Sebelumnya, Dosen Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (STMKG), Rista Hernandi Virgianto menganggap, luasan RTH di Jakarta perlu dikaji ulang agar bisa berkontribusi dalam mengurangi banjir di tengah cuaca ekstrem akibat krisis iklim.
Apalagi, pembangunan secara masif terjadi di kota/kabupaten penyangga Jakarta, yang kondisi datarannya lebih tinggi.
Oleh karena itu, masyarakat Jakarta perlu mengoptimalkan infrastruktur eksisting yang dapat meminimalisasi dampaknya.
Misalnya, memastikan saluran-saluran yang sudah ada benar-benar bisa mengalirkan air dengan membersihkan lumpur atau endapan material-material dari banjir lainnya supaya tidak terjadi pendangkalan.
Tak hanya itu, mengelola sampah di lingkungan sekitar untuk mencegah ada yang menyumbang saluran air.
Sebaiknya, setiap membangun gedung atau perumahan baru di atas seluruh lahan yang tersedia. Sudah sepatutnya memikirkan komposisi lahan terbuka dan luas untuk sumur resapan.
Hujan sangat lebat akibat cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim akan lebih sering ke depannya. Jika tidak ada perbaikan di Jakarta, banjir kemungkinan akan semakin lama surutnya.
Baca juga:
Selain itu, Rista mengkhawatikan risiko penurunan permukaan tanah (land subsidence) di Jakarta yang masih terus terjadi setiap tahun. Pengambilan air tanah secara berlebihan mempercepat laju penurunan permukaan tanah.
Di Jakarta, pengambilan air tanah untuk permukiman yang semakin padat dan lebih banyak lagi diperuntukkan bagi pembangunan gedung-gedung pencakar langit, apartemen, atau perkantoran.
"Nanti dampak ketika banjir itu akan terjadi lebih terasa ketika daerah laut itu pasang gitu. Jadi, kita akan membendung laut terus-menerus. Kalau nanti masuk jalan-jalan ke bagian utara Jakarta ya, itu ada tembok yang sekarang itu jalanan dengan air laut. Itu lebih tinggi air laut. Iya, jadi yang saya khawatirkan adalah jangan sampai Jakarta ini tenggelam karena memang turun terus kondisi permukaan tanah Jakarta," ujar Rista kepada Kompas.com, Jumat (23/1/2026).
Kombinasi antara limpasan akibat Jakarta, ditambah daerah-daerah penyangganya, tidak mampu menyerap banyak air hujan ke dalam tanah.
Penurunan permukaan tanah pun akan meluas, sekaligus memperbesar dampak banjir.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya