Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

4 Jenis Primata yang Terancam Punah di Indonesia, Ada Orangutan

Kompas.com, 31 Januari 2026, 10:51 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

4. Tarsius sangihe (Tarsius sangirensis)

Primata berukuran kecil yang hanya hidup di Pulau Sangihe ini merupakan satu dari 12 jenis tarsius yang ada di dunia.

Sebagai primata nokturnal karnivora, tarsius sangihe memangsa serangga dan menunjukkan morfologi khas, seperti mata besar, ekor panjang, dan kemampuan memutar kepala hampir 180 derajat.

Saat ini, populasi tarsius sangihe diperkirakan hanya sekitar 464 individu, sudah dikategorikan sebagai Endangered (terancam) oleh IUCN dan termasuk satwa dilindungi oleh pemerintah Indonesia.

Laporan daftar primata sangat terancam itu dipublikasikan oleh IUCN SSC Primate Specialist Group, International Primatological Society dan Re:wild, baru-baru ini.

Laporan tersebut memuat lebih dari 100 hasil penelitian pakar primata dan edisi ke-12 dari daftar yang dirilis setiap dua tahun ini, mengidentifikasi spesies primata paling membutuhkan tindakan konservasi.

Baca juga:

Apa peran primata dalam ekosistem?

Dua individu orangutan Tapanuli tampak sedang memakan petai di kawasan hutan Batang Toru, beberapa waktu lalu. Petai adalah salah satu dari 124 jenis pakan yang disukainya. Balai Litbang LHK Aek Nauli, Wanda Kuswanda Dua individu orangutan Tapanuli tampak sedang memakan petai di kawasan hutan Batang Toru, beberapa waktu lalu. Petai adalah salah satu dari 124 jenis pakan yang disukainya.

Direktur Eksekutif Belantara Foundation, Dolly Priatna menilai, primata berperan penting dalam ekosistem sebagai agen penyebar biji (seed disperser) utama.

Primata memastikan berlangsungnya regenerasi dan menjaga keragaman spesies di hutan hujan tropis.

Keberadaan primata bisa menjadi indikator kesehatan ekosistem. Melalui pola makan frugivora, primata menanam kembali hutan secara alami, mengendalikan populasi serangga, serta menunjang siklus hara tanah.

Menurut Dolly, saat ini keberadaan primata di Indonesia menghadapi ancaman serius yang mengarah pada kepunahan. Khususnya, disebabkan deforestasi masif, konversi lahan, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal.

Fragmentasi hutan mengisolasi populasi di saat konflik manusia-primata meningkat karena berkurangnya ruang hidup.

Indonesia telah melakukan berbagai inisiatif untuk mewujudkan pelestarian primata dan habitatnya, seperti patroli perlindungan habitat, pusat rehabilitasi dan pelepasliaran, serta penyadartahuan dan edukasi.

Ia berharap peringatan Hari Primata Indonesia pada 30 Januari lalu dapat menjadi momentum kolaborasi multipihak dengan konsep pentahelix untuk mendukung program pelestarian maupun perlindungan primata beserta habitatnya.

Konsep tersebut menggabungkan peran akademisi, sektor bisnis, komunitas, pemerintah, dan media.

"Dengan melibatkan berbagai pihak, konsep pentahelix dapat digunakan untuk mencari pendekatan inovatif dan efektif guna meningkatkan pengembangan dan implementasi program pelestarian dan perlindungan primata beserta habitatnya di Indonesia. Tentu saja butuh koordinasi yang baik, juga komitmen tinggi, dari berbagai pihak sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing," ujar Dolly dalam keteragan tertulis, Jumat (30/1/2026).

Primata di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman jenis primata tertinggi di dunia merujuk pada Mammal Diversity Database tahun 2025. Indonesia memiliki 66 jenis atau setara dengan 12,8 persen dari primata yang ada di dunia.

Jumlah jenis primata di Indonesia menempati urutan ketiga setelah Brasil dan Madagaskar, yang tersebar di empat pulau besar yaitu, Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Sulawesi.

Berdasarkan daftar merah IUCN, dari 66 jenis primata Indonesia, terdapat 12 jenis berstatus Critically Endangered atau kritis, 25 jenis berstatus Endangered (terancam), 26 jenis berstatus Vulnerable (rentan), satu jenis berstatus Near Threatened (hampir terancam), serta dua jenis masih Data Deficient (informasi kurang).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mengenal Cemara Laut, Sang Penjaga Pantai yang Kerap Terlupakan
Mengenal Cemara Laut, Sang Penjaga Pantai yang Kerap Terlupakan
LSM/Figur
Ekonomi Hijau Global Makin Meroket, Nilainya Tembus  Rp178.600 Triliun
Ekonomi Hijau Global Makin Meroket, Nilainya Tembus Rp178.600 Triliun
Pemerintah
Rekor Baru, Gelombang Panas Eropa Catat Suhu dan Kelembapan Tertinggi
Rekor Baru, Gelombang Panas Eropa Catat Suhu dan Kelembapan Tertinggi
Pemerintah
UMKM Perlu Mulai Perhatikan Aspek Keberlanjutan
UMKM Perlu Mulai Perhatikan Aspek Keberlanjutan
Swasta
CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital
CRC Dorong Pendekatan Baru untuk Perkuat Ketahanan Kota di Era Digital
Swasta
IPB University Pamerkan Inovasi Hasil Riset untuk Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo
IPB University Pamerkan Inovasi Hasil Riset untuk Petani dan Nelayan di PENAS XVII Gorontalo
Pemerintah
Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Tak Pandang Usia, Gelombang Panas Ancam Kesehatan Orang Muda dan Tua
Pemerintah
Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Pusat Data Kini Makin Sering Digugat Secara Hukum Akibat Isu Iklim
Pemerintah
Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Komunitas Properti dan Konstruksi Bersinergi Dukung Perbaikan Fasilitas Pendidikan
Swasta
Kecepatan Adaptasi Tentukan Nasib Mahluk Hidup di Bumi, Kok Bisa?
Kecepatan Adaptasi Tentukan Nasib Mahluk Hidup di Bumi, Kok Bisa?
LSM/Figur
Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan
Terjebak Urusan Domestik Tanpa Gaji, Hambat Karier Jutaan Perempuan
Pemerintah
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
Melihat Budi Daya Ikan Ramah Lingkungan di Gang Sempit Ibukota
LSM/Figur
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
Ketergantungan Penduduk di Asia pada Pendingin Ruangan Bisa Perburuk Krisis Iklim
LSM/Figur
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Denmark Usulkan Harga Tiket Pesawat Naik untuk Tekan Emisi Penerbangan
Pemerintah
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
Kelompok Tani Sinar Cabe Raup Omzet Rp 30 Juta Per Bulan dari Kebun Buah Naga
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau