Primata berukuran kecil yang hanya hidup di Pulau Sangihe ini merupakan satu dari 12 jenis tarsius yang ada di dunia.
Sebagai primata nokturnal karnivora, tarsius sangihe memangsa serangga dan menunjukkan morfologi khas, seperti mata besar, ekor panjang, dan kemampuan memutar kepala hampir 180 derajat.
Saat ini, populasi tarsius sangihe diperkirakan hanya sekitar 464 individu, sudah dikategorikan sebagai Endangered (terancam) oleh IUCN dan termasuk satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia.
Laporan daftar primata sangat terancam itu dipublikasikan oleh IUCN SSC Primate Specialist Group, International Primatological Society dan Re:wild, baru-baru ini.
Laporan tersebut memuat lebih dari 100 hasil penelitian pakar primata dan edisi ke-12 dari daftar yang dirilis setiap dua tahun ini, mengidentifikasi spesies primata paling membutuhkan tindakan konservasi.
Baca juga:
Dua individu orangutan Tapanuli tampak sedang memakan petai di kawasan hutan Batang Toru, beberapa waktu lalu. Petai adalah salah satu dari 124 jenis pakan yang disukainya. Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna menilai, primata berperan penting dalam ekosistem sebagai agen penyebar biji (seed disperser) utama.
Primata memastikan berlangsungnya regenerasi dan menjaga keragaman spesies di hutan hujan tropis.
Keberadaan primata bisa menjadi indikator kesehatan ekosistem. Melalui pola makan frugivora, primata menanam kembali hutan secara alami, mengendalikan populasi serangga, serta menunjang siklus hara tanah.
Menurut Dolly, saat ini keberadaan primata di Indonesia menghadapi ancaman serius yang mengarah pada kepunahan. Khususnya, disebabkan deforestasi masif, konversi lahan, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal.
Fragmentasi hutan mengisolasi populasi di saat konflik manusia-primata meningkat karena berkurangnya ruang hidup.
Indonesia telah melakukan berbagai inisiatif untuk mewujudkan pelestarian primata dan habitatnya, seperti patroli perlindungan habitat, pusat rehabilitasi dan pelepasliaran, serta penyadartahuan dan edukasi.
Ia berharap peringatan Hari Primata Indonesia pada 30 Januari lalu dapat menjadi momentum kolaborasi multipihak dengan konsep pentahelix untuk mendukung program pelestarian maupun perlindungan primata beserta habitatnya.
Konsep tersebut menggabungkan peran akademisi, sektor bisnis, komunitas, pemerintah, dan media.
"Dengan melibatkan berbagai pihak, konsep pentahelix dapat digunakan untuk mencari pendekatan inovatif dan efektif guna meningkatkan pengembangan dan implementasi program pelestarian dan perlindungan primata beserta habitatnya di Indonesia. Tentu saja butuh koordinasi yang baik, juga komitmen tinggi, dari berbagai pihak sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing," ujar Dolly dalam keteragan tertulis, Jumat (30/1/2026).
Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman jenis primata tertinggi di dunia merujuk pada Mammal Diversity Database tahun 2025. Indonesia memiliki 66 jenis atau setara dengan 12,8 persen dari primata yang ada di dunia.
Jumlah jenis primata di Indonesia menempati urutan ketiga setelah Brasil dan Madagaskar, yang tersebar di empat pulau besar yaitu, Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi.
Berdasarkan daftar merah IUCN, dari 66 jenis primata Indonesia, terdapat 12 jenis berstatus Critically Endangered atau kritis, 25 jenis berstatus Endangered (terancam), 26 jenis berstatus Vulnerable (rentan), satu jenis berstatus Near Threatened (hampir terancam), serta dua jenis masih Data Deficient (informasi kurang).
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya