwarna keemasan tersebut telah menjadi bagian dari kebiasaan merawat tubuh, baik saat dicampur air hangat pada pagi hari, diminum ketika stamina menurun, ataupun diberikan ketika tubuh terasa tidak enak badan. Praktik ini diwariskan lintas generasi jauh sebelum istilah suplemen kesehatan dikenal luas.
Di antara beragam jenis madu, madu hutan menempati posisi tersendiri. Dihasilkan oleh lebah liar Apis dorsata, madu ini dipanen dari hutan-hutan tropis Indonesia yang membentang dari Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua dan Nusa Tenggara.
Kehadirannya tak hanya mencerminkan kekayaan hayati Nusantara, tetapi juga menyimpan jejak panjang pemanfaatan herbal alami sebagai bagian dari ikhtiar sehat masyarakat.
Dalam berbagai literatur, madu disebut sebagai salah satu bahan pangan dengan kandungan nutrisi yang relatif lengkap.
Buku Aplikasi Madu sebagai Aktivator Stem Cell karya Erma Safitri dan Hery Purnobasuki yang diterbitkan Airlangga University Press pada 2022 mencatat bahwa madu mengandung gula alami, mineral, vitamin, protein, serta senyawa bioaktif, seperti polifenol dan flavonoid.
Baca juga: Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
Kandungan tersebut membuat madu kerap dimanfaatkan sebagai sumber energi, pendukung stamina, sekaligus bagian dari pola hidup sehat.
Penulis buku tersebut juga menjelaskan bahwa madu memiliki sifat antibakteri alami dan antioksidan yang diyakini berperan dalam menjaga fungsi tubuh.
Madu diketahui mengandung vitamin E dan C, vitamin B kompleks, serta enzim, seperti glukosa oksidase dan invertase yang membantu proses metabolisme gula agar lebih mudah diserap tubuh. Tak heran, madu sejak lama digunakan sebagai bagian dari perawatan kesehatan, mulai dari menjaga kebugaran hingga membantu proses pemulihan luka.
Bagi sebagian orang, warisan herbal, seperti madu, kembali dilirik ketika tubuh memberi sinyal tertentu. Hal itulah yang dialami Alula Hasbi (32), ibu rumah tangga asal Majalengka, Jawa Barat. Perjalanannya bermula dari keluhan yang ia alami selama bertahun-tahun.
“Awalnya saya tidak haid selama lima tahun. Saya ke puskesmas dengan niat konsultasi supaya bisa haid lagi,” ujar Alula saat dihubungi Kompas.com, Rabu (21/1/2026).
Setelah menjalani pemeriksaan lanjutan, termasuk USG, dokter menyampaikan keberadaan kista di rahimnya. Ia sempat mendapatkan obat untuk melancarkan haid. Namun, setelah obat habis, perubahan yang diharapkan belum juga datang.
Baca juga: Dorong Capaian SDGs, ITS Gelar Pemeriksaan Gratis Deteksi Kanker untuk Perempuan
Di tengah rasa khawatir, Alula tetap menjalani pemeriksaan medis. Pada saat yang sama, ia juga berbagi cerita dengan lingkungan sekitarnya. Dari sana, ia mulai kembali melirik pendekatan alami yang sebenarnya tidak asing baginya.
“Saya memang sering minum rebusan jahe, kunyit, lengkuas, serai, cengkeh, kayu manis, dan madu untuk menjaga daya tahan,” katanya.
Bagi Alula, konsumsi herbal bukan hal baru. Ia kemudian memutuskan menambahkan madu herbal sebagai bagian dari rutinitasnya sembari tetap memantau kondisi kesehatan lewat pemeriksaan dokter.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya