Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspada Longsor Susulan di Cisarua, Pakar ITB Jelaskan Langkah Mitigasi

Kompas.com, 28 Januari 2026, 11:04 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Achmad Sadisun mengingatkan potensi bahaya longsor susulan di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Menurut dia, ada indikasi longsoran di hulu salah satu sungai di sistem lereng selatan Gunung Burangrang, yang menutup alur alirannya dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam).

Baca juga:

Potensi bahaya longsor susulan di Cisarua, Bandung Barat

Aliran lumpur kerap membawa bongkah batu dan ranting

Aliran air yang tertahan sementara dan membentuk genangan di bagian hulu menutup alur sungai. Kondisi ini diperparah dengan akumulasi sedimen berupa lumpur, pasir, dan bongkah batu.

Saat tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, bendungan alam ini bisa jebol dan memicu aliran lumpur (mudflow) ke arah hilir mengikuti jalur sungai yang ada.

Bukan sekadar air, aliran lumpur kerap membawa bongkah-bongkah batu dan ranting-ranting kayu, bergerak cepat dengan daya kerusakan yang semakin dahsyat.

Baca juga:

Area masih tetap berisiko tinggi

Foto udara tim SAR gabungan melakukan pencarian korban bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi. ANTARA FOTO/Abdan Syakura Foto udara tim SAR gabungan melakukan pencarian korban bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi.

Dari karakternya, kata Imam, aliran air semacam itu mempunyai daya rusak yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang biasanya dijumpai.

Sebab, aliran tersebut memuat sedimen dalam jumlah sangat besar. Akibatnya, kejadian longsor di Cisarua dapat dikategorikan sebagai aliran lumpur (mudflow) atau bahkan bisa menjadi aliran debris (debris flow).

Itulah mengapa terdapat kerusakan parah sepanjang jalur alirannya atau yang berada di kawasan bantaran sungai, meski wilayahnya tidak secara langsung terletak di zona sumber longsoran. 

Imam memperingatkan risiko bahaya dari longsoran susulan yang terindikasi dari indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai.

Jika hujan dengan intensitas tinggi terulang, akumulasi air berpotensi mendobrak sumbatan-sumbatan tersebut dan kembali memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir.

Kendati mayoritas wilayah terdampak berada pada zona kerentanan longsoran yang relatif rendah hingga menengah secara regional, kata dia, area itu masih tetap berisiko tinggi.

Khususnya, lokasi permukiman yang berada di sempadan sungai berisiko tinggi dilanda aliran lumpur dan aliran debris dari bagian hulu. 

Hal itu mengingat bahaya longsor tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah itu berada, melainkan bisa pula datang dari sistem aliran yang terhubung langsung dengan lereng terjal di bagian hulunya.

"Jadi memang yang perlu diwaspadai adalah penduduk-penduduk yang dilintasi material yang mengalir dari lereng Gunung Bularangrang, dengan lumpur sampai batu-batu lah, yang menghantam area perkebunan dan pemukiman penduduk. Itu yang memang harus hati-hatilah penduduknya," ujar Imam kepada Kompas.com, Selasa (27/1/2026).

Mitigasi longsor

 Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengerahkan 8 unit untuk mendukung percepatan penanganan darurat dan evakuasi korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.Dok. Kementerian PU Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengerahkan 8 unit untuk mendukung percepatan penanganan darurat dan evakuasi korban longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi Jawa Barat.

Terdapat tiga pendekatan utama dalam memitigasi bahaya aliran lumpur (mudflow) atau pun aliran debris (debris flow).

Pertama, menstabilkan lereng di bagian hulu. Khususnya, di lereng-lereng yang berpotensi longsor sebagai sumber material, yang bahkan bisa menutup alur-alur sungai.

Kedua, pemantauan jalur aliran (flow track) memakai berbagai teknologi, di antaranya geofon, sensor getaran, dan kamera pemantau untuk mendeteksi pergerakan material sejak dini.

Selanjutnya, ketiga, perlindungan di bagian jalur aliran hingga hilir melalui pembangunan struktur penghalang aliran lumpur, tanggul pengelak, pagar pemecah aliran, dan cekungan penampung aliran.

Menurut Imam, material sedimen yang terbawa aliran yang mempunyai daya rusak jauh lebih kuat daripada airnya. Oleh karena itu, sistem mitigasi longsor susulan perlu difokuskan pada pengendalian sedimennya.

"(Mitigasi) Jadi sulit (kalau) enggak tahu ilmunya dan mau atau enggak maunya saja. Mitigasi (yang utama) bisa (dilakukan dengan) intervensi di sumber materialnya sehingga nanti enggak terjadi pembendungan aliran sungai oleh proses longsoran di bagian hulu. Kemudian, intervensi juga mitigasi di bagian jalur aliran materialnya sepanjang sungai baik dengan struktur-struktur penghalang," jelas dia.

Baca juga:

LONGSOR CISARUA: Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi.ANTARA FOTO/Abdan Syakura LONGSOR CISARUA: Foto udara kondisi lahan pertanian dan rumah warga yang terdampak bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi.

Di sisi lain, mitigasi longsor susulan perlu diintegrasikan dengan sosialisasi kepada masyarakat terdampak.

Kesadaran masyarakat terhadap tanda-tanda alam juga penting untuk menjadi langkah mitigasi non-struktural.

Misalnya, indikator menyusut atau hilangnya aliran air sungai secara tiba-tiba saat hujan masih berlangsung yang kerap diabaikan. Padahal hal tersebut bisa menandakan adanya sumbatan atau pembendungan di bagian hulu.

Imam berharap masyarakat lebih memahami risiko aliran bermuatan lumpur hingga sedimen pada kawasan hulu yang dapat terjadi tanpa adanya tanpa visual jelas di area permukiman.

"Rumah penduduk atau perkebunan bisa dipasang dinding-dinding untuk mengelakkan aliran materalnya. Penduduk perlu memahami bahwa mereka itu tinggal di daerah rawan bencana. Mereka harus memahami bagaimana ciri-cirinya, kalau model aliran lumpur, biasanya sungai terbendung dan posisinya hujan, nah itu (malah) jadi surut, mestinya (mengungsi),"  tutur Imam.

"Tapi ini kan (berlangsung) malam hari (saat) penduduk tidur semua ya, enggak ada yang lihat. Tapi kalau siang kita bisa tahu itu, sungainya kok enggak ada air mengalir, padahal hujan di hulunya kan. Nah, itu biasanya nanti diikuti oleh aliran yang masif dan dahsyat," tambah dia.

Sebagai informasi, longsor di Cisarua terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari. Data terbaru dari posko penanganan bencana mencatat jumlah warga terdampak longsor bertambah menjadi 155 jiwa.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 75 orang dilaporkan selamat, sedangkan 80 orang dinyatakan hilang. 

Dari 80 warga yang dilaporkan hilang, sebanyak 48 orang telah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (27/1/2026).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
PLTS Atap Dinilai Bisa Perkuat Keandalan Listrik, Kebijakan Kuota Diminta Direvisi
LSM/Figur
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
Area Berisiko Banjir di Kota Semarang Diproyeksikan Bertambah 2.162 Hektare pada 2039
LSM/Figur
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
ITS Kembangkan Teknologi PLTS Terintegrasi, Efisiensi Daya Bisa Naik 750 Persen
LSM/Figur
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
Kupu-Kupu Berpindah Habitat, Ahli Ingatkan Ancaman Krisis Ekosistem
LSM/Figur
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
Eksploitasi Air Tanah Persulit Mangrove Bantu Selamatkan Kawasan Pesisir
LSM/Figur
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Antisipasi Ancaman Mikroplastik, Pelaku Bisnis Didesak Segera Bertindak
Pemerintah
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
ICEL: Pengawasan Tambang Rentan Lumpuh Tanpa Transparansi Dokumen Lingkungan
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau