Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada Longsor Susulan di Cisarua, Pakar ITB Jelaskan Langkah Mitigasi

Kompas.com, 28 Januari 2026, 11:04 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Mitigasi longsor

Terdapat tiga pendekatan utama dalam memitigasi bahaya aliran lumpur (mudflow) atau pun aliran debris (debris flow).

Pertama, menstabilkan lereng di bagian hulu. Khususnya, di lereng-lereng yang berpotensi longsor sebagai sumber material, yang bahkan bisa menutup alur-alur sungai.

Kedua, pemantauan jalur aliran (flow track) memakai berbagai teknologi, di antaranya geofon, sensor getaran, dan kamera pemantau untuk mendeteksi pergerakan material sejak dini.

Selanjutnya, ketiga, perlindungan di bagian jalur aliran hingga hilir melalui pembangunan struktur penghalang aliran lumpur, tanggul pengelak, pagar pemecah aliran, dan cekungan penampung aliran.

Menurut Imam, material sedimen yang terbawa aliran yang mempunyai daya rusak jauh lebih kuat daripada airnya. Oleh karena itu, sistem mitigasi longsor susulan perlu difokuskan pada pengendalian sedimennya.

"(Mitigasi) Jadi sulit (kalau) enggak tahu ilmunya dan mau atau enggak maunya saja. Mitigasi (yang utama) bisa (dilakukan dengan) intervensi di sumber materialnya sehingga nanti enggak terjadi pembendungan aliran sungai oleh proses longsoran di bagian hulu. Kemudian, intervensi juga mitigasi di bagian jalur aliran materialnya sepanjang sungai baik dengan struktur-struktur penghalang," jelas dia.

Baca juga:

LONGSOR CISARUA: Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi.ANTARA FOTO/Abdan Syakura LONGSOR CISARUA: Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi.

Di sisi lain, mitigasi longsor susulan perlu diintegrasikan dengan sosialisasi kepada masyarakat terdampak.

Kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda alam juga penting untuk menjadi langkah mitigasi non-struktural.

Misalnya, indikator menyusut atau hilangnya aliran air sungai secara tiba-tiba saat hujan masih berlangsung yang kerap diabaikan. Padahal hal tersebut bisa menandakan adanya sumbatan atau pembendungan di bagian hulu.

Imam berharap masyarakat lebih memahami risiko aliran bermuatan lumpur hingga sedimen pada kawasan hulu yang dapat terjadi tanpa adanya tanpa visual jelas di area permukiman.

"Rumah penduduk atau perkebunan bisa dipasang dinding-dinding untuk mengelakkan aliran materalnya. Penduduk perlu memahami bahwa mereka itu tinggal di daerah rawan bencana. Mereka harus memahami bagaimana ciri-cirinya, kalau model aliran lumpur, biasanya sungai terbendung dan posisinya hujan, nah itu (malah) jadi surut, mestinya (mengungsi),"  tutur Imam.

"Tapi ini kan (berlangsung) malam hari (saat) penduduk tidur semua ya, enggak ada yang lihat. Tapi kalau siang kita bisa tahu itu, sungainya kok enggak ada air mengalir, padahal hujan di hulunya kan. Nah, itu biasanya nanti diikuti oleh aliran yang masif dan dahsyat," tambah dia.

Sebagai informasi, longsor di Cisarua terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari. Data terbaru dari posko penanganan bencana mencatat jumlah warga terdampak longsor bertambah menjadi 155 jiwa.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 75 orang dilaporkan selamat, sedangkan 80 orang dinyatakan hilang. 

Dari 80 warga yang dilaporkan hilang, sebanyak 48 orang telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (27/1/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Dianggap Boros Emisi, Perjalanan Udara Presiden FIFA di Piala Dunia Tuai Protes
Pemerintah
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Ekonom IPB: Pembangunan Terlalu Fokus pada Angka, Abaikan Aspek Moral dan Tata Kelola
Pemerintah
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Mayoritas Pemimpin Bisnis Cemas Transisi Iklim Berjalan Kacau
Pemerintah
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
PBB Desak Raksasa Teknologi Transparan Soal Dampak Lingkungan dari AI
Pemerintah
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
Dari Gang Sempit di Jakarta, Seorang ASN Bangun Ekonomi Sirkular yang Turut Hidupi Warga
LSM/Figur
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Konsorsium Tiga Media di Asia Tenggara Kerja Sama untuk Perkuat ESG
Pemerintah
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
Menilik Upaya BNI dalam Mendorong Pemerataan Pendidikan di Tanah Air
BUMN
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Survei KPMG: 4 dari 5 Perusahaan Bingung Ukur Nilai Ekonomi Bisnis Berkelanjutan
Pemerintah
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
BNPB Catat Banjir-Kekeringan Landa Sejumlah Wilayah, Ribuan Orang Terdampak
Pemerintah
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Ilusi Lahan Baru di Tengah Deforestasi
Pemerintah
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Regulasi ESG di Indonesia Belum Penuhi Aspek yang Dipersyaratkan Pasar Global
Pemerintah
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Krisis Iklim Rusak Keanekaragaman Hayati Mikroba Sungai
Pemerintah
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
BRIN dan YKAN Uji Pembakaran Gambut Terkendali untuk Perbaiki Akurasi Data Emisi Nasional
LSM/Figur
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
Paparan Suhu Panas Ekstrem Global Naik 22 Persen, Apa Dampaknya?
LSM/Figur
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
PBB Peringatkan AI Perparah Bias Gender dan Kekerasan di Dunia Maya
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau