Terdapat tiga pendekatan utama dalam memitigasi bahaya aliran lumpur (mudflow) atau pun aliran debris (debris flow).
Pertama, menstabilkan lereng di bagian hulu. Khususnya, di lereng-lereng yang berpotensi longsor sebagai sumber material, yang bahkan bisa menutup alur-alur sungai.
Kedua, pemantauan jalur aliran (flow track) memakai berbagai teknologi, di antaranya geofon, sensor getaran, dan kamera pemantau untuk mendeteksi pergerakan material sejak dini.
Selanjutnya, ketiga, perlindungan di bagian jalur aliran hingga hilir melalui pembangunan struktur penghalang aliran lumpur, tanggul pengelak, pagar pemecah aliran, dan cekungan penampung aliran.
Menurut Imam, material sedimen yang terbawa aliran yang mempunyai daya rusak jauh lebih kuat daripada airnya. Oleh karena itu, sistem mitigasi longsor susulan perlu difokuskan pada pengendalian sedimennya.
"(Mitigasi) Jadi sulit (kalau) enggak tahu ilmunya dan mau atau enggak maunya saja. Mitigasi (yang utama) bisa (dilakukan dengan) intervensi di sumber materialnya sehingga nanti enggak terjadi pembendungan aliran sungai oleh proses longsoran di bagian hulu. Kemudian, intervensi juga mitigasi di bagian jalur aliran materialnya sepanjang sungai baik dengan struktur-struktur penghalang," jelas dia.
Baca juga:
LONGSOR CISARUA: Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi.
Di sisi lain, mitigasi longsor susulan perlu diintegrasikan dengan sosialisasi kepada masyarakat terdampak.
Kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda alam juga penting untuk menjadi langkah mitigasi non-struktural.
Misalnya, indikator menyusut atau hilangnya aliran air sungai secara tiba-tiba saat hujan masih berlangsung yang kerap diabaikan. Padahal hal tersebut bisa menandakan adanya sumbatan atau pembendungan di bagian hulu.
Imam berharap masyarakat lebih memahami risiko aliran bermuatan lumpur hingga sedimen pada kawasan hulu yang dapat terjadi tanpa adanya tanpa visual jelas di area permukiman.
"Rumah penduduk atau perkebunan bisa dipasang dinding-dinding untuk mengelakkan aliran materalnya. Penduduk perlu memahami bahwa mereka itu tinggal di daerah rawan bencana. Mereka harus memahami bagaimana ciri-cirinya, kalau model aliran lumpur, biasanya sungai terbendung dan posisinya hujan, nah itu (malah) jadi surut, mestinya (mengungsi)," tutur Imam.
"Tapi ini kan (berlangsung) malam hari (saat) penduduk tidur semua ya, enggak ada yang lihat. Tapi kalau siang kita bisa tahu itu, sungainya kok enggak ada air mengalir, padahal hujan di hulunya kan. Nah, itu biasanya nanti diikuti oleh aliran yang masif dan dahsyat," tambah dia.
Sebagai informasi, longsor di Cisarua terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari. Data terbaru dari posko penanganan bencana mencatat jumlah warga terdampak longsor bertambah menjadi 155 jiwa.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 75 orang dilaporkan selamat, sedangkan 80 orang dinyatakan hilang.
Dari 80 warga yang dilaporkan hilang, sebanyak 48 orang telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (27/1/2026).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya