Imam menilai, longsor di Cisarua merupakan hasil dari interaksi faktor ilmiah kompleks dengan berbagai ulah manusia.
Interaksi itu menghasilkan mekanisme aliran lumpur (mudflow) dan dipicu oleh kejadian longsoran di bagian hulu sistem alirannya.
Lingkungan geologi wilayah Kabupaten Bandung Barat berada pada produk-produk vulkanik tua, yang secara alamiah memiliki lapisan pelapukan relatif tebal.
Batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar relatif lebih kedap air sering kali menjadi bidang gelincirnya, yang semakin diperlemah oleh hujan dalam durasi panjang.
Ketika air hujan meresap dan mengisi pori-pori tanah hingga jenuh, kekuatan geser material pembentuk lereng akan menurun drastis. Pada kondisi inilah, kata dia, lereng sering tidak lagi mampu menahan beratnya sendiri.
Selain durasi, intensitas hujan juga menjadi pemicu longsor. Meski berintensitas sedang, jika hujan tersebut berlangsung lama, risiko bahayanya sama saja dengan kategori sangat lebat dalam durasi yang singkat.
Baca juga:
Dalam longsor Cisarua, Imam mengungkapkan adanya indikasi longsoran di hulu salah satu sungai pada sistem lereng selatan Gunung Burangrang, yang menutup alur alirannya dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam).
Aliran air yang tertahan sementara dan membentuk genangan di bagian hulu menutup alur sungai. Hal ini diperparah dengan akumulasi sedimen berupa lumpur, pasir, dan bongkahan batu.
Saat tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, bendungan alam ini jebol dan memicu aliran lumpur (mudflow) ke arah hilir mengikuti jalur sungai yang ada.
Bukan sekadar air, aliran lumpur kerap membawa bongkah-bongkah batu dan ranting-ranting kayu, bergerak cepat dengan daya kerusakan yang semakin dahsyat.
Sebagai informasi, longsor terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, pada Sabtu (24/1/2026) dini hari.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri melaporkan telah berhasil mengidentifikasi 27 jenazah dari total 43 kantong mayat yang dievakuasi dari timbunan lumpur, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (27/1/2026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya