Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri

Kompas.com, 12 Januari 2026, 10:46 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres memastikan kerja sama global negara anggota tetap berlanjut meski Amerika Serikat (AS) mengundurkan diri dari 66 organisasi internasional. Ia menyatakan bahwa sistem akan terus menjalankan semua mandatnya.

Diketahui, Presiden AS Donald Trump mengumumkan negaranya undur diri sebagai anggota sekaligus menghentikan pendanaan ke 31 badan PBB dan 35 organisasi non PBB.

“Perserikatan Bangsa-Bangsa memiliki tanggung jawab untuk memberikan yang terbaik bagi mereka yang bergantung pada kami. Kami akan terus menjalankan mandat kami dengan penuh tekad," kata Guterres dilansir dari UN News, Senin (12/1/2025).

Baca juga: AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi

Dia menjelaskan, anggaran organisasi disetujui Majelis Umum dan dianggap sebagai kewajiban yang mengikat bagi semua Negara Anggota, berdasarkan Piagam PBB.

Di tahun 2026, Majelis Umum menyepakati anggaran reguler sebesar 3,45 miliar dollar AS, angkanya berkurang drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Alhasil, PBB harus memangkas sumber daya keuangan hingga 15 persen dan pemotongan staf hampir 19 persen.

Adapun Memorandum Presiden yang diterbitkan Rabu (7/1/2026) mengarahkan departemen serta lembaga eksekutif AS segera mengambil langkah-langkah untuk menarik diri dari puluhan organisasi, konvensi, dan perjanjian internasional yang dianggap bertentangan dengan kepentingan negara.

Menurut memorandum AS, keputusan tersebut memengaruhi 31 badan dan entitas PBB. Badan-badan tersebut meliputi Dana Kependudukan PBB (United Nations Population Fund), yang mendukung kesehatan ibu dan anak, serta memerangi kekerasan seksual dan berbasis gender; United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), yang mendorong kerja sama global dalam memerangi perubahan iklim.

Baca juga: AS Keluar dari 66 Organisasi Internasional, Pakar Sebut Indonesia Cari Alternatif Dana Transisi Energi

Kemudian, UN Democracy Fund yang mendanai sekaligus membimbing proyek-proyek masyarakat sipil untuk demokrasi; kantor-kantor Sekretariat PBB di New York maupun kantor yang menangani anak-anak dalam konflik bersenjata dan mengakhiri kekerasan seksual sebagai senjata perang.

Daftar tersebut juga mencakup empat dari lima komisi regional PBB (Asia-Pasifik , Asia Barat , Afrika , dan Amerika Latin dan Karibia), yang merupakan platform utama untuk kerja sama multilateral.

"Bagi entitas PBB, penarikan diri berarti menghentikan partisipasi atau pendanaan kepada entitas tersebut sejauh yang diizinkan oleh hukum,” demikian bunyi memorandum tersebut.

Kemunduran Kerja Sama Iklim

Sementara itu, Sekretaris Eksekutif UNFCCC, Simon Stiell menilai langkah Trump menarik negaranta dari organisasj internasional sebagai kemunduran kerja sama iklim global.

Amerika Serikat berperan penting dalam menciptakan Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim dan Perjanjian Paris, karena keduanya sepenuhnya sesuai dengan kepentingan nasionalnya,” ungkap Stiell.

“Sementara semua negara lain melangkah maju bersama, langkah mundur terbaru dari kepemimpinan global, kerja sama iklim, dan sains ini hanya akan merugikan ekonomi, lapangan kerja, dan standar hidup AS, karena kebakaran hutan, banjir, badai besar, dan kekeringan semakin memburuk dengan cepat," imbuh dia.

Stiell menegaskan bahwa UNFCCC akan terus bekerja tanpa lelah, meski tanpa dukungan AS.

"Pintu tetap terbuka bagi AS untuk bergabung kembali di masa mendatang, seperti yang telah dilakukan di masa lalu dengan Perjanjian Paris," tutur dia.

UNFCCC adalah perjanjian yang diadopsi pada 1992, kerja sama antar negara memangkas emisi gas rumah kaca pemicu pemanasan global. Setiap anggota juga berkomitmen beradaptasi dengan dampak perubahan iklim.

Konstitusi AS mengizinkan presiden untuk membuat perjanjian dengan syarat dua pertiga Senator yang hadir menyetujuinya, namun tidak secara jelas mengatur proses penarikan diri dari perjanjian. Hal ini menjadi ambiguitas hukum yang berpotensi memicu gugatan di pengadilan.

Sebelumnya, Trump menarik AS dari Perjanjian Paris sejak kembali menjabat sebagai presiden. Hal serupa pernah ia lakukan pada masa jabatan pertamanya periode 2017–2021. Kebijakan ini kemudian dihapuskan di era Presiden Joe Biden.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
Tanpa Dukungan Kebijakan, Eliminasi Kanker Serviks Tertinggal dari Penanganan Stunting
LSM/Figur
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
PBB Pastikan Kerja Sama Global Berlanjut meski AS Tarik Diri
Pemerintah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pertama Kalinya, KNMP di Bulukumba Sulsel Ekspor Hampir 1 Ton Ikan ke Timur Tengah
Pemerintah
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Menanti 100 Tahun Pulihnya Populasi Hiu Paus, Ikan Terbesar Penghuni Nusantara
Swasta
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Belajar Mendengar Tanpa Telinga dari Segelas Kopi
Swasta
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
Respons Laporan ESDM soal Capaian Bauran EBT, IESR: Hanya Bertambah 1,3 GW
LSM/Figur
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Studi: Mayoritas Percaya Perubahan Iklim Hanya Berdampak pada Orang Lain
Pemerintah
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Studi Temukan Posisi Knalpot Pengaruhi Jumlah Polusi Udara yang Kita Hirup
Pemerintah
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Bauran EBT Sektor Listrik Lampaui Target, Kapasitasnya Bertambah 15.630 MW
Pemerintah
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Kemenhut Bersihkan 1.272 Meter Gelondongan Kayu Pasca Banjir Sumatera
Pemerintah
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
AS Bidik Minyak Venezuela, Importir Terbesar Justru Fokus Transisi Energi
Pemerintah
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
Kawasan Keanekaragaman Hayati Dunia Terancam, 85 Persen Vegetasi Asli Hilang
LSM/Figur
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Hiper-Regulasi dan Lemahnya Riset Hambat Pengembangan Energi di Indonesia
Pemerintah
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
B50 Dinilai Punya Risiko Ekonomi, IESR Soroti Beban Subsidi
LSM/Figur
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
Studi Ungkap Dampak Pemanasan Global pada Pohon, Tumbuh Lebih Lambat
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau