KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) memimpin kenaikan pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) baru secara global, yang berkontribusi terhadap lonjakan emisi gas rumah kaca (GRK).
Listrik dari PLTG baru untuk perluasan bisnis pusat data yang melayani AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) yang boros energi, akan memperparah pemanasan global.
Baca juga:
Berdasarkan laporan dari Global Energy Monitor (GEM), tahun 2026 diprediksi akan memecahkan rekor tahunan untuk penambahan PLTG baru di seluruh dunia, dilansir dari The Guardian, Sabtu (31/1/2026).
Proyek-proyek yang sedang dikembangkan diperkirakan akan meningkatkan kapasitas gas global yang ada hingga hampir 50 persen.
Di garis depan, AS akan mendorong negara-negara untuk menggunakan PLTG baru dan diperkirakan permintaannya akan naik dalam lima tahun ke depan.
Mayoritas kapasitas baru dikhususkan untuk AI, dengan sepertiga dari 252 gigawatt tenaga gas yang sedang dikembangkan akan ditempatkan di lokasi pusat data.
Proyek-proyek PLTG baru sedang dikembangkan di AS. jika semuanya selesai, akan menyebabkan emisi karbon dioksida sebesar 12,1 miliar ton selama masa operasionalnya.
Jumlah tersebut sebanyak dua kali lipat emisi tahunan saat ini dari semua sumber di AS. Padahal, listrik dari PLTG baru akan berdampak secara signifikan terhadap krisis iklim.
Amerika Serikat memimpin penambahan PLTG baru dunia untuk pusat data AI. Proyek ini berisiko melipatgandakan emisi GRK.Di seluruh dunia, ledakan produksi gas yang direncanakan akan menyebabkan emisi karbon dioksida sebesar 53,2 miliar ton selama masa operasional proyek jika terwujud.
Kondisi akan membawa bumi menuju gelombang panas, kekeringan, banjir, dan dampak iklim lainnya yang lebih buruk.
“Membangun PLTG baru untuk memenuhi permintaan energi AI yang tidak pasti berarti mengukuhkan polusi selama beberapa dekade ke dalam sebuah pertaruhan yang sebenarnya dapat diatasi dengan energi bersih dan fleksibel,” ujar manajer proyek di pelacak pembangkit listrik minyak dan gas GEM, Jenny Martos.
Beberapa negara tetap bergantung pada bahan bakar fosil, seperti gas dan batu bara, dengan proyek-proyek yang telah diumumkan atau berada pada berbagai tahap konstruksi.
Baca juga:
China, negara penghasil emisi GRK terbesar di dunia, pada 2025, memasang PLTG dengan kapasistas 22,4 gigawatt, rekor yang pernah dicapai dalam satu tahun.
Namun, AS menyumbang hampir seperempat dari seluruh kapasitas gas global yang sedang dikembangkan, diikuti oleh China, Vietnam, Irak, dan Brasil.
Texas menjadi pusat pertumbuhannya di AS, dengan PLTG baru berkapasitas 57,9 gigawatt, yang sedang dibangun tahun lalu, mengungguli Louisiana dan Pennsylvania.
Pada tahun 2026, penambahan kapasitas gas baru diperkirakan akan melampaui rekor tahunan sebesar 100 gigawatt yang ditambahkan di AS, yang ditetapkan sejak tahun 2002.
Amerika Serikat memimpin penambahan PLTG baru dunia untuk pusat data AI. Proyek ini berisiko melipatgandakan emisi GRK.Mayoritas listrik dari PLTG baru akan diserap oleh pusat data untuk AI yang pertumbuhannya dipromosikan oleh Presiden AS, Donald Trump.
Di sisi lain, AS memblokir sejumlah proyek energi terbarukan dan meningkatkan ekspor gas alam cair secara bersamaan, yang berdampak pada kenaikan harga energi bagi rumah tangga di sana.
“Pertumbuhan pusat data yang sangat pesat dengan sedikit transparansi atau pengamanan menempatkan masyarakat pada risiko peningkatan biaya yang sangat besar,” tutur Direktur penelitian energi di Union of Concerned Scientists, Steve Clemmer.
Ia memperkirakan permintaan listrik di AS dapat melonjak 60 persen pada tahun 2050 karena adanya pusat data baru.
Selain itu, pembangkit listrik tenaga batu bara (PLTU) di Pennsylvania bagian barat yang telah ditutup, akan dihidupkan kembali sebagai fasilitas berbahan bakar gas terbesar di AS untuk melayani kompleks pusat data.
"PLTU itu merupakan bencana lingkungan, tetapi merupakan pilar ekonomi lokal dan sebagian orang merasa nostalgia terhadapnya. Namun, tidak ada yang mau tinggal di dekat pusat data. Amonia, dan baunya, dari gas akan lebih buruk daripada PLTU, dan listrik yang dihasilkan akan digunakan untuk keuntungan pribadi daripada untuk menjaga agar lampu rumah tangga tetap menyala," ucap direktur kampanye di Clean Air Council, Tom Pike.
Baca juga:
Sebelumnya, perusahaan teknologi Microsoft berjanji pusat datanya tidak mengakibatkan kenaikan harga listrik bagi masyarakat setempat.
Salah satunya, meminta perusahaan penyedia menetapkan tarif yang cukup tinggi untuk menutupi biaya listrik bagi pusat data tersebut.
Presiden Microsoft, Brad Smith mengatakan, pihaknya bisa berkolaborasi dengan penyedia lokal untuk menambah daya listrik dan infrastruktur pendukung ke jaringan listrik jika diperlukan, dikutip dari ESG Today.
Sementara itu, Open AI mulai berinvestasi langsung pada infrastruktur energi agar pusat datanya tetap bisa beroperasi tanpa mengganggu pasokan listrik masyarakat.
Setiap lokasi Stargate akan memiliki rencana komunitas yang berbeda dan disesuaikan dengan kebutuhan wilayah setempat. Setiap kebijakan disebut akan dibuat berdasarkan masukan warga lokal.
"Tergantung pada lokasi, hal ini dapat bervariasi mulai dari menyediakan pasokan listrik dan penyimpanan baru yang sepenuhnya dibiayai oleh proyek, hingga menambahkan dan membiayai sumber daya pembangkitan dan transmisi energi baru," tulis pernyataan dari OpenAI, dilansir dari Reuters.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya