KOMPAS.com - Pakar geologi longsoran Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Achmad Sadisun mengingatkan potensi bahaya longsor susulan di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.
Menurut dia, ada indikasi longsoran di hulu salah satu sungai di sistem lereng selatan Gunung Burangrang, yang menutup alur alirannya dan membentuk sumbatan atau bendungan alam (landslide dam).
Baca juga:
Aliran air yang tertahan sementara dan membentuk genangan di bagian hulu menutup alur sungai. Kondisi ini diperparah dengan akumulasi sedimen berupa lumpur, pasir, dan bongkah batu.
Saat tidak lagi mampu menahan tekanan air dalam volume tertentu, bendungan alam ini bisa jebol dan memicu aliran lumpur (mudflow) ke arah hilir mengikuti jalur sungai yang ada.
Bukan sekadar air, aliran lumpur kerap membawa bongkah-bongkah batu dan ranting-ranting kayu, bergerak cepat dengan daya kerusakan yang semakin dahsyat.
Baca juga:
Foto udara tim SAR gabungan melakukan pencarian korban bencana tanah longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (26/1/2026). Berdasarkan data tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat hingga Senin (26/1) pukul 16.57 WIB, jumlah korban bencana tanah longsor yang berhasil ditemukan sebanyak 34 jenazah dan 20 diantaranya telah berhasil diidentifikasi. Dari karakternya, kata Imam, aliran air semacam itu mempunyai daya rusak yang jauh lebih tinggi dibandingkan yang biasanya dijumpai.
Sebab, aliran tersebut memuat sedimen dalam jumlah sangat besar. Akibatnya, kejadian longsor di Cisarua dapat dikategorikan sebagai aliran lumpur (mudflow) atau bahkan bisa menjadi aliran debris (debris flow).
Itulah mengapa terdapat kerusakan parah sepanjang jalur alirannya atau yang berada di kawasan bantaran sungai, meski wilayahnya tidak secara langsung terletak di zona sumber longsoran.
Imam memperingatkan risiko bahaya dari longsoran susulan yang terindikasi dari indikasi sumbatan-sumbatan di bagian hulu sungai.
Jika hujan dengan intensitas tinggi terulang, akumulasi air berpotensi mendobrak sumbatan-sumbatan tersebut dan kembali memicu aliran lumpur yang membahayakan wilayah hilir.
Kendati mayoritas wilayah terdampak berada pada zona kerentanan longsoran yang relatif rendah hingga menengah secara regional, kata dia, area itu masih tetap berisiko tinggi.
Khususnya, lokasi permukiman yang berada di sempadan sungai berisiko tinggi dilanda aliran lumpur dan aliran debris dari bagian hulu.
Hal itu mengingat bahaya longsor tidak selalu berasal dari lereng tempat rumah itu berada, melainkan bisa pula datang dari sistem aliran yang terhubung langsung dengan lereng terjal di bagian hulunya.
"Jadi memang yang perlu diwaspadai adalah penduduk-penduduk yang dilintasi material yang mengalir dari lereng Gunung Bularangrang, dengan lumpur sampai batu-batu lah, yang menghantam area perkebunan dan pemukiman penduduk. Itu yang memang harus hati-hatilah penduduknya," ujar Imam kepada Kompas.com, Selasa (27/1/2026).
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya