Penulis
KOMPAS.com - Beruang kutub di Kepulauan Svalbard, Norwegia, justru semakin gemuk di tengah mencairnya es laut akibat krisis iklim, menurut studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Scientific Reports.
Wilayah Laut Barents, tempat Svalbard berada, dikenal sebagai salah satu kawasan Arktik yang mengalami pemanasan tercepat. Es laut di wilayah ini menyusut lebih cepat dibanding daerah lain yang juga menjadi habitat beruang kutub.
Baca juga:
Peneliti utama studi ini, Jon Aars dari Norwegian Polar Institute (NPI), mengaku terkejut dengan hasil tersebut.
"Peningkatan kondisi tubuh (beruang kutub) selama periode hilangnya es laut secara signifikan merupakan suatu kejutan," kata Aars, dilansir dari AFP, Jumat (31/1/2026).
Menurutnya, temuan ini berlawanan dengan banyak penelitian sebelumnya di wilayah Arktik lain.
Beruang kutub di Svalbard, Norwegia, justru menggemuk meski krisis iklim menyebabkan beruang kutub di wilayah lain semakin mengurus. Studi ini menyebutkan, beruang kutub di Svalbard mampu bertahan dengan mengubah pola makan.
Mereka tidak hanya bergantung pada anjing laut bercincin yang biasanya diburu di es laut, tapi juga mulai memangsa hewan darat, seperti rusa kutub dan walrus.
Adapun rusa kutub dan walrus di wilayah ini mengalami pemulihan populasi setelah sebelumnya sempat dieksploitasi manusia.
Kondisi ini memberi sumber makanan baru bagi beruang kutub. Suhu yang lebih hangat juga membuat anjing laut bercincin berkumpul di area es yang lebih sempit, yang mana memudahkan perburuan.
Para ilmuwan menganalisis indeks kondisi tubuh atau body condition index (BCI) dari 770 beruang kutub dewasa. Data ini dikumpulkan selama periode 1995 hingga 2019.
Sebagai informasi, BCI digunakan untuk mengukur jumlah lemak yang dimiliki beruang.
Hasilnya menunjukkan BCI beruang kutub sempat menurun hingga tahun 2000. Setelah itu, kondisinya meningkat meskipun es laut terus menyusut dengan cepat.
Studi ini juga mencatat populasi beruang kutub di Laut Barents diperkirakan mencapai 1.900 hingga 3.600 individu pada tahun 2004. Jumlah ini kemungkinan bertambah dalam beberapa tahun berikutnya.
Baca juga:
Penelitian ini menegaskan Arktik mengalami kenaikan suhu dua hingga empat kali lebih cepat dibanding rata-rata global.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya